
Seminggu di rumah sakit, Abel sudah di ijinkan pulang hari ini. Abel sudah tidak betah rasanya tinggal di rumah sakit lama-lama meskipun mendapat fasilitas kamar rawat inap terbaik. Davin meminta pada dokter agar Abel di ijinkan pulang sehari lebih cepat. Dokter pun memberi ijin ketika sudah memastikan kondisi Abel dan bayinya sehat.
Keluarganya pun juga ikut mengantar kepulangannya. Tidak ada kebahagiaan yang bisa Abel ungkapan sekarang. Ia yang mengendong sendiri baby Arzen yang terlelap ketika akan keluar dari rumah sakit.
Arzen lebih sering menghabiskan waktu dengan tidur. Kata Mama Riri itu hal biasa untuk bayi. Setelah perutnya kenyang pasti bayi akan tidur lagi. Abel juga senang melihat Baby Arzen yang lebih berisi dari awal mereka di pertemukan setelah melahirkan.
Keduanya naik mobil yang berbeda dengan keluarganya. Abel bedua dengan suaminya duduk di kursi penumpang belakang dengan Amar sebagai sopirnya.
Davin mencium pipinya bayinya yang gembul umurnya baru beberapa hari. Ini menandakan asupan ASI Abel sangat melimpah untuk Arzen. Empat hari pasca sadar pasca- operasi air susu Abel keluar dengan deras. Bahkan menjadi rutinitas pagi dan sore Davin membantu Abel mengompres dada istrinya sebelum di pompa. Dadanya terlalu penuh dengan ASI, kadang ia mengeluh nyeri jika tidak di keluarkan meskipun sebagian sudah dihisap Baby Arzen.
Kini keduanya sudah berada di rumah. Mama Riri dan Mama Mitha langsung memilih istirahat di kamar tamu.
Davin memlilih kamar di lantai bawah karena mempertimbangkan Abel yang belum sepenuhnya pulih dan tidak boleh terlalu lelah. Ia tak ingin istrinya terlalu capek untuk naik turun tangga.
Davin membuka pintu kamar. Pintu kamarnya sudah di hiasi untuk menyambut dirinya. Di sebelah ranjang Abel melihat box bayi, ayunan bayi dan semua perlengkapan bayi Arzen. Kamar bawah di sulap jadi kamar bayi lengkap dengan wallpaper dindingnya.
"Abang yang siapakan semuanya?" tanya Abel.
"Ya Abang uang desain, tapi ngerjakan tukang interior, kamu suka nggak sayang." Davin memeluk Abel dari belakang.
"Suka Bang, tapi Abel nggak sempat foto maternity karena baby Arzen lahir lebih cepat dari prediksi," seru Abel.
"Nggak apa-apa sayang kita bisa foto keluarga, ya penting mami sama baby Daddy sehat." Davin mencium lagi putranya yang terlelap di gendongan Abel.
Abel menidurikan Baby Arzen di box bayi. Ia mencium Arzen yang begitu lucu ketika tidur. Pipinya yang merah kulitnya yang begitu putih dan halus, apalagi wajahnya. Kenapa begitu mirip dengan Daddynya, Abel sedikit kesal dengan hal itu. Baby Arzen mungkin akan tertidur lelap lama karena di mobil sudah menyusu dengan kenyang.
Kini giliran Abel yang merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk rumahnya setelah seminggu di rumah sakit. Davin yang juga merebahkan tubuhnya di ranjang langsung menarik tangan Abel menyadari istrinya di sampingnya. Abel melingkarkan tangan di dada suaminya dengan kepalanya yang ia benamkan di lekuk leher suaminya.
Davin mencium kening Abel, lalu perlahan mencium bibir Abel. Ia menyesap setiap permukaan bibir istrinya. Seperti lama sekali ia tidak mencium dengan dalam bibir istrinya selama di rumah sakit. Abel pun membalas serangan suaminya karena juga merasa rindu setiap sentuhan suaminya.
Davin melepaskan ciumannya karena merasa Abel perlu mengambil oksigen. Ia pun mendekap erat Abel dalam pelukannya karena untuk saat ini belum bisa melakukan lebih. Ia begitu bahagia bisa pulang dan berkumpul dengan istri dan anaknya. Beberapa waktu lalu ia sangat panik dengan apa yang menimpa istri dan anaknya.
"Abang senang sayang, kita bisa berkumpul seperti ini. Abang juga masih nggak percaya sekarang sudah jadi ayah." Davin membelai rambut Abel, hal tak dilakukannya selama di rumah sakit.
"Abel juga nggak percaya sekarang jadi ibu Bang, Abel menikmati banget saat-saat jadi ibu gampang-gampang susah. apalagi Arzen sekarang kuat banget nyusunya."
"Abang bakalan nggak kebagian nanti kalah sama Arzen," seru Davin.
"Ih Abang mesum ...." Abel mencubit perut suaminya.
"Auh ... Abel balas gigit di yang lain loh Sayang," canda Davin. Abel memilih tenang dan memeluk suaminya kembali sambil memainkan tangan si dadanya.
"Sayang, kamu butuh berapa baby sister untuk bantu jaga Arzen," tanya Davin.
Abel nampak berpikir, apa ia perlu babysister? sedangkan ia merasa Arzen bayi yang tenang dan bisa di ajak kerja sama.
"Abang Abel takut babysister - babysister seperti yang di TV sama yang viral-viral. Dia bukannya menjaga dengan baik malah nyiksa anaknya."
"Itu memang yang nggak baik Sayang, kita akan cari babysister dari agen yang terpercaya. lagipula kan ada kamu di rumah dan nggak semua urusan anak kita serahkan. Ia hanya bantu kamu kalau misal kamu lagi ngerjain skripsi atau periksa laporan perusahaan kamu."
"Nanti Abel pikirkan lagi Bang, kalau sekarang sepertinya Abel masih bisa jaga Arzen sendiri," seru Abel.
"Abang hanya nggak mau kamu kecapean Sayang, malamnya kamu harus ngurus Abang juga kan," seru Davin.
"Ya udah tidur yuk Sayang." Davin mempererat pelukannya dan mata keduanya mulai terlelap.
...***************...
Pagi ini Abel mempunyai kebiasaan baru di rumahnya. Ia belajar memandikan baby Arzen meskipun masih terlalu kaku. Mama Mitha yang membimbing Abel melakukan apapun pada bayi Arzen karena Mama Riri sudah kembali ke kota B.
Davin pun mulai belajar membiasakan diri sekarang memakai pakaian kerja sendiri karena pagi - pagi Abel sudah sibuk dengan Arzen.
Abel meletakan baby Arzen yang sudah terlelap. Ia akan membantu suaminya bersiap seperti biasa. Ya, suaminya sudah seminggu lebih tidak pergi ke kantor. Semua pekerjaan yang melibatkan dirinya ia pasrahkan pada Amar. Selama Abel di rumah sakit suaminya meminta cuti menemani istrinya.
"Sini Abel bantu, Arzen udah tidur." Abel meraih kancing kemeja suaminya.
"Rasanya Abang malas kerja Sayang, pengennya berduaan sama kamu dan Arzen terus."
"Abang, harga Popok bayi mahal loh. Abang nggak boleh malas kerja," canda Abel sambil tertawa renyah.
Davin langsung memeluk Abel dan mengecup bibirnya singkat. Abel mengeryitkan dahinya melihat sikap aneh suaminya.
"Sayang, hal yang paling indah dalam hidup Abang adalah kamu hadir dalam hidup Abang, ditambah lagi sekarang ada Arzen. Abang sangat bersyukur sekali Allah memberi kalian berdua dalam hidup Abang."
"Abang kenapa jadi lebay sih," ucap Abel.
Davin bukan menjawabnya malah mencium kening Abel. Beberapa hari lalu Davin begitu lemas ketika Abel tidak sadarkan diri di rumah sakit. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaannya jika Abel tak di sisinya.
"Abang mau cium Arzen dulu." Davin melenggang menuju box bayi anaknya.
"Pelan-pelan Bang, hati - hati bangun."
Belum beberapa menit Abel melangkah ke luar untuk sarapan. Suara tangisan Arzen sudah memenuhi kamar. Abel sudah menduga ini ulah suaminya yang menciumi Arzen terlalu keras.
Davin mengendong sambil menimang menenangkan bayinya yang menangis. Abel tersenyum melihat suaminya yang begitu telaten menimbang Arzen. Abel tidak menyangka suaminya bisa menjadi partner yang baik untuk mengurus anak. Arzen langsung terdiam dan melanjutkan tidurnya dalam dekapan Daddynya, tanpa bantuan Abel.
Usai meletakkan baby Arzen dalam box, Davin dan Abel keluar kamar untuk sarapan.
.
.
.
.
.
Next.....
yang di undang ke acara aqiqah Baby Arzen πππ jangan lupa bawa kadoπ
Menuju endingπππ.....