Lovely Wife

Lovely Wife
Kepanikan



Davin merasa kacau setelah kepergian mobil Abel. Ia meraup wajahnya kesal. Ia begitu kuatir dengan keadaan Abel.


"Pak, ternyata Anda disini?" tanya Amar mendapati Bosnya di lobby gedung.


Davin langsung mencengkeram kemeja asistennya. "Kenapa kau tidak bilang istriku akan datang, sekarang dia pergi dan salah paham padaku!"


"Pak, Ibu Abelia sendiri yang melarang saya memberitahu Anda, dia ingin memberi Anda kejutan."


Davin melepaskan cengkeramannya.


"Amar sekarang siapkan mobil dan ambil ponselku, aku ingin menyusul Istriku."


"Pak, sebaiknya ganti dulu baju Anda yang sudah saya siapkan, Anda terlihat berantakan."


"Amar! aku tidak ada waktu untuk menganti baju. Cepat siapkan saja mobil!"


"Baik Pak, tunggulah sebentar disini." Amar berlalu untuk menjalankan perintah Bosnya.


Davin masih belum tenang memikirkan Abel, terlebih ponselnya tertinggal di ruangannya. Ia hanya berharap Abel dan bayinya baik-baik saja. Ia yakin pikiran Abel sekarang pasti kacau dan buruk. Lagi-lagi Davin panik membahayakan kesalahpahaman istrinya.



Mobil berhenti di depannya. Amar keluar dari kursi kemudi bertukar posisi dengan Bosnya.


"Ponsel Anda di dashboard Pak," seru Amar.


Davin hanya mengangguk kemudian menjalankan dengan kecepatan tinggi mobilnya mencari istrinya.


****


Sementara di tempat berbeda, Pak Lemin tak berani sama sekali bersuara melihat keadaan Abel yang kacau balau. Majikan perempuannya sangat berbeda sekali dengan saat ia pergi ke kantor tadi.


Abel terus terbayang bayangan suaminya bersama si tanaman duri. Ia menyeka air matanya yang tak berhenti mengalir. Tangannya terus mengelus perutnya yang masih rata. Ia sangat kacau, Abel merasa sangat terpukul melihat kelakuan suaminya.


Dering ponsel Abel terus berbunyi tapi Abel sama sekali tidak peduli. Ia tahu suaminya yang terus menelpon tanpa henti.


“Maaf mbak, kita mau kemana sekarang?” tanya Pak Lemin. Pak lemin memberanikan diri bertanya di tengah kondisi majikannya yang porak poranda di kursi penumpang belakang.


Abel mengelap air yang keluar dari hidungnya, entah kenapa mulutnya sangat sulit berbicara karena dia sesegukan akibat menangis. Mendengar pertanyaan sopir akan kemana? Ia juga binggung akan kemana. Kedua orang tuanya tidak ada di kota ini. Keluarganya semua tinggal di kota B. Abel juga tidak terlalu banyak mengenal orang di ibukota.


Abel masih belum mejawab pertanyaan sopir. Ia tidak bisa pergi terlalu jauh, mengingat kondisi kehamilannya yang masih rentan. Abel hanya bisa megelus perutnya berharap bayi dalam kandungannya baik-baik saja mengingat jiwa ibunya terguncang.


“Saya nggak tau mau kemana Pak,” ucap Abel.


“Lebih baik mbak pulang saja, kalau sudah di rumah nanti bisa menenangkan diri,” balas Pak Lemin.


Abel sunggguh tidak mau pulang ke rumah, ia pasti akan bertemu lagi dengan suaminya. Ia bahkan rasanya ingin berkemas dan pergi meninggalkan kota ini. Ia jijik mengingat lagi kejadian di kantor suaminya.


“Entahlah Pak,” jawab Abel masih sesegukan.


“Mbak, kalau ada masalah dengan suami sebaiknya dihadapi bukan menghindar. Ingat saja anak dalam kandungan Mbak. Kita tidak boleh egois dan emosi yang bisa berakibat buruk nantinya.”


Abel masih diam, ia mengelus lagi perutnya. Ia memang tak punya tujuan sekarang perasaannya masih bercampur emosi. Ia tidak boleh memikirkan yang lain sekarang. Prioritas utamanya hanya anaknya, semua harus demi calon bayinya.


“Ya udah kita pulang Pak,” kata Abel.


Pak Lemin memutar kemudi mengarah kearah perumahan tempat tinggal Abel. Tak lama berselang mobil sudah tiba di depan halaman rumah. Abel bergegas turun masuk ke dalam rumah.


“Mbak udah pulang? Tadi di cari bapak mbak.” Bi Ningsih menyapa Abel yang masuk ke dalam rumah.


Abel hanya tersenyum tanpa menjawab langsung naik tangga menuju kamarnya. Ia lalu mengunci kamarnya dan merebahkan dirinya di sofa.


Baru beberapa menit menenangkan diri, terdengar suara suaminya dari balik pintu sambil terus mengedor pintu. Abel rasanya sangat geram. Ia bertekad setelah kondisi lemahnya pulih, ia akan menurunkan koper dari lemari dan mengemasi barangnya.


“Sayang! Kamu salah paham! Apa yang kamu lihat nggak seperti yang kamu pikirkan!” teriak Davin sambil terus mengedor pintu.


“Aku nggak peduli, bang Davin bermesaran aja dengan perempuan itu!” teriak Abel.


“Sayang Abang bisa jelaskan keadaan yang sebenanrnya! Buka dulu pintunya! Sayang buka pintunya!”


“Oke, kalau kamu nggak mau buka pintu. Abang minta sekarang kamu mejauh dari pintu. Hitungan ketiga Abang akan dobrak pintunnya.”


Masih belum ada jawaban dari Abel. “Sayang menjauh dari pintu!” Davin mulai mendobrak pintu meskipun keras. Ia menendang lalu membenturkan tubuhnya, setelah empat kali pintu kamarnya terbuka.


“Sayang! Apa yang terjadi tidak seperti yang kamu lihat!” Davin mencengkeram lengan istrinya.


“Abel jijik sama Abang.” Abel menepis tangan Davin tapi gagal, tenaga suaminya lebih kuat darinya.'


“Floris menggantikan Amar mengoles air es di perut Abang, Abang akan mencegah Floris tapi kamu keburu datang tiba-tiba dan salah paham dengan Abang.” Davin berusaha menjelaskan pada Abel.


"Bohong!" teriak Abel.


Davin membuka kancing bajunya dan melepaskan kemejanya.


"Sayang tadi Floris tidak sengaja menumpahkan kopi panas di baju Abang, lihat!" Davin menunjuk otot perutnya yang merah.


"Abang nggak berdua dengan Floris dalam ruangan, ada Amar di ruang wadrobe mengambil baju ganti untuk Abang." Davin menjelaskan lagi pada Abel.


Abel melihat perut suaminya yang sebagian merah seperti terkena benda panas. Apa benar yang dikatakan suaminya? Abel masih saja ragu.


"Kamu nggak percaya sama Abang, kamu lebih percaya dengan ketidak kebenaran apa yang kamu lihat. Abang akan suruh Amar tunjukkan rekaman CCTV ruangan Abang sama kamu, kalau ucapan suamimu ini nggak pernah kamu percaya."


Abel mulai lemah sekarang, apakah ia terlalu mencurigai suaminya? Ia juga melihat perut suaminya yang merah seperti terasa perih.


Davin menempelkan dahinya di kening Abel. Sambil tangannya menangkap wajah Abel dengan kedua tangannya.


"Abang nggak mungkin berpaling ke wanita lain Sayang. Abang sangat mencintai kamu. Abang nggak mungkin mengkhianati kamu dan cinta kita."


Abel masih meneteskan air mata kali ini Davin segera menyeka air mata Abel. Ucapan suaminya meluluhkan hatinya. Abel memeluk suaminya.


"Terima kasih sudah percaya sama Abang. Abang tadi sangat takut kehilangan kamu dan anak kita. Bagaimana Abang bisa hidup tanpa kamu?"


"Abel kesal sekali dengan sekretaris Abang. Kenapa dia selalu mengambil kesempatan?"


"Abang akan mencoba mengajukan pergantian atau pertukaran sekretaris. Kalau memang itu bisa membuat kamu tenang Sayang." Davin mempererat pelukannya. "Auwh ...." pekik Davin ketika tangan Abel menyentuh perutnya yang terkenal kopi panas.


"Sakit ya Bang," tanya Abel. Davin mengangguk. "Abel olesin jel dingin biar ruamnya nggak parah." Abel akan berdiri, tapi tangan suaminya mencegahnya hingga Abel duduk kembali ke sofa.


"Tunggu sebenar Sayang." Davin meraih tengkuk leher Abel dan menempel bibirnya ke bibir istrinya. Ia mencium Abel dengan dalam memberikan sesapan di setiap permukaannya bibir istrinya yang manis karena lipblam Cherry. Karena ia sangat membutuhkan ini dari pada obat oles apapun.


Abel melepaskan ciumannya untuk mengambil nafas. "Cukup ya Bang, Abel oleskan dulu jelnya biar nggak melempuh," ucap Abel.


Abel mulai mengoles permukaan kulit perut suaminya yang kemerahan. Sejenak Abel berpikir pasti ini bukan ketidak sengajaan tanaman duri pasti sengaja menumpahkan kopi ke suaminya. Dia pasti ingin menggoda dan mencari simpati suaminya.


Dia tidak bisa di biarkan, aku harus beri tanaman duri pelajaran dan singkirkan. Kamu hanya tahu Abel yang manja kan, besok kamu akan tahu Abel sebenarnya. Abel.


"Abang, besok Abel ikut ke kantor dengan Abang," pinta Abel.


"Mau ngapain sayang,"


"Abel ada urusan, nanti juga Bang Davin tahu," jawab Abel.


"Oke," jawab Davin.


.


.


.


.


.


Next....


Panjang kan Zen ...


udah tahu ya kenapa Ada meraba-raba suami orang.


Abel mau ngapain ya?🤔🤔🤔


tinggalkan jejak like komen vote dear 😘