Lovely Wife

Lovely Wife
Pasrah



Sore ini waktunya Abel memeriksakan kandungan ke dokter. Ia masih di kursi teras menunggu kedatangan suaminya dari kantor. Setelah Masalah Floris, suaminya masih belum dapat sekertaris pengganti. Sekertaris yang membantu pekerjaannya kini hanya sekretaris sementara. Abel tak cemas karena sekretaris sementara suaminya, wanita uang juga hamil dan sudah berkeluarga.


Suara mobil terdengar dari teras, Abel segera keluar karena sangat hapal itu adalah mobil milik suaminya. Davin keluar dari mobil membuka pintu untuk istrinya. Kali ini suaminya menyetir sendiri tanpa asisten dan sopirnya.


"Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Davin.


Abel memeriksa isi tasnya, semenjak hamil ia juga sering melupakan sesuatu.


"Udah semua, buku dedek, buku mommynya." Abel menunjuk buku catatan kesehatan dari rumah sakit.


"Ayo jalan, Daddy udah nggak sabar liat Dede lagi." Davin mengelus dan mencium perut Abel yang mulai bergelombang meskipun belum besar.


"Iya Daddy," balas Abel menirukan suara anak kecil.


Davin mencium kening Abel. Ia menyalakan mesin mobil bersiap meninggalkan rumahnya ke RSIA.


*****


Abel mendaftar diri dulu sebelum menemui dokter. Seperti biasanya, karena ia pasien prioritas, Abel mendapatkan giliran pertama. Abel menatap ibu - ibu hamil di depannya, rasanya sudah tak sabar melihat perutnya besar. Abel semakin mengeratkan rangkulan tangannya pada Davin. Seolah tak sabar lagi keluarganya akan kedatangan anggota keluarga baru.


Davin mengelus perut Abel tanpa malu meskipun dia jadi sorotan pasien lain. Ia mengerti Abel pasti sudah tidak sabar melihat perutnya membesar seperti yang sering ia bicarakan sebelum tidur.


"Ibu Abelia Amvan Wijaya," panggil perawat ketika dokter sudah datang ke tempat praktek.


Abel masuk ke ruang pemeriksaan, tak lupa perawat menimbang badan dan tensi darah sebelum pemeriksaan masalah janin. Perawat mengamati tensi darah Abel yang sudah turun dari bulan lalu. Meskipun turun tidak signifikan tapi status tekanan darah Abel masih prehypertensi.


Abel menemui dokter setelah menimbang berat badan dan mengukur tekanan darah.


"Sore Bu, silahkan duduk." Sapa dokter kandungan Perempuan yang bernama Stella.


"Gimana Bu ada keluhan?" tanya dokter Stella lagi.


"Paling punggung aja Dok, kadang suka nyeri. Kalau mual udah berkurang." Jawab Abel.


"Itu wajar ya Bu, karena bayi kan semakin lama semakin besar jadi ia butuh tempat yang lebih luas, otomatis punggung ibu akan ikut merenggang atau tertarik menyesuaikan kondisi bayi. Sering di pijat berinteraksi dengan bayi." Dokter memberi penjelasan.


"Iya dokter," balas Davin dan Abel bersamaan.


"Mari kita periksa dulu bayinya," dokter berdiri menuju ruangan USG.


Perawat memberi perut Abel jel dingin, dokter mulai mengarah alat ke perut Abel dan terlihat gambar yang sudah membentuk manusia kecil.


"Kandungannya udah masuk enam belas Minggu Bu, bayinya gerak-gerak, itu tangannya udah kelihatan. Kakinya juga Bu. Bayinya sehat." Kata dokter.


"Jenis kelaminnya dok apa belum tahu?" tanya Davin yang juga senang melihat tampilan 4D bayinya.


"Mungkin sebulan lagi Pak, ini masih belum jelas." Balas dokter Stella.


Abel hanya tersenyum senang melihat kondisi bayinya sehat. Apalagi sekarang bentuk tubuhnya sudah terlihat dari layar 4D. Davin mencium kening Abel senang lalu membantu istrinya bangun menemui dokter kembali.


"Bu, ini tekanan darahnya sudah turun tapi tetap harus waspada prehypertensi ya sewaktu waktu bisa naik lagi, di jaga pola makan dan pikirannya ya."


"Ya dokter," balas Abel.


"Ini udah masuk semester kedua, kandungannya mulai aman. Bapak sama ibu sudah boleh melakukan hubungan badan."


"Jadi sudah boleh dok!" tanya Davin semangat seperti menang arisan. Abel memandang suaminya mengeryitkan dahinya.


"Iya Pak sudah boleh. Tapi tetep hati-hati ya Pak, karena ibu Abelia ada riwayat hampir keguguran."


"Ya dokter pasti," balas Davin


"Silahkan," dokter menyerahkan selembar resep obat.


Davin mengambil resep dokter untuk istrinya. Davin langsung terburu-buru keluar untuk menebus obat untuk Abel.


Abel hanya heran menatap punggung suaminya yang berjalan dengan sangat bersemangat sekarang.


"Sayang, kita langsung pulang ya." Davin mulai menyalakan mesin mobil.


"Katanya mau ke tempat EO untuk acara empat bulanan Abel."


"Itu bisa besok aja Sayang, sekarang Abang mau kita cepat sampai rumah. Abang mau menuntaskan hal yang lebih penting." Davin sedikit melajukan kecepatan mobilnya.


Abel berpikir sejenak. Ya ampun! Abel menepuk jidatnya. Suaminya pasti ingin menuntaskan hasrat yang sudah ditahan dua bulan. Setelah dokter sudah memberi lampu hijau untuk suaminya.


"Abel tahu Abang mau ngapain pengen cepat pulang!" seru Abel.


Davin mengelus pipi Abel. "Sudah ngerti sekarang Sayang. Jadi Abang mohon pengertiannya ya istriku yang cantik."


"Abang, tapi Abel pengen banget makan es cream yang waktu itu kita beli."


"Besok aja bisa nggak Sayang, atau kalau perlu besok kita beli satu kulkas."


"Ih ... dedenya mau sekarang Daddy." Abel menirukan suara anak kecil lagi.


"Ya udah, tapi makan di mobil aja kita nggak usah nongkrong di cafenya." Davin tidak bisa menolak jika itu adalah keinginan bayinya.


"Siap, cinta deh sama Abang." Abel mencium pipi kanan suaminya yang menyetir.


Davin berhenti ketika sampai di deretan ruko yang terdapat kedai es cream yang di maksud Abel. Kebetulan mereka berhenti bertepatan adzan Magrib. Keduanya mengugurkan kewajiban di mushola kedai sebelum memilih es cream.


"Jangan lama-lama Sayang," ucap Davin yang merangkul pundak istrinya menuju kedai es cream sekarang.


"Ya iya," Abel memegang gemas dagu suaminya.


Abel memilih rasa vanilla kali ini, ia memilih memakai cone karena memakannya di mobil. Ia juga membeli beberapa rasa untuk di bungkus. Sebenarnya Abel masih ingin berlama-lama di kedai es cream memilih kue juga, tapi suaminya yang terus mendesak segera pulang membuatnya membatalkan niatnya memborong kue. Davin bergegas tanpa menunggu Abel ke arah kasir.


Keduanya kini keluar kedai es cream, Davin meminta Abel menunggu di depan kedai. Ia akan pergi ke tempat parkir mengambil mobil.



Tak lama, mobil suaminya berhenti di depannya. Abel menikmati es cream di kursi penumpang depan. Bulu kuduk Davin tiba-tiba meremang melihat Abel yang menjilati lelehan es cream. Pikiran kini sedang tidak fokus dan ingin segera sampai di rumah.


"Sayang cara makan kamu kayak mengoda Abang. Abang nggak sabar pengen nerkam sesuatu."


"Abang mesum ah ..., sabar sedikit sebentar lagi kita juga sampai rumah."


Mobil sudah masuk ke dalam halaman rumah. Davin langsung turun membuka pintu mobil untuk Abel.


"Abang gendong biar cepat." Tanpa komando, Davin mengangkat tubuh Abel dari kursi penumpang. Abel hanya pasrah melihat suaminya yang sedang panas dingin.


Abel memencet bel rumah karena Davin sedang menggendong. Selang beberapa detik Bi Ningsih membukakan pintu sambil senyum-senyum melihat majikannya.


"SURPRISE ...!" teriak dua orang yang sangat di rindukan Abel di ruang tamu.


Davin menelan ludah kasar, ia menurunkan Abel dari gendongannya. Dua bocah laki-laki berhamburan memeluk Abel. Davin mengusap wajahnya prustasi. Mertuanya datang di saat yang tidak tepat. Sepertinya ia harus pasrah keinginan yang mendesaknya tertunda.


"Papa sama Mama sengaja nggak bilang, mau kasih kejutan," ucap Ervan dengan wajah ceria.


.


.


.


.


Next....


tinggalkan komen like vote biar othor Ei rajin up😘😘