
Abel berbaring dengan tangannya yang mengenggam tangan Davin yang berada di sampingnya. Perawat memberi jel dingin di perut Abel. Dokter mulai mengarah alat USG di perutnya.
Nampak di layar monitor, titik hitam kecil di antara warna abu-abu.'
"Itu janinnya Bu, kita cek detak jantungnya." kata Dokter.
dug dug dug dug
Suara detak jantung bayinya yang membuat Abel mengeluarkan air mata bahagia.
"Bayinya sehat Bu, panjangnya 1,6 centi. Berat nya sudah satu gram lebih dikit," ucap dokter yang masih mengawasi layar.
Abel mempererat pegangannya dengan tangan Davin. Davin mencium kening Abel merasa bahagia sebentar ia akan menjadi calon ayah.
"Makasih sayang, udah mengandung anak Abang."
"Oke sudah," dokter bangkit meninggalkan pasangan yang berbahagia itu.
Keduanya kembali duduk di meja dokter.
"Pak, Bu kondisi bayinya sehat. Tapi kondisi ibunya ini. Tolong dijaga istrinya Pak. Tekanan darahnya tinggi. Jangan stress, hindari garam berlebihan dan makanan yang berlemak tinggi." tutur dokter.
"Ya Dok ...," jawab Davin.
"Tolong di awasi istrinya Pak, di jaga moodnya biar tekanannya cepat turun. Bisa pengaruhi perkembangan janin nantinya." Ucap dokter lagi.
Davin megengam tangan Abel, Abel sempat panik tapi mencoba tenang kembali demi bayinya.
"Iya dokter," balas Davin.
"Ada yang mau ditanyakan lagi Pak, Bu."
"Kalau hubungan suami istri, apa sudah boleh dok?" tanya Davin. Abel langsung mencubit paha suaminya merasa malu. Davin berpura tersenyum menahan pedis di pahanya karena ulah istrinya.
"Ibu bapak, untuk berhubungan badan sebaiknya di hindari dulu sampai satu bulan ke depan."
"Satu bulan dok!" Davin terkaget. Abel melirik ke arah suaminya.
"Ya Pak tolong istrinya ya Pak, ini silakan resep obat kurangi tekanan dan vitaminnya. Saya tunggu ibu Abelia kontrol dua minggu lagi."
Davin mengambil lembar resep dan Keduanya berpamitan keluar ruangan. Abel duduk di kursi panjang dekat apotik, ia masih memandangi foto USG janinnya sembari menunggu suaminya yang menebus resep obat.
Ia begitu bahagia hingga tidak bisa mengungkapnya dengan kata-kata.
"Ayo sayang," Davin mengulurkan tangannya.
Abel dengan ceria mengandeng tangan suaminya dan merebahkan di pundak. Davin membuka pintu mobil untuk istrinya. Perlahan mobil berjalan menjauhi rumah sakit.
"Senang ya udah liat anak kita?" tanya Davin.
"Banget Bang, Abel nggak sabar USG lagi lihat perkembangannya si adek,"
"Yang penting ingat kata dokter, Tekanan darah kamu tinggi sayang. Jangan stress, rajin konsumsi buah sayur dan jangan dulu banyak bergerak!" tutur Davin.
"Ya Daddy iya," balas Abel menirukan suara anak kecil.
Tangan kiri Davin mengelus perut Abel sedangkan tangan yang lain memegang kemudi. Rasanya nggak sabar juga ingin bayinya cepat besar.
"Abang?" Davin menoleh namanya di sebut.
"Apa sayang?"
"Abel pengen mangut lele," sekarang ia bergelayut di lengan suaminya yang sesang memegang kemudi.
"Ya udah kita cari, apa itu mangut lele sayang?" tanya Davin. Ia mengerti pasti istrinya Ngidam lagi.
"Tapi mau yang di kota Y dekat kampus Abel." rengek Abel lagi.
"Besok ya sayang, Abel akan suruh orang ke sana." Davin mengelus pipi Abel yang bersandar di lengannya.
"Pengennya kok sekarang ya?" ucap Abel membuat Davin lagi-lagi menghembuskan nafas kasar.
"Ya sayang, tapi sebentar malam. Kan nggak bisa mendadak juga kalau mau beli tiket pesawat sayang kalau pake jetpri harus pesan sehari sebelumnya." Mencoba memberi pengertian.
"Ya udah besok, janji ya?"
"Insya Alloh Sayang," jawab Davin. Begini banget hadapi istri ngidam.
"Sekarang kita beli es cream aja Bang, Abel pengen yang seger-seger."
"Pengen es creamnya di kota B?" goda Davin.
"ih Abang, disini aja. Nih tempatnya?" balas Abel menunjuk ponselnya pada Davin.
"Oke," jawab Davin lega.
Tak lama keduanya sudah sampai di kedai es cream. Sebelum masuk kedai es cream keduanya menjalankan kewajiban di mushola cafe sejenak karena bertepatan kumandang adzan Maghrib.
Memasuki Kafe, Abel memilih semua rasa es cream dari balik etalase. Ia memilih enam rasa dalam satu mangkok. Davin hanya menelan ludah melihat Abel yang begitu banyak memilih rasa es cream.
Apakah Abel bisa menghabiskan semangkok penuh aneka es cream. Pikir Davin. Keduanya memilih tempat duduk sofa panjang. Abel mulai menyuap es cream dengan lahap. Abel hanya lima sendok menyantap es cream. lalu
....
"Abang, adeknya juga pengen Daddy makan juga," Abel menyodorkan sendok pada Davin.
Davin terpaksa membuka mulutnya meskipun sama sekali tidak suka makanan yang manis seperti es cream.
Abel terus saja menyuapi suaminya sampai mangkok hampir kosong. Davin hanya menurut saja karena alasan yang di pakai Abel lagi-lagi bayinya.
"Sayang, Abang rasanya pengen makan kamu juga, gregetan. Ini namanya Abang yang makan semua. Kalau tahu begitu beli secup kecil aja cukup." Davin menahan kesal.
"Namanya juga hamil Daddy pasti minta yang aneh-aneh dedenya."
"Harus fitness Berjam-jam Daddynya buat kurangi kalorinya." Decak Davin.
Kapan lagi usulin pak Adiguna. Abel tertawa dalam hati.
Sabar Vin sabar istri hamil untung cinta banget sama kamu sayang dan Malaikat kecil kita. Davin
.
.
.
.
.
Next......
Bahagia bahagia dulu ya 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘
,____________________________________________
Baca ini juga ya! mengandung kesongongan Nolan dan kekonyolan Nesya.😘