
Kebetulan sedang berada di dalam mall Abel mengajak Mama Riri menemaninya ke toko pakaian dalam. Abel merasa bra yang ia kenakan sudah sudah sangat sempit semenjak hamil. Mama Riri pun ikut mengekor menemani Abel ke toko pakaian dalam.
Ervan lebih memilih mengajak anak-anaknya ke area Playground anak daripada menemani para perempuan kesayangan ke toko pakaian dalam.
Berdua dengan Mama Riri, Abel mulai berkeliling toko berburu bra yang mulai sempit. Abel memilih bra dan underwear yang sekiranya muat untuk lima bulan ke depan. Kerena kata Mama Riri semakin besar kehamilan, semakin besar pula ukuran dada calon ibu menyusui.
Abel menuju meja kasir usai memilih underwear. Mama Riri datang membawa baju tidur yang tipis dan motif renda biru.
Abel mengeryitkan dahinya. "Mama pakai ini," tanya Abel menenteng belanjaan Mama Riri.
"Iya dong Kakak, Mama lihat model terbaru lucu. Membuat mata suami senang itu pahala," ucap Riri.
Abel hanya cekikikan ternyata Mama Riri ganas juga. Guman Abel dalam hati, ia jadi ingin membeli juga lingerie model terbaru. Lingerie yang ada di rumahnya modelnya begitu-begitu saja. Hanya satu model dengan warna berbeda. Apa salahnya membeli model terbaru. Apalagi sekarang ia sudah mulai bisa melakukan hubungan suami istri, meskipun hamil ia juga harus sek-si dong di depan suami supaya betah di rumah.
"Ma, Abel juga mau beli kayak Mama model terbaru," ucap Abel setelah membayar semua belanjaan underwearnya.
Mama Riri tertawa. "Ya udah, mama tunggu di kafe depan ya. Mama haus banget. Mama aja yang bawa belanjaan kakak." Riri meraih beberapa paperbag di tangan Abel.
Abel kembali ke dalam toko, berjibaku kembali dengan rak yang berisi aneka pakaian dalam. Abel langsung tertuju pada lingerie warna merah dengan model yang mengemaskan menurut Abel. Penjaga toko juga menuturkan itu lingerie model paling terbaru dan terlaris.
Abel meraih hanger berbarengan dengan seseorang. Abel menoleh ke seseorang yang sangat di kenalnya. Keduanya saling beradu pandangan dengan tatapan sinis.
"Kau ingin ini, ambillah!" Floris melempar kasar lingerie itu ke arah Abel. "Kau pasti sangat membutuhkannya, supaya suamimu yang playboy itu tidak mencari tubuh indah lain di luaran rumah." Sambungnya lagi dengan tawa mengejek.
Abel yang geram langsung melempar tak kalah kasar lingerie itu kepada Floris. "Seperti kau salah Nona sekertaris. Aku tidak perlu ini untuk menghangatkan suamiku. Sepertinya kau yang lebih membutuhkan ini untuk menggoda bos barumu!"
"Hahaha, aku hanya tertarik mengoda suamimu ibu direktur."
"Kenapa ada wanita seperti dirimu di dunia ini, dimana urat malu orang sepertimu di sembunyikan. Kenapa kau suka sekali ingin merusak rumah tangga orang lain!" Abel sedikit mengeraskan suaranya.
Sebenarnya Abel mulai terpancing emosi, tangan sudah gatal ingin menarik rambut seseorang. Tapi ia berusaha tenang dan jangan bersikap kampungan di depan umum. Cukup serang dengan kata-kata yang semoga saja bisa membuatnya diam dan sadar.
"Aku tidak peduli ucapanmu ibu direktur. Aku sudah tergila-gila dengan suamimu. Cepat atau lambat aku akan mendapatkan pekerjaan di sisi suamimu lagi!" gertak Floris yang hanya mengancam.
"Jangan mimpi Nona! itu tidak akan terjadi sampai tahun baru badak sekalipun!" bantah Abel tidak mau kalah.
Floris geram, kenapa dia selalu kalah berdebat dengan istri mantan bosnya itu.
"Kita lihat saja nanti!" seru Floris tidak mau kalah dan tetap ingin memanasi wanita yang ada di depannya.
"Hahaha, maaf meladeni wanita seperti dirimu hanya membuang waktu. Aku akan mencari model lingerie yang lain karena aku tidak sudi memiliki selera yang sama dengan wanita seperti dirimu." Abel melenggang sambil dengan menabrak bahu Floris hingga Floris hampir terjatuh.
"BYE!" ucap Abel pada Floris yang sempoyongan menyeimbangkan tubuhnya.
Floris rasanya sangat geram, ingin menarik kerudung Abel hingga tubuhnya tersungkur di lantai. Tapi ia tidak boleh terpancing emosi. Bisa-bisa ia yang dikeroyok ibu-ibu penghuni Mall kalau Abel berteriak dia palakor.
Abel membatalkan niatnya membeli lingerie karena moodnya yang mendadak buruk setelah bertemu tanaman duri. Ia bergegas menemui mama Riri di cafe depan toko pakaian dalam.
Ia langsung menengguk jus mangga milik mama Riri hingga habis.
"Kakak haus, mana belanjaannya." Riri tidak melihat Abel membawa paperbag.
"Tanaman duri? kaktus kena duri kaktus," tanya Riri lagi belum mengerti maksud Abel.
"Bukan Ma, tanaman duri si makhluk halus."
"Serius! emang di Mall ibukota ada makhluk halus?" tanya Mama Riri polos.
"Udah ah Ma, nggak usah di bahas. Pulang aja yuk, kita susul Papa." Abel bangkit dari kursi mengandeng Mama Riri mengajaknya pergi keluar kafe.
******
Abel dan Riri sudah di depan pintu keluar mall menuju gedung parkir, ia menunggu Papanya bersama adik-adiknya. Keduanya juga menunggu Pak Lemin yang mengambil mobil.
Di lokasi yang sama, seseorang sedang sangat kesal di dalam mobilnya. Ia begitu geram mengingat kejadian di toko pakaian dalam.
"Sumpah! pengen gue cakar aja mulut istrinya Davin. Gue buat suaminya ninggalin dia baru tahu rasa dia!" sentak Floris kesal.
"Lo juga salah si Flo, ngapain juga masih lo ngarep ngejar Pak Davin itu, ya iyalah istrinya marah!" ujar Dina wanita yang bersama Floris sekaligus sahabatnya. Dina juga bekerja di kantor Adiguna Group.
"Lo tahu kan Din, gue tuh nggak bisa suka sama sembarangan orang, sekali lihat Davin gua langsung suka banget dan dia juga target yang susah di taklukkan. Gara-gara istrinya sekarang gue di putar jadi sekertaris bapak tua bangka tahu nggak!" ucap Floris.
"Ya lo tobat kali mulai sekarang, nggak kapok lo Flo suka sama Bos yang sudah beristri. Untung istri Davin nggak jambak Lo keliling kantor kemarin."
"Selain untuk hidup gue yang mahal, Davin juga mempesona banget Din, gue sampai rela pakai cara pintas tapi gagal gara-gara tuh Istrinya yang berisik."
"Please lo berubah deh, cari aja pria single."
"Tunggu Din, itu bukannya istri Davin." Floris melihat dari balik kaca. Abel menunggu di pinggir jalan keluarnya mobil.
"Kayaknya iya, itu Ibu Abelia."
Floris menyalakan mesin mobil, menarik tuas transmisi. "Gue mau kasih sedikit pelajaran untuk ibu direktur kita." Mobil Floris mulai berjalan.
"Flo, Lo mau ngapain, jangan gila ya Flo!" ucap Dina panik melihat Floris yang menatap Abel dengan sinis
.
.
.
.
.
NEXT.....
waduhhhh 😳😳😳😳
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘