Lovely Wife

Lovely Wife
Tahan?



🔞🔞🔞🔞Mengandung 18+ ya dear, kalau kalian belum cukup umur Skip ganti baca buku masakan 😳😳


Waktu menunjukkan sore hari, rapat pun selesai lebih cepat dari jadwal awal. Davin segera menuju bandara dengan Amar kali ini untuk kembali ke ibukota. Sementara Floris masih mengerjakan tugas dari Amar untuk mengurusi hasil rapat yang harus diselesaikan sebelum kembali ke ibukota. Alhasil Floris masih harus tinggal di kota B sampai esok hari dan kembali ke ibukota menggunakan penerbangan komersial.


Setelah menempuh perjalanan dua jam menggunakan pesawat pribadi. Davin bersama Amar sudah tiba di ibukota. Menempuh perjalanan melewati malam di ibukota dengan gemerlapnya lampu Warna jingga. Sehingga malam terasa hangat meskipun jalanan sangat padat dan macet dengan kendaraan roda dua dan roda empat.


Tak lama dari bandara, Davin tiba di perumahannya. Amar dengan cepat membuka pintu untuk Davin.


“Pulang dan istirahatlah Amar, istrimu pasti juga sudah menunggumu seperti istriku,” ucap Davin.


“Ya Pak, terima kasih. hubungi saya secepatnya jika membutuhkan sesuatu. Selamat beristirahat.” Amar menunduk sopan disusul agukan Davin dan tepukan di bahu. Ia mengantarkan Bosnya ke pintu rumah.


Ceklek


“Assalamu'alaikum,” salam Abel pada suaminya.


Abel melanggar aturan suaminya, turun dari tempat tidur dan menyambut sendiri suaminya yang pulang ke rumah.


Abel langsung memeluk suaminya yang berdiri di ambang pintu. Davin merasa lega usai melihat wajah istrinya. Tapi juga kesal kenapa Abel bisa turun dari tempat tidur.


“Sayang, siapa yang suruh kamu turun dari tempat tidur?” ucap Davin sambil mengelus kepalanya istrinya yang tertutup kerudung.


“Nggak tau kenapa hari ini Abel kangen banget sama Abang, pengen langsung peluk Bang Davin.” Abel mngeratkan pelukannya.


“Tapi kamu kan harus bedrest Sayang,”


“Tadi Abel jalannya pelan kok, saingan lagi sama semut,” balas Abel dengan manja. Davin tertawa renyah mendegar ucapan istrinya.


Entah kenapa dada Davin mendadak nyeri merasa bersalah, mengingat kejadian tadi siang yang hampir membuatnya khilaf. Mendengar ucapan manja Abel membuatnya berangsur-angsur tenang dari gundahnya.


Davin medekapnya erat dalam pelukannya tak ingin rasanya melepaskannya karena sangat nyaman. Davin terlalu takut kehilangan Abel, ia hanya ingin tubuh ini yang ia peluk selamanya.


“Bang Davin, kenceng banget Abel susah nafas.” Abel protes karena merasa sesak suaminya yang memeluknya terlalu erat.


Davin mengendurkan pelukannya. “Sorry sayang, Abang juga kangen banget sama kamu dan dede kita.” Kini tangannya mengelus perut Abel.


“Masuk dulu Vin, jangan mesra-mesraan depan pintu, malu sama tetangga.” Mama Mitha tiba – tiba muncul memgagetkan keduanya. Bu Mitha memang akan menginap di rumah Davin beberapa hari.


Davin mencium punggung tangan ibunya. “ Ya Ma ini mau istirahat.”


“Auwh,” pekik Abel ketika Davin mengangkat tubuhnya tanpa komando.


“Kamu kan nggak boleh terlalu banyak gerak Sayang,” ucap Davin. Sebenarnya Abel malu main gendong-gendongan di depan mertua. Untung saja kamar mereka di lantai bawah jadi bisa langsung hilang dari pandangan mertuanya. Ya, selama bedrest Davin ingin berpindah kamar ke lantai bawah supaya Abel tidak repot naik turun tangga ketika ada hal mendesak.


Davin dengan pelan membaringkan tubuh Abel, di merenggangkan ototnya dengan memutar ke kiri ke kanan.


“Berat ya Pak,” goda Abel. Davin langsung duduk di hadapan Abel. Memandang istrinya lekat-lekat.


“Dilan kali ….” Balas Abel. Davin terkekeh lagi.


Inilah yang membuatnya rindu pada istrinya meskipun hanya candaan kecil dapat melupakan setiap hal buruk. Davin kini melepaskan sepatunya dan membaringkan kepalanya di pangkuan Abel. Kepalanya kini menghadap ke perut Abel serta menciumi perut istrinya yang masih rata itu. Tanganya juga terus megelus perut Abel yang masih rata. Abel hanya bisa menahan geli melihat kelakuan suaminya.


“Tadi gimana rapatnya Bang?” tanya Abel sambil mengelus rambut Davin yang merebahkan kepala di pahanya. Mendengar pertanyaan Abel, Davin teringat kembali kejadian wajahnya yang berdekatan dengan Floris.


“Semua berjalan dengan lancar Sayang,” jawab Davin.


Tadinya Davin ingin menceritakan pada Abel tentang Floris yang hampir terjatuh dan ia menolognya hingga posisi mereka tidak terlihat baik. Tapi Davin urungkan niatnya kalau memberitahu kebenaran tentang Floris hanya akan mempengaruhi kesehatan istri dan anaknya.


Davin bangun dari tempat nyamannya dan menatap istrinya lekat-lekat, Ia mengelus pipi Abel lalu mendekatkan wajahnya ke arah bibir ranum istrinya. Ia menye-sap bibir bawah Abel, wanita yang memang halal untuknya. Terus memperdalam ciumannya mengobati rasa bersalahnya tadi siang. Ciuman Davin semakin memaksa dan menuntut hingga ia membuat Abel terbaring di bawah tubuhnya. Tangangnya mulai bergeriliya menyusuri kulit tubuh istrinya yang terbuka dari kain penutupnya.


Abel melepaskan ciumannya karena merasa ia harus mengambil pasokan oksigen yang menipis. Tapi dengan cepat Davin meraih bibir istrinya, meyesap dan melu-mat lembut. Ciumannya semakin menjalar hingga ke lehenya dan dadanya. Abel hanya bisa mengelus kepala Davin pasrah mengikuti keinginan suaminya. Kini Davin sudah merasakan sesuatu yang sudah sesak di bawah sana.


Dengan cepat ia melepaskan bibirnya dari hi-sapan tubuh putih istrinya. Ia baru sadar kalau melakukan hubungan intim untuk saat ini belum di perbolehkan mengingat kondisi Abel yang masih rentan keguguran.


Abel menghembuskan nafas lega karena suaminya bisa menahan diri. Karena Abel tidak kuasa menolak keinginan suaminya jika sudah bergairah begitu. Abel hanya takut hal itu bisa mempengaruhi kandungan dan kesehatan calon bayinya.


“Maaf sayang Abang hampir kelepasan,” ucap Davin di telinga Abel.


“Udah nggak tahan ya,” tanya Abel berbalik menangkap pipi suaminya.


“Tahan kok Sayang, demi anak kita.” Davin mencium kening Abel dan mengelus perut Abel lagi.


Abel mengancingkan kembali piyama tidurnya. Davin meraih tubuh Abel dalam pelukannya, ia mengajaknya beristirahat malam ini.


.


.


.


.


.


.


**Next....


Hedeh bang Davin 😌😌**


Jangant tinggalkan Jejak lupa like, koment vote 😍😍