
Abel kembali ke kantor sendiri tanpa Floris. Sebelum masuk ke dalam lift, ia sudah melihat suaminya yang akan keluar. Dengan cepat Abel menghampiri suaminya.
"Sayang, tadi bukannya mau makan pasta sama Floris?" Davin terkejut melihat istrinya yang menghampirinya.
Abel langsung bergelayut di lengan suaminya. "Nggak nafsu lagi. Makan di ruangan Abang aja, Dedenya mau di suapi sama Daddy-nya."
"Dede manja sekarang ya, kayak mommy." Davin mengelus perut Abel. Davin menyadari, keinginan Abel mungkin bawaan dari bayinya.
"Ayok, Dede udah kelaparan." Abel menggoyangkan lengan Davin.
"Ayok, biar Amar yang bawa makanan kita ke ruangan." Davin melangkah kembali masuk ke dalam lift.
Ting
Abel dan Davin keluar setelah pintu terbuka. Mereka kembali memasuki ruangan. Tak lama berselang Amar dan seorang OB membawa nampan makanan untuk makan siang bosnya.
OB itu meletakkan nampan di meja sofa tepat di depan Bosnya duduk bersama istrinya.
"Selamat menikmati makan siang Pak," kata Amar sebelum berbalik pergi. Abel mengangkat jempol untuk memberi kode pada Amar kalo dia sudah memberi pelajaran pada Floris.
Amar hanya tersenyum merasa senang bisa membantu permasalahan Bosnya. Setelah sepi dan hanya berdua. Davin mulai menyuapi Abel seperti ketika mereka makan dirumah.
"Paling enak tangan Daddynya, Dedeya makanya banyak," ucap Abel sambil tersenyum bahagia.
"Yang penting Mommynya harus happy biar dedenya happy."
Seperti yang sudah-sudah, Abel memang merasa paling nyaman jika mendapatkan suapan dari suaminya. Ia bahkan tak merasakan mual sama sekali.
Keduanya kini menyelesaikan makan siang, OB juga langsung membereskan dan membersihkan makanan mereka.
Mungkin sekarang saatnya Abel berbicara pada suaminya tentang sikap Floris yang melebihi batas dari seseorang yang ingin menjadi sekertaris.
"Abang, ada yang mau Abel tunjukkan pada Bang Davin tentang Floris." Abel meronggoh ponselnya di dalam Tas.
"Ada apa lagi sayang? Abang kan sudah bilang, akan mencoba mengajukan pertukaran." Davin mencoba tak merusak suasana bahagai dengan istrinya.
"Abang dengerin percakapan Abel dengan Floris. Abel susah jelaskan dengan kata-kata." Abel memutar rekaman percakapannya dii km cafe yang sengaja ia rekam.
Davin mendengarkan dengan baik rekaman yang di putar oleh Abel. Davin terkejut mendengar sikap Floris pada istrinya. Tapi ia juga terkejut melihat sikap Abel yang berbeda dari biasanya.
"Abang denger sendiri kan. Bagiamana kelakuan wanita itu. Apa Abang masih mau memperkerjakan dia sebagai sekertaris yang selalu bersama Abang!"
Davin berdiri tanpa menjawab menuju ke meja kerjanya. Ia menekan telepon. "Flo ke ruangan saya sekarang!"
Tok tok tok
"Permisi Pak," ucap wanita yang sangat dikenali Abel.
"Duduk Flo," titah Davin.
"Ada apa Pak?" tanya Floris dengan nada panik. Ia melirik sekilas ke arah Abel.
"Flo. Mulai besok kamu bukan lagi sekertaris saya?" ucap Davin.
"Tapi Pak?" bantah Floris.
"Kamu nggak di berhentikan dari perusahaan. Saya hanya mengajukan rotasi untuk kamu. Kamu memang melakukan kesalahan yang fatal ketika menjadi sekertaris saya. Tapi mengingat jasa kamu pada perusahaan kamu hanya mendapat peringatan."
"Pak, bisa kah saya memperbaiki semuanya. Apa kesalahan saya Pak, saya bekerja dengan baik untuk bapak." Floris menyatukan tangan meminta maaf.
"Maaf Floris, besok saya tidak ingin melihat kamu dalam ruangan sekertaris saya. Saya rasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Assisten saya akan memberi tahu alasan pergantian kamu. Sekarang silahkan kamu pergi dari ruangan saya."
"Pak," Floris masih berusaha.
"Pergilah sendiri atau saya akan meyuruh securiti untuk menyeret kamu keluar." Titah Davin lagi.
Floris dengan perasaan kesal, cepat bangkit dari kursinya dan keluar ruangan.
Abel langsung duduk di pangkuan suaminya dan mengalungkan tangan di lehernya.
"Makasih Abang," ucap Abel tersenyum senang.
Tapi Davin tak mengukir senyum sama sekali. Ia malah melepaskan tangan Abel yang melingkar di lehernya. Dia juga mengerakkan kakinya agar Abel bangun. Senyum Abel pun berubah jadi rasa binggung dan sedih. Abel bangun dari pangkuan suaminya dan Davin juga ikut berdiri.
"Abel, Abang juga marah sama kamu dalam hal ini. Sekarang kamu pulang! sopir yang akan mengantarkan kamu! kita bicarakan nanti di rumah!" ucap Davin dengan nada penuh penekanan.
Abel hanya bisa diam menahan air mata melihat sikap suaminya. Suaminya kini keluar dari ruangan meninggalkannya sendiri. Ia bertanya-tanya dalam hatinya apa salahnya?
.
.
.
.
.
.
.
NEXT......
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘