Lovely Wife

Lovely Wife
Tamu



Malam ini Abel masih berguling-guling di kamarnya. Ia tidak biasa tidur tanpa pelukan suaminya. Ia hanya bisa berharap suaminya meyelesaikan urusannya dan kembali pulang ke ibukota.


Rencananya lusa acara empat bulanan kehamilannya. Kemungkinan besar besok keluarganya mulai berdatangan dari kota B.


Abel meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Davin suaminya.


Abel


Abang udah tidur? besok udah pulang kan, nggak bisa tidur nggak peluk-pelukan😘


Abel masih menunggu balasan pesan suaminya sambil melihat-lihat aplikasi Instagram. Abel sudah berhari-hari tidak melihat akun miliknya. Abel iseng saja melihat IG Nolan, betapa terkejut bercampur senang. Abel melihat foto adik iparnya itu dengan seorang wanita, untuk pertama kalinya ia melihat fotonya dan wanita selain dirinya.


Abel mengamati wanita berhijab yang tak asing di matanya. Ia cantik, Abel berusaha mengingat-ingat. Beberapa menit ia ingat kalau dia adalah Nesya adik angkat Om Adriannya. Abel ikut tersenyum, setidaknya sekarang dia lega, Nolan bisa menemukan wanita pilihannya. Abel berniat besok akan mengoda Nolan ketika ia datang kerumahnya.


Abel mendengar bunyi tanda ada video call yang masuk.


My Lovely Hubby calling....


Abel tahu suaminya tipe orang yang malas mengetik, pasti ia langsung balas video call atau menelpon.


"Kamu tidur dong Sayang, ini udah malam kasian anak kita."


"Bentar lagi, besok Abang pulang kan," ucap Abel pada layar ponselnya.


"Iya, Abang usahakan sore sudah dirumah, sekarang kamu tidur Sayang. Besok aja kalau ada abang kita wajib berdagang."


"Ih Abang selalu aja mengarah kesitu! ya udah, malam Daddy." Abel menutup teleponnya, setidaknya ia bisa tidur nyenyak malam ini setelah mendengar suara suaminya.


...****************...


Siang ini, Abel bersantai di taman belakang bersama keluarga usai makan siang. Untuk acara empat bulanannya, semua ditangani oleh EO.


"Permisi Mbak," ucap Bi Ningsih yang memotong obrolan Abel dan Papanya.


"Ya Bi," jawab Abel.


"Ada tamu Mbak. Katanya adiknya Bapak," ujar Bi Ningsih.


"Serius Bi," jawab Abel bersemangat. Bi Ningsih hanya tersenyum sambil mengangguk.


Dengan cekatan Abel bangun dari kursi taman untuk menemui tamunya. Di ruang tamu nampak orang yang sangat di kenalnya meskipun tamunya membelakanginya.


"Hai No," sapa Abel.


Nolan langsung menoleh ke sumber suara, ia melihat Abel lagi setelah sekian bulan tak bertemu. Abel menghampiri Nolan dan refleks memeluk adik iparnya itu. Nolan mendadak canggung dan merasa aneh, tapi kembali ia mengingatkan dirinya ini adalah salah satu bentuk penyambutan adik ipar dan sahabatnya yang lama tak bertemu.


Tangannya mulai meraih pinggang Abel dan membalas memeluknya. Nolan merasakan ada rasa bergetar dalam hatinya, kenangannya seolah kembali muncul. Seseorang yang ada di hadapannya ini, apakah masih ia rindukan dengan perasaan yang sama? atau perasaan itu perlahan pudar seiring berjalanya waktu.


"Bagaimana keadaanmu dan keponakanku?" tanya Nolan melepaskan tangannya.


"Sehat No, dia sudah mulai besar. Kamu ingin pegang, sini tanganmu." Abel meraih tangan Nolan. Ia meletakan di atas perutnya,


Abel tahu Nolan sangat menyukai anak-anak apalagi keponakannya sendiri.


Nolan sebenarnya merasa canggung, tapi ia berusaha bersikap layaknya adik pada kakaknya. Abel melihat rasa bahagia di wajah Abel, itu artinya hidup bahagia dengan kakaknya.


"Semoga kalau perempuan jadi anak yang cantik dan Sholihah seperti ibunya, kalau anak laki-laki jadi tampan dan sholeh seperti ayahnya." Nolan menurunkan tangannya dari perut Abel yang menonjol itu.


"Semoga juga, Uncleku satu ini nyusul juga ya." Canda Abel menirukan suara anak kecil.


"Sekarang kamu punya pacar kan, ngaku nggak!" lanjut Abel sambil meninju lengan Nolan.


"Iya, mudahan doain ya," balas Nolan.


"Cieh ... ayo duduk." Abel menunjuk sofa, kemudian merebahkan dirinya di sofa.


Disusul Nolan yang ikut duduk di hadapan Abel.


"Bagaimana di ibukota, kamu betah?" tanya Nolan.


Sebenarnya awal menginjak ibukota Abel sudah di hadapkan kesal dengan tanaman duri. Hingga ia bertengkar dengan suaminya dan membuatnya hampir keguguran. Belum lagi hari-hari yang kita lalui karena sikap tanaman duri yang membuatnya kesal hingga ia membongkar sendiri niat buruk di tanaman duri. Tapi apakah Abel akan menceritakan semuanya pada Nolan? Tentu tidak, ia akan menceritakan saja hari bahagianya di kota ini.


"Aku betah No disini, Bang Davin selalu pulang lebih cepat selama aku hamil." Abel berusaha mengungkapkan sisi bahagianya.


"Aku ikut senang dengarnya," sahut Nolan.


Semuanya sudah seperti harapan Nolan, ia melihat Abel yang bahagia seperti ini saja membuat hatinya teduh, entah kenapa tidak ada rasa sakit yang bersamaan dengan rasa bahagia seperti dulu.


"Hai No, mana yang lain." Ervan datang langsung ikut duduk menyapa Nolan.


"Mungkin sore Om mereka sampai," balas Nolan.


Ketiganya kini mengobrol santai dengan berbagai bahasan.


.


.


.


.


.


Next.....


sorry baru up asam lambung Ei kumat 😨😨