
Davin menuju ke ruang tamu, dilihatnya perempuan berhijab dari balik pintu rumahnya. Sepertinya perempuan itu tidak asing.
"Permisi, Mbak cari saya," sapa Davin.
Perempuan itu menoleh setelah mendengar suara Davin.
"Abelia ada nggak, aku mau kasih kejutan." Rena menghampiri Davin. Davin mengajaknya duduk di kursi teras.
"Abel ada. Masih makan, kamu apa kabar Ren?"
"Alhamdulillah baik Bang, aku mau ketemu Abel. Aku kuatir banget dengar dia pendarahan," ucap Rena.
Seluruh keluarga di kota B tidak tahu kalau Abel mengalami pendarahan kecuali Rena. Abel hanya bercerita pada Rena masalah kehamilan yang menimpanya.
"Ya dia sekarang harus banyak istirahat. Kamu sendiri?" tanya Davin.
"Aku sama Mas Angga Bang, kebetulan dia mau hadiri Asosiasi penguasa kelapa sawit mewakili Bu Miranda. Aku langsung minta ikut ke ibukota." Penuturan Rena.
"Sekarang Pak Angga mana?" tanya Davin.
Rena menunjuk di balik pagar rumah Davin Angga yang sedang menelpon.
"Aku antar kamu temui Abel dulu, nanti biar aku yang temui Pak Angga." Davin bangkit dari kursi masuk ke dalam rumah. Rena mengikuti langkah Davin di belakangnya.
"Sayang, tebak siapa yang datang." Davin merangkul Abel yang masih di meja makan menikmati buah apel.
Abel seketika menoleh dan mendapati di belakang suaminya melambaikan tangan dengan wajah ceria.
"Rena!" Abel teriak kegirangan tak menyangka. Abel melepaskan tangan suaminya dan memeluk sahabatnya.
"Kok bisa disini?" tanya Abel melepaskan pelukannya.
"Masa lihatin pokok sawit terus, sekali-kali jadi orang kota lihat gedung-gedung tinggi," canda Rena.
"Rena sebaiknya kalian ngobrol di kamar, Abel harus istirahat lagi," ucap Davin.
"Suami kamu bener Abelong," sela Rena.
"Bang Davin sekali ini aja ngobrol di taman, Abel bosen di kamar terus," ucap Abel memasang wajah melas.
Abelong main gedong-gedongan, suami mana suami. Rena mengekor lagi pasangan gendong mengendong di depannya.
Davin membuka pintu kamar yang tak jauh dari dapur. Davin meletakan dengan pelan tubuh istrinya ke ranjang. Davin mencium kening Abel.
"Ngobrol disini Abang mau nemanin pak Angga," ucap Davin. Abel Terpaksa mengiyakan perintah suaminya yang masih menyuruhnya rebahan.
Rena langsung duduk di samping Abel ketika Davin sudah keluar kamar. Ia sudah tidak sabar lagi mendengar cerita langsung dari Abel.
“Abelong sekarang cerita. Kenapa kamu bisa pendarahan.” Rena mulai mengambil posisi santai jadi pendengar.
“Ren, aku juga nggak tahu sebab pastinya, tapi kata dokter aku terlalu berpikir berat dan harus banyak istirahat.”
“Memang kamu mikir apa Abelong, pasti mikirin si tanaman duri,” usut Rena. Selama ini Rena yang selalu menjadi teman curhat Abel masalah Floris.
Abel mengangguk. “Nggak tahu kenapa aku ngerasa ada yang nggak beres aja sama dia. Tapi Bang Davin nggak mau pecat dia.”
"Nggak semudah itu pecat karyawan tanpa sebab Abelong," seru Rena lagi.
“Ya ngerti. Tapi apa salah di coba dulu. Dia aja bersikap nggak sopan sama istri Bosnya.” Abel menyambung lagi ceritanya.
“Abelong, coba nggak usah curigaan dulu, siapa tahu cuma perasaan kamu aja.” Rena mengusap pundak Abel menenangkan.
“Kamu nggak tahu Ren, gimana cara dia liat Bang Davin. Genit dan nafsu banget. Emang kemana semua laki-laki single. Kenapa dia genit banget sama suami orang.” Abel mulai emosi setiap mengingat Floris.
“Tenang Bumil, inget lagi masa pemulihan. Nanti strees lagi loh.” Rena mengusap perut Abel mencoba menenangkan.
.
.
.
.
.
Next....