Lovely Wife

Lovely Wife
Kontrol



Seminggu sudah berlalu, Abel sudah berangsur pulih. Sekarang waktunya ia harus kembali memeriksakan kandungannya ke dokter pasca melewati masa bedrest. Mama mertuanya juga sudah kembali ke kota B.


Rasa mualnya selama awal kehamilan juga mulai berkurang. Ia mulai bisa memakan makanan padat seperti nasi. Entah berapa berat badannya sekarang karena pola makanan yang buruk selama morning sickness.


Abel juga mulai tak memikirkan terlalu mendalam masalah Floris. Ia percaya sepenuhnya pada suaminya. Ia sekarang malah ingin lebih fokus pada kehamilan. Meminati masa-masa kehamilannya. Tak banyak kegiatan yang bisa dilakukan Abel selama bedrest. Bahkan skripsi saja, suaminya melarang untuk mengerjakan. Abel sudah siap jika cita-citanya kuliah 3,5 tahun pupus karena kehamilannya.


Ia masih berdiri di teras menunggu suaminya yang berpesan tak lama lagi akan pulang kerja. Ia akan mengantar ke dokter sore ini untuk melihat calon bayinya.


Mobil warna hitam yang sangat dikenali Abel masuk ke halaman rumahnya. Suaminya pulang sendiri tanpa Amar ataupun sopir. Senyum mengembang di bibir Abel melihat suaminya yang turun dari mobil.


Davin bergerak menghampiri Abel.


"Udah siap?' tanya Davin.


"Dari tadi bang, ayo cepetan Abel udah nggak sabar pengen lihat anak kita," Abel langsung gandeng lengan suaminya.


"Sabar sayang?" Davin membukakan pintu untuk Abel. Kemudian ia menyusul duduk di kursi kemudi.


Mobil pun perlahan keluar meninggalkan rumah. Keduanya menyusuri jalanan sore ibukota yang sangat padat. Untungnya rumah sakit yang mereka tuju tidak terlalu jauh dan tak melewati arah macet sebaliknya.


"Bang, anak kita cewek apa cowok ya," ucap Abel sambil mengelus perutnya.


"Cewek sama cowok sama aja Sayang yang penting bayinya sehat."


"Kalau Abel pengennya cewek, adek Abel cowok dua-duanya. Kan lucu kalau cewek, bisa didandain, dikasih bando," Abel menunjuk ekspresi imut.


"Abang terserah aja Sayang, yang penting bayinya sehat, ibunya sehat. Mau cewek atau cowok," jawab Davin sambil mengelus perut Abel yang rata.


"Kalau cewek biasanya lebih mirip dan indentik sama Daddy-nya."


"Ya dong, nanti anak daddy lebih cantik dari mommynya." Davin mencium tangan Abel.


"Ih..., Mommy tetep paling cantik dong." Bantah Abel.


"Iya, ya mommy yang paling cantik nggak mau kalah sama anak ya." Davin menoel pipi istrinya.


Semenjak hamil Abel memang menjadi lebih manja dan gampang ngambek. Davin sendiri kadang sering pusing di buat Abel yang mood nya turun naik. Tapi sekali lagi dia memaklumi mungkin sudah bawaan ibu hamil.


Keduanya kini sudah sampai di salah satu rumah sakit ibu anak di Ibukota. Usai memarkirkan mobil, Davin mengandeng istrinya menuju lobby rumah sakit. Keduanya ke resepsionis mengambil antrian. Karena keluarga Davin pasien prioritas, ia tidak perlu antri seperti pasien lain.


Abel duduk di depan poli kandungan bersama ibu-ibu yang lain. Ia menunggu namanya di panggil. Abel megamati perut-perut ibu hamil yang membesar, membedakan dengan perutnya yang masih rata. Rasanya sudah tidak sabar lihat perutnya segera membuncit. Abel merangkul lengan suaminya dan bersandar di bahunya.


"Kenapa?" tanya Davin.


Davin mengengam tangan Abel, "Sabar dong sayang, makasih ya sayang udah hamil anak Abang." Ucap Davin kali ini sambil membelai pipinya.


Meskipun jadi tontonan pasien lain Davin dan Abel cuek-cuek saja.


"Ibu Abelia Amvan Wijaya." perawat memanggil nama Abel.


Dengan cepat Abel bangkit ditemani Davin yang terus mengandeng tangannya.


"Tensi, timbang dulu Bu." kata perawat menuntun Abel menuju timbangan.


Berat badannya masih 48kg, belum bertambah sama sekali. Ia duduk kembali untuk pemeriksaan tekanan darah.


"Tekaanan tinggi Bu," kata perawat yang mengukur tensi Abel. Abel yang masih awam hanya menunggu saja tindakan dokter selanjutnya.


Abel sudah berada di ruangan dokter.


"Pagi Bu, silakan," dokter kandungan perempuan menyapa ramah.


"Pagi dokter Stella," jawab Abel yang duduk di hadapannya bersama Davin.


"Bagaimana bedrest nya, sukses ya. Tidak ada keluhan?" tanya dokter Stella


"Alhamdulillah dijalankan sesuai anjuran dokter," jawab Davin.


"Untuk saat ini belum ada keluhan dokter, masih mual seperti biasa aja." Abel ikut menjawab.


"Baik bu, ayo kita cek bayinya. USG dulu," Dokter bangkit dari kursi menuju ruang USG yang di batasi tirai.


.


.


.


.


.


Next..