
Sesampai di rumah. Semuanya berkumpul di ruang keluarga. Riri menyuruh Bi Ningsih membuatkan susu hangat untuk Abel. Sedangkan Riri sibuk mengobati luka lecet di lengan suaminya. Adik-adik Abel masih setia duduk di samping Abel sambil terus bertanya adek bayi yang ada dalam perut kakaknya.
"Kakak nanti adek Ray, laki-laki ya," celoteh Raydan mengelus perut Abel.
"Cewe aja ya De, Kaka mau punya adek cantik." Raffa tidak mau kalah mengelus perut Abel.
"Raffa, Ray, cewek atau cowok sama aja yang penting Kakak-kakak yang ganteng ini sayang sama adek." Penuturan Abel pada adik-adiknya.
Bersama adik-adiknya membuat Abel merasa senang dan melupakan kejadian tadi siang di Mall.
"Sayang, Davin harus tahu kejadian hari ini di mall," ucap Ervan pada Abel.
"Sebaiknya jangan Pa, besok saja kalau bang Davin sudah dirumah."
"Sayang, apa kamu punya musuh disini? Apa itu musuh kompetitor perusahaan Davin?Papa jadi kuatir sama keselamatan kamu!"
Abel mencoba mengingat siapa musuhnya di kota ini. Tentu dia tidak punya. Abel baru beberapa bulan disini, mana mungkin dia punya musuh? Ia bahkan tidak pernah kemana-mana. Hanya ke rumah sakit, ke kantor suaminya dan ke rumah. Kecuali satu orang yang selalu membuatnya kesal dan mengajak beradu argument. Dia adalah si tananam duri. Apa mungkin dia melakukan hal senekat itu padanya? Apalagi ia tadi bertemu di toko pakaian dalam?
"Nggak sih Pa, Abel nggak kenal banyak orang di sini. Bagaimana bisa Abel punya musuh." Abel berusaha mencari alasan agar Papanya tidak panik.
"Mungkin bener Pa, orang tadi hanya mabok hingga hampir nabrak Abel," ujar Riri.
"Kalau orang mabok Ma, pasti pegang setirnya oleng, ini lurus terus kencang." Ervan memperagakan dengan gerakan tangannya.
"Iya Pa iya, kakak sebaiknya istrirahat dulu aja, jangan banyak kepikiran," ucap Riri. Abel pun mengangguk dan meminta izin pergi ke kamar.
Di dalam kamar Abel masih memikirkan masalah di mall dan ucapan Papanya. Ia tidak mau berpikir buruk dengan tananman duri, tapi feelingnya semakin kuat. Abel menggelengkan kepalanya, ia tidak mau lagi menjadi detektif dadakan yang hanya akan memancing pertengkaran dengan suaminya. Tapi ia juga memikirkan keselamatannya dan juga bayinya. Ia akan membicarakan lagi dengan suaminya ketika sudah berada di rumah.
******
Ditempat yang berbeda, Davin sudah mendapatkan tanda tangan semua petinggi perusahaan untuk membatalkan pengalihan perusahaan milik istrinya Wilson Palm di bawah naungan Adiguna.
Ia memang belum mendapat persetujuan dari ayahnya, tapi dengan saksi yang ada di surat yang ia pegang, cukup kuat untuk bisa membatalkan perjanjian.
Rapat dadakan yang ia buka di hari Minggu ini di tutup masih dengan keputusan yang sama. Adiguna Gruop membatalkan peralihan Wilson Palm dari WPH. Meskipun hasil rapat mendapatkan banyak penolakan, karena dari segi nilai bisnis peralihan Wilson Palm dari WPH akan memberi keuntungan untuk Adiguna Gruop dan Wilson Palm itu sendiri.
Begitulah yang di pikiran semuanya, hanya keuntungan kedua belah pihak. Dalam hal ini tidak ada yang melihat dampak negatif yang akan di alami WPH.
"Terima kasih atas waktunya dan sudah hadir dalam rapat dadakan ini, besok saya akan menemui Miranda Wilson selaku presiden direktur dari Wilson Palm untuk mambahas hal ini." Davin berdiri dan membawa berkasnya. "Cukup sampai disini rapat kita, selamat melanjutkan hari minggu kalian."
Ia menuju ke ruangannya, merebahkan diri sejenak untuk merilekskan pikirannya usai rapat. Ia meraih ponselnya akan menghubungi istrinya karena sangat merindukannya sekarang.
"Assalamu'alaikum," sapa Abel yang terlihat dari balik layar ponselnya.
"Wa'alaikumusalam, gimana tadi ke butik udah beres."
"Udah, Abang kapan pulang?"
"Mungkin besok siang, kemungkinan paling cepat Sayang."
Davin tertawa kecil. "Bagi Abang kamu yang tersek-si sayang."
Ini yang selalu membuat Davin tak bisa jauh dari istrinya. Sikap manja Abel yang kadang membuat gemas dan sikap cemburuan istrinya yang kadang membuatnya kesal tapi lucu.
"Ya udah Sayang, tunggu Abang pulang ya." ucap Davin setelah bermenit-menit bervideo call ria dengan istrinya.
"Iya selalu, alafyu muach, muach."
Lagi-lagi Davin tertawa melihat Istrinya dengan gaya monyong. Telepon pun di akhiri.
"Permisi Pak." Amar masuk ke dalam ruangan.
"Ya ada apa Amar," tanya Davin.
"Pak, kapan rencana Anda akan menemui Pak Hendrawan akan saya jadwalkan."
"Mungkin setelah aku bertemu Miranda. Supaya Papa tidak mengacaukan semuanya," ucap Davin.
"Baik Pak," ucap Amar. "Pak, tadi waktu Anda rapat, mertua Anda menelpon dan memberi tahu, ketika di mall ada yang berusaha mencelakai istri Anda." Amar menyambung Kalimatnya.
"Apa! cari tahu orangnya Amar! secepatnya!" titah Davin.
"Baik Pak! saya akan cari orangnya berdasarkan ciri-cirinya yang disebut Pak Ervan."
Davin mendadak panik, ada apa lagi ini. Masalah yang satu saja belum selesai, ada lagi masalah menyangkut istrinya yang membuatnya tak tenang. Kenapa Abel tadi tidak bercerita dan terlihat baik-baik saja. Apa ini hanya kepanikan mertuanya saja?.
.
.
.
.
.
.
Next .....
semuanya akan tenang Pada waktunya ☺️☺️☺️
_____________________________________________
Terimakasih udah sabar nunggu up dari Ei yang sekarang udah mulai nggak bisa rutin karena kesibukan di RL.
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘 biar Ei semakin keceng up nya.