
Abel menyiapkan baju untuk suaminya yang masih berada di kamar mandi. Ia jadi penasaran siapa orang yang ingin menabraknya dengan sengaja.
Abel bersiap juga merias wajahnya dengan natural sambil menunggu suaminya. Abel merasakan ada yang basa terkena ciuman di lekuk lehernya. Suaminya ternyata sudah keluar dari kamar mandi. Abel dengan sigap mengambil handuk kecil untuk membantu mengeringkan rambut suaminya yang basah.
"Abang, siapa sih orangnya. Abel penasaran banget." Abel berusaha mencari info sambil kedua tangannya mengering rambut suaminya.
Davin mendongakkan kepalanya. Ia memegang dagu dan mengecup bibir istrinya.
"Nanti juga tahu Sayang," ucap Davin usai melepaskan ciumannya
"Ih ... Abang Ah!" rengek Abel lagi.
"Ayo kita persiapan ke kantor, biar kamu tahu siapa orangnya."
"Abang, bagaimana kalau Abel kenal orangnya. Hukuman apa yang harus Abel berikan sesuai dengan perbuatannya."
"Sayang! Intinya perbuatannya sudah mengarah ke kriminal. Abang harus melaporkan ke kepolisian nanti."
"Abel serahkan ajalah semuanya sama Abang," ucap Abel.
"Istri cantik! cepat pakaikan baju Abang sebelum kita terlambat ke kantor." Davin kembali menghujani istirnya dengan ciuman ke wajah.
Abel menahan kepala suaminya. "Ya Abang, udah stop nanti make up Abel luntur."
*****
Abel duduk di kursi penumpang belakang bersama suaminya. Ia merangkul lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya. Sebentar lagi ia akan tiba di kantor. Abel masih menerka-nerka siapa yang tega akan melukai dirinya.
Mobil berhenti di depan lobby kantor, dengan cekatan Amar membuka pintu untuk kedua bosnya.
Abel dan Davin masuk kedalam kantor dengan terus bergandengan tangan, meskipun hal itu mencuri perhatian karyawannya. Keduanya sudah masuk ke dalam ruangan Davin. Davin duduk di kursi kerjanya, sedangkan Abel duduk di pegangan kursi. Amar membisikkan sesuatu pada Davin kalau tamunya sebentar lagi akan datang.
Suara ketukan dari balik pintu, Amar dengan cekatan membuka pintu. Wanita cantik dengan rambut coklat semi keriting berjalan masuk ke dalam ruangan.
Tentu saja Abel sangat mengenal wanita ini, hatinya kembali mendidih. Apakah benar dugaannya? Wanita ini yang berusaha mencelakai dirinya? Bagaimana dia bisa Setega itu? Apakah rasa kagumnya pada suaminya membuatnya jadi gelap mata dan tak memandang sisi kemanusiaan sama sekali? Apakah dia seperti itu?
"Selamat pagi Pak, bapak memanggil saya." Wanita itu berbicara lembut dengan senyum manis di bibirnya. Tapi sekilas ada rasa kesal melihat wanita yang ada di samping Bosnya.
"Duduklah Florista," ucap Davin. Seketika wanita itu duduk di hadapannya.
Abel melipatkan kedua tangannya di dada memandang geram ke arah wanita itu. Amar meletakkan ipad layar 14 inci di depan Floris.
"Apa itu mobilmu!" tanya Davin.
"I-ya Pak," jawab Floris sedikit tebata. Ada apa ini, kenapa dia menanyakan mobilku.
"Lihatlah lagi apa yang di lakukan orang di dalam mobil itu Minggu lalu di mall." Davin memuntar rekaman CCTV yang di dapat dari keamanan mall. "Perhatikan Flo, apa yang dilakukan mobil itu pada istriku."
Tentu Floris sangat mengingat dengan baik kejadian itu, wajahnya mendadak pucat. Pikirannya buntu untuk mencari alibi. Rekaman sudah selesai di putar, tapi tetap saja tangannya gemetar apa yang akan terjadi selanjutnya.
Abel juga ikut mendidih jadi benar! Mobil itu adalah mobil yang di kendarai Floris. Tangan Abel sudah mengepal, wajah Abel sudah mememdam amarah.
"Flo, apa itu kau! Apa kau yang mencoba menabrak istriku!" bentak Davin.
"Pak! sepertinya ada kesalahan pahaman. Itu memang mobilku tapi bukan berati saya yang ada di dalam mobil itu kan." Floris berusaha mengelak.
PLAKKKK! suara tamparan keras yang mendarat di pipi kanan Floris. Abel menumpahkan kemarahannya karena tak tahan melihat sikap sok polosnya. Davin langsung berdiri menenangkan istrinya.
"Kamu! masih berani membantahnya! Itu jelas kamu yang ada di dalam mobil!" Abel meneriaki Floris. "Aku tahu sendiri Kamu di mall juga waktu itu!"
Floris sebenarnya ingin sekali menampar balik Abel. Tapi tentu itu tidak mungkin dia bisa kena masalah, ia hanya bisa diam menahan kesal dan memiikirkan siasat apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
"Bu, untuk apa aku harus menabrakmu Bu. Lagi pula aku tidak ke mall di hari minggu itu," ucap Floris lagi dengan wajah melas.
"Kamu masih bisa bantah! kamu sadar nggak sih karena perbuatan kamu, kamu bisa bahayakan nyawaku dan juga bayiku!" bentak Abel dengan keras.
"Sayang, tenang!" Davin lagi-lagi memeluk Abel, memegangi tangannya.
"Bu tenanglah, orang yang ada di dalam mobil belum tentu aku, lihatlah rekaman CCTV itu lagi!" bantah Floris lagi sambil menahan perih pipinya karena tamparan Abel yang keras meskipun tangan Abel kecil.
Abel mengangkat tangannya lagi ingin menampar ketiga kalinya. Tapi tangan Davin lagi-lagi menahan Abel yang sedang marah.
"Sayang! tenangkan dirimu! Ingatlah anak kita." Davin menahan tangan Abel dan melingkarkan tangan di perutnya menenangkan.
"Flo, lihat lagi rekaman selanjutnya! setengah wajah itu adalah wajahmu!" Davin menunjuk iPad yang memperlihatkan rekaman selanjutnya. Separuh wajah Floris yang mengambil karcis parkir.
Floris mati kutu sekarang, ia tak bisa lagi membantah kalau yang ada di dalam mobil itu adalah dirinya.
"Bang! dia harus di hukum karena perbuatan yang membahayakan keselamatan orang lain!" teriak Abel lagi.
"Iya Sayang tenang, Floris akan mendapatkan kompensasi atas perbuatannya pada atasan perusahaan," seru Davin.
"Pak, bisakah Anda dengarkan sekali saja penjelasan saya." Floris memasang wajah lemas di depan Davin.
Davin masih menatap Floris. "Apa yang ingin kamu jelaskan!"
"Saya tidak sengaja Pak, saya tidak tahu kalau saya hampir menabrak Ibu Abelia."
Abel maju dan akan menyerang Floris lagi karena muak dengan wajahnya yang terus mencari simpati. Tapi tangan Davin terus menahan Abel agar bisa tenang.
"Tidak Flo! Kali ini kamu keterlaluan. Kamu temui atasan kamu dan ambil surat pemecatan tak hormat kamu!" titah Davin.
"Pak tidak bisa semudah itu Pak hanya karena ketidak sengajaan, dedikasi saya untuk perusahaan apa tidak dipandang sama sekali." Floris masih berusaha membujuk dengan memohon-mohon.
"Tidak ada yang lebih penting dari keselamatan keluargaku! sekarang keluarlah sebelum polisi yang menyeretmu keluar dari sini!" perintah Davin.
Amar langsung saja menyeret tangan Floris membawa keluar ruangan Bosnya. Meskipun Floris ingin mencoba meronta tapi lebih baik dia mengalah daripada mendapatkan hukuman lebih.
"Abang, dia jahat banget. Dia ingin nyelakain Abel sama anak kita. Dia harus di hukum Bang! hukum dia Bang! hukum dia!" Abel meronta seolah masih ingin memberi Floris pelajaran atas perbuatan.
"Ssstt ...." Davin meraih tubuh Abel menenangkan Abel dalam pelukannya. "Sayang kamu tenang! percaya sama Abang, Floris akan mendapatkan hukuman atas perbuatannya." Davin menangkap wajah Abel dengan kedua tangannya.
Abel mulai tenang, ia mengangguk dalam dekapan Dabin, mempercayai perkataan suaminya.
"Kalau di merayu Abang dengan obat perangsangnya itu Abel bisa sedikit memberi maaf. Tapi tidak ada maaf untuk perbuatannya yang hampir mencelakai bayi kita Bang."
"Dia akan mendapatkan hukuman, dia tidak akan berusaha menyakiti kamu lagi. Percaya sama Abang." Davin mengeratkan pelukannya.
.
.
.
.
.
.
NEXT.....
Sori ya telat Up....
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘