
Untuk 🔞 18+ ke atas ya !!!!
Abel kembali ke kamar setelah melihat semua beres. Mulai dari dekorasi aqiqahnya, Kelengkapan untuk acara dan lain-lainnya. Ia ingin melemaskan otot-otot tubuhnya sekarang. Mumpung Arzen sedang jadi rebutan omah-omahnya karena semua keluarga intinya sudah berkumpul di rumahnya.
Sesekali Abel ingin memanjakan tubuhnya karena sepertinya ini hari terakhir ia menjalani masa nifas. Ia memutuskan merendam tubuhnya beberapa menit sambil melumuri dengan lulur Bali yang harum. Hal yang belum pernah Abel lakukan sebelumnya karena menjalani pemulihan pasca operasi.
Ia bentangkan sajadah akan menjalankan kewajibannya saat usai mandi mendengar kumandang adzan Ashar. Davin masuk ke dalam kamarnya, ia begitu senang melihat istrinya yang sudah menjalankan sholat. Ia seperti mendapat hadiah jackpot, setelah penantian lama menunggu.
Davin kembali ke lantai bawah untuk melihat Arzen. Arzen harus di amankan beberapa menit saja untuk membiarkan kedua orang tuanya mengerjakan amalan suami istri yang berpahala. Arzen sudah tertidur pulas di dalam box bayinya di temani Mama Mitha. Arzen memang anak yang pengertian. Davin menitipkan Arzen pada Mama Mitha dan kembali ke kamar.
Davin membuka pintu dan istrinya sedang melipat perlengkapan sholatnya. Ia segera menghampiri Abel mencegahnya akan memakai baju. Tanpa Abel sadari tangan besar suaminya sudah memeluk perutnya.
Abel memang sudah terbiasa dengan setuhan Davin, tapi bukan berarti jantung baik-baik saja. Tetap saja ada debaran setiap merasakan tangan suaminya yang menjelajah tubuh atasnya yang hanya memakai pakaian dalam.
"Abang Abel mau pakai baju dulu." Abel mencoba menghalangi gerakan tangan suaminya yang terus merayap meraih tonjolan tubuhnya yang sekarang menjadi asupan gizi Arzen.
"Kamu udah sholat, bararti Abang bisa ...." Davin langsung kehujani lekuk leher hingga tengkuk leher Abel dengan kecupan.
Abel hanya merasakan sensasi sengatan listrik yang tidak sakit dan memejamkan mata menahan geli ketika suaminya mencium dengan lembut lehernya.
"Kenapa nggak jawab?" tanya Davin disela aktifitasnya.
Gimana mau jawab, kalau Abang udah buat aku panas dingin begini.
"Udah Bang ... ehhh." Jawab Abel menahan agar mulutnya tidak mende-sah.
"Kita bisa ... " Davin mulai membuka pengait yang melingkar dipunggung Abel yang masih terpasang.
Abel menyerah pasrah, Meskipun ia masih belum percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang masih membesar dan perutnya yang masih menyisakan kebuncitan. Tapi ia tentu tidak bisa menolak keinginan suaminya.
"Kalau malam aja gimana Bang, rumah kita banyak tamu. Nanti Arzen nangis cariin Abel." Abel memelas mencari alasan.
"Tamu kan di luar Sayang, kita di dalam. Arzen juga udah tenang sama omah-omahnya." Davin meletakan tangan di belakang lutut Abel. Tanpa Abel sadari, suaminya sudah mengangkat tubuhnya. Abel dengan sigap mengalungkan tangan ke leher suaminya agar tidak terjatuh.
Davin tidak merasakan apapun perubahan pada tubuh Abel, yang Davin tahu hanya, ia akan memadu cinta lagi dengan istrinya setelah hampir sebulan lebih berpuasa untuk menjamah. Abel hanya bisa menurut karena selalu lemah dengan belain suaminya.
Davin membaringkan tubuh Abel dengan pelan di atas ranjang besarnya. Ia membelai wajah istrinya dengan penuh kasih. Ia mencium kening, pipi dan seluruh wajah istrinya tanpa terlewat.
"Kamu cantik Sayang," Davin mengusapkan jarinya di bibir ranum Abel.
"Maaf tawar, aku belum pakai lip balm." Abel mengucapkan perkataan yang tak penting di tengah suasana manis.
"I don't care," ucap Davin langsung menempelkan bibirnya ke ke bibir manis istrinya melu-matnya lembut.
Abel mulai menikmati sentuhan manis suaminya. Keduanya menikmati saat keintiman ini. Davin bukan tipe orang yang penyabar kali ini.
Usai melepaskan pangutan bibirnya, ia meloloskan semua kain yang melekat pada tubuh Abel ke lantai. Mulai di sentuhnya seluruh permukaan kulit Abel yang polos.
Ia mulai menjelajahi lekukan leher Abel dan meninggalkan bekas karya di sana. Tubuh atas Abel yang terlihat lebih besar sekarang, menantang siap untuk di manja. Davin membungkam dengan mulutnya puncak salah satu tubuh atas Abel dan menghisapnya pelan. Abel yang mulai merasakan sengatan listrik yang terkumpul pada satu titik, ia menyelipkan tangannya disela-sela rambut Davin dan meremasnya kuat mengikuti ritme sentuhan yang di lakukan suaminya.
Suara yang keluar dari mulut istrinya menghilangkan kesadaran Davin untuk semakin terus menjelajahkan bibirnya turun memanjakan setiap permukaan kulit istrinya. Udara dingin AC yang terhembus tak mampu meredam hawa panas keduanya yang saling merindu untuk menyatukan cinta keduanya.
Serangan-serangan yang di berikan Davin berhasil membuat tubuh wanita mungil ini menggelepar dan berdenyut kuat di bawah sana menginginkan kehadiran milik suaminya.
"Abang please sekarang ...." Abel memohon agar suaminya memberikan kerinduannya juga.
"Siap Ratuku?" tanya Davin.
Abel mengangguk pasrah. Pria itu mulai membenamkan miliknya ke dalam surga dunia istrinya yang sangat ia rindukan.
Davin mengerakkan tubuhnya pelan agar istrinya terbiasa dulu setelah lama tidak melakukan penyatuan. Tak butuh waktu lama keduanya larut dalam lautan cinta yang mereka ciptakan.
"Bang Davin ...." Pekik Abel mencengkeram kuat punggung suaminya merasakan pelepasannya.
Davin tak berhenti menghujam istrinya meskipun melihat Abel yang sudah tak berdaya, hingga ia juga merasakan sesuatu yang terkumpul pada satu titik dan menyemburkan dengan hangat di dalam tubuh istrinya. Ia ambruk di atas tubuh Abel. Ia mendongakkan kepala mencium bibir Abel yang setengah terbuka.
"Terima kasih Sayang, Abang mencintaimu Sayang. Sangat mencintaimu ...." ucapnya terengah-engah dengan tubuhnya yang berlumuran keringat.
Abel hanya bisa mengangguk karena masih cukup lemah dengan pertempurannya tadi. Davin meraih tubuh Abel dan memeluknya erat.
"Abang!" Abel teringat sesuatu menjauhkan sedikit tubuhnya dari suami.
"Hmm ...." jawab Davin yang membuka mata mendengar suara keras Istrinya.
"Kalau jadi gimana? Abel belum pasang kontrasepsi. Harusnya tadi dikeluarkan di luar Bang." Abel bangkit dan mulai panik.
"Maaf Sayang, Abang kangen sama kamu. Jadi tadi nggak bisa kontrol." Davin membelai rambut istrinya mencoba membuatnya tenang.
"Tapi Arzen masih bayi Bang, dia aja belum genap dua bulan."
"Sayang, kalau memang sudah rejeki kita Arzen punya adek, masa kita harus mau nolak rejeki." Davin memeluk Abel berusaha menenangkan Abel lagi.
Abel sedikit tenang, memang perkataan suaminya ada benarnya. Tapi pengalaman hamil dan melahirkan Arzen masih melekat di pikiran Abel. Ia harus melewati masa gangguan kehamilan dan persalinan. Sakitnya bekas sayatan operasi yang ia masih ia rasakan sampai sekarang, apakah akan terulang lagi?Tentu Abel masih merasa trauma untuk saat ini. Apalagi dokter tidak menganjurkan untuk terjadi kehamilan dalam waktu dua atau tiga tahun kedepan.
Tapi kembali lagi kepada ketentuan Allah, jika Sang Pencipta sudah mentakdirkan dirinya harus hamil lagi, tentu itu di luar kuasanya.
Tok ... tok ... tok
Suara ketukan pintu keras mengagetkan keduanya.
"Abel! Arzen nangis, dia haus!" teriak Papa Ervan yang terdengar samar dari balik pintu.
"Ya Pa!" jawab Abel.
Ia melepaskan pelukan suaminya, Abel dengan cepat memungut pakaian dalamnya dan berganti baju sebelum Papanya mengedor lagi pintunya.
"Padahal masih mau lagi Sayang." Davin melingkar tangan di pinggang istrinya yang sedang berdiri di depan kaca.
"Abang, udah gantian sekarang giliran Arzen." Abel melepaskan pelukan suaminya dan buru-buru merapikan tatanan kerudungnya.
Davin merelakan istrinya yang meninggalkannya keluar kamar. Ya, sekarang ada Arzen di tengah keduanya yang harus di utamakan. Davin mulai berpikir ucapan istrinya tentang 'kalau jadi'. Ia tidak bisa mengotrol diri karena kerinduan memadu cinta dengan Abel. Ia juga masih trauma dengan keadaan Abel sewaktu dirumah sakit. Ia menghembuskan nafasnya, kepasrahan saja pada Ilahi.
.
.
.
.
.
.
Masih Next....
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘