Lovely Wife

Lovely Wife
Gara-gara Bola



"Papa sama Mama sengaja nggak bilang, mau kasih kejutan," ucap Ervan dengan wajah ceria.


Sekarang giliran Abel yang berpelukan dengan Papa tercinta. Ia merasa terharu dengan kedatangan keluarganya.


"Pa, kenapa nggak bilang Pa. Kan bisa kita jemput di bandara." Davin juga bergantian memeluk Papa mertuanya.


"Kalau bilang namanya bukan kejutan dong Vin," balas Ervan.


"Gimana calon cucu Mama, sehat?" tanya Riri yang sekarang memeluk Abel.


Abel merogoh isi tasnya dan dengan senyum ceria menunjukkan foto USG pada Riri. Riri dengan bahagia berbagi melihat foto dengan suaminya. Adik-adiknya semakin heboh ingin melihat juga.


Semuanya kini duduk di ruang tamu. Ray dan Raffa juga ikut mengelus perut Abel seolah tahu ada adiknya di dalam perut kakaknya. Abel juga merasa senang adik-adiknya antusias dengan adik baru mereka.


"Papa baru sempat ambil cuti, kebetulan juga adik-adik kamu libur sekolah. Mama kamu kasih ide, untuk liburan kali ini kita ke ibukota sekalian jenguk kamu dan calon cucu Papa." Ervan ikut mengelus perut Abel.


"Jadi calon Kakek muda ya Pa," canda Davin.


"Ya Vin. Cocok belum di panggil Opah," balas Ervan.


"Pasti anakku binggung Pa, ini opahnya kenapa lebih ganteng dari Daddy-nya ya."


"Bisa aja kamu Vin. Jaga pola hidup sehat. Rajin berolahraga, makan bergizi, hindari rokok dan selalu basuh wajah kita dengan air wudhu. itu tips supaya awet muda." Ervan menjelaskan sambil bangga memamerkan otot lengannya.


Davin hanya tertawa kecil, ia mengakui tubuhnya memang kalah atletis dengan mertuanya.


"Iya Pa iya," kata Abel. Ia memang mengakui Papanya itu terlibat masih bugar di usianya yang menginjak kepala empat.


"Satu lagi Vin. Rajin dan rutin olahraga malam biar stamina tetap terjaga." Ervan langsung merangkul pundak istrinya yang duduk tak jauh darinya. Riri langsung mencubit paha suaminya merasa malu.


"Berbagi ilmu Ma, sama yang muda," balas Ervan.


"Ya Pa, itu bisa dicoba," balas Davin sambil terkekeh. Ia sebenarnya semakin menahan ngilu di bawah sana mendengar penuturan Ervan.


hedeh, kenapa kalian datangnya nggak sejam lagi sih. Davin.


Abel hanya melepas tawa melihat Papa dan suaminya. Keluarganya yang selalu membuatnya Rindu. Abel mendekat ke papanya.


"Sebenarnya Abel pengen banget pulang dan nengok Papa Mama dan adik-adik. Tapi kondisi Abel yang dilarang dokter berpergian jauh, jadi terpaksa Abel bedrest dulu di rumah." Abel memang merindukan keluarga tapi kondisinya yang memaksa untuk tidak berpergian jauh.


Ervan merangkul pundak Abel, Abel merebahkan kepalanya di pundak Papanya. Mereka berdua memang sangat dekat sejak kecil.


"Sekarang Papa dan semuanya kan ada di sini sayang. Papa juga yakin Davin menjaga kamu dengan sangat baik," ucap Ervan. Abel mengangguk.


"Papa rencana berapa hari disini?" tanya Davin.


"Nggak lama Vin paling satu atau dua mingguan," balas Ervan menunjuk tiga koper berukuran besar milik anggota keluarganya.


Davin menelan saliva lagi. Dua minggu! semoga aja keluarga ini nggak ganggu dan bertingkah aneh-aneh. Ya! Davin cukup tahu seberapa resehnya keluarga istrinya terutama Papanya.


"Papa sama yang lain nggak mau istrirahat dulu. Kalian pasti lelah habis perjalanan jauh." Davin menemukan alasan agar bisa segera berdua dengan istrinya.


"Masih jam delapan Vin, kita ngobrol dulu," ucap Ervan.


"Tapi kayaknya anak-anaknya ngantuk Pa," ujar Riri.


"Ya udah Mama ajak anak-anak tidur, Papa masih mau ngobrol sama Abel, Davin."


Davin memaksakan senyum bahagia, padahal sekarang ia ingin sekali ijin pergi ke kamar juga dengan Papa mertuanya.


Riri dan kedua adik Abel pergi ke kamar tamu yang berada di lantai bawah sesuai arahan Bi Ningsih. Sedangkan satu ART lagi, Mbak Tina mendorong dua koper.


Sepeninggal Riri ketiganya mengobrol banyak hal yang positif. Masalah keluhan Abel selama hamil, masalah pengalaman tinggal id ibukota, masalah pekerjaan masing-masing. Dan banyak lagi yang di bahas membuat Abel menguap menandakan ia mengantuk. Bagaimana tidak waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh.


"Sayang kamu ngantuk?" tanya Ervan pada Abel yang terus menguap.


"Kayaknya ngantuk Pa, Abel kan harus banyak istirahat." Davin mengucapkan dengan penuh semangat. Berharap kali ini bisa lolos dan segera ke kamarnya.


"Dikit sih Pa, kalau Papa masih mau ngobrol sama Abel dan Bang Davin. Abel temani sampai pagi juga nggak apa-apa."


"Sayang! ingat kata dokter kamu harus istrirahat cukup," seru Davin. Abel mengerti saja suaminya mencari alasan untuk segera ke kemar.


"Ya udah Vin, kalian ke kamar aja. Besok kita lanjutkan ngobrol lagi." Ervan pun bangun berjalan menuju kamar yang di tuju Riri.


Davin langsung mengandeng tangan Abel untuk menuju ke kamarnya. Ia segera mengunci pintu kamar berharap tidak ada halangan menuntaskan hasratnya.


Ditatapnya wajah istrinya dengan penuh nafsu yang sudah tertahan beberapa bulan. Abel pun juga menginginkan hal yang sama, ia tidak merasakan milik suaminya di memasuki tubuhnya beberapa bulan.


Davin mulai membuka kerudung yang di pakai istrinya. Ia segera meraih tengkuk leher istrinya dan mencium bibir Abel dengan panas. Abel juga membalas setiap serangan dari suaminya. Tangan Davin yang lain mulai membuka resleting baju Abel hingga gamis yang di kenakan istrinya terjatuh di lantai.


Davin mengendong tubuh istrinya yang hanya menggunakan pakaian dalam ke atas ranjang. Tangan Abel membuka kancing kemeja suaminya yang berada diatasnya di sela ciumannya. Davin melepaskannya ciuman dan membuka kemeja yang sudah tidak terkancing lagi. Ia juga melepaskan penghalang yang menutupi bagian tubuh istrinya yang ingin ia nikmati.


Abel mulai mende-sah menikmati permainan indera perasa suaminya yang memainkan dengan baik bagian tubuhnya yang menjulang. Tangan Abel hanya bisa mere-mas rambut suaminya mengisyaratkan ia menikmati apa yang di lakukan suaminya saat ini di tubuh atasnya.


Bibir Davin kini turun menciumi perut Abel yang sekarang mulai sedikit timbul. Ia memberi syarat pada bayinya meminta ijin ingin menikmati waktu dengan Mommynya.


Davin bangkit dan rasanya sudah tak tahan lagi ingin ingin mencarikan tempat hangat untuk miliknya yang sudah sesak di balik resleting celananya.


Tok tok tok


"Vin, Davin, bisa keluar nggak!" teriak dari luar pintu kamarnya.


Seketika konsentrasi Abel dan Davin pecah mendengar suara dari balik pintu.


"Papa kamu mau ngapain Sayang," tanya Davin geram.


"Abel nggak tahu Bang," balas Abel.


Suara gendoran semakin kencang memanggil nama Davin, membuatnya tak berkonsentrasi lagi.


"Buka dulu Bang. Abel polos begini," ujar Abel. Davin mengangguk.


Davin yang masih bertelanjang dada turun dari ranjang dan membukakan pintu untuk papa mertuanya.


"Vin, Abel udah tidur?" tanya Ervan.


Davin bingung harus menjawab apa, tidak mungkin ia jawab Abel sedang polos di tempat tidur. "Udah tidur Pa."


"Bagus! besok kamu nggak kerjakan?"


"Libur Pa, besok kan minggu."


"Sekarang kamu turun, temani nonton bola, hampir aja tadi lupa ada premiere league saking senangnya ketemu Abel." Ervan berkata menggebu.


Davin lagi-lagi ingin menepuk jidatnya. Bagaimana ia menolak, jujur ia juga tidak terlalu menyukai bola. "Tapi pa ...."


"Udah Vin nggak usah pakai tapi-tapi ini yang main Manchester city versus Liverpool. Cepat pakai baju nggak seru kalau teriak-teriak sendiri, ku tunggu disini!" titah Ervan.


"Ya ... ya Pa!" balas Davin.


Abel memandangi wajah kesal suaminya.


"Kenapa?" tanya Abel berbisik karena pintu kamar masih sedikit terbuka.


"Papa kamu ajak nonton bola coba! yang tadi Aja belum tuntas. Sayang baru sehari disini papa udah bikin kepala Abang mau pecah." ucap Davin setengah berbisik pada Abel.


Abel merasa kasian pada suaminya. Ia sangat tahu kalau papanya Citizens sejati tidak mungkin melewatkan satu pertandingan pun.


"Uluh-uluh, Abang temani Papa dulu, nanti kita main doubel deh, janji!" Abel meraih wajah suaminya dan mengecup bibirnya berkali-kali.


"Janji ya Sayang!" tekan Davin. Abel mengangguk. Davin berganti baju dan mengikuti keinginan Papa mertuanya.


.


.


.


.


.


.


Next ....


Kapan goal lagi Bang Davin ya....😆😆😅


Udah ketik puaanjang nih Ei, jangan lupa tinggalkan like komen vote 😘😘😘