
Mata Abel terbangun ketika merasa gerah dan sesuatu yang berat menimpa pahanya. Tentu saja itu adalah kaki suaminya yang membelit pahanya seperti guling.
Di kehamilannya yang sudah memasuki usia 28 minggu perut Abel memang sudah nampak membuncit dan besar. Hingga ia gampang sekali merasa gerah ketika tidur. Minggu-minggu terakhir Abel bisa tidur dengan nyenyak usai mengurusi masalah Floris.
Abel mencoba dengan pelan menyingkirkan kaki suaminya. Tapi tidak tega melihat wajahnya yang tertidur dengan pulas menghadap wajahnya. Abel mengamati wajah suaminya yang terlelap sambil mengelus perutnya.
"Lihat Daddymu dek, kalau sudah tidur lupa mommy sedang hamil di timpa-timpa begini," Abel menghibur diri berbicara pada perutnya ketika merasakan sesuatu yang menendang di dalam sana.
Abel menghadapkan wajah di depan suaminya, ia mengamati wajah suaminya sambil mengelus perutnya. Ia membayangkan calon jabang bayinya nanti mirip dengan siapa? Daddy yang tampan dan wajahnya menjual atau mirip dirinya blasteran lokal Turki. Ia jadi senang sendiri membayangkan hal itu. Ia juga menoel pipi suaminya pelan.
"Tapi kalau sudah gede, sifat kamu jangan kayak Daddy ya dek, suka patahin hati ratusan cewek. Tapi jangan juga kayak mommy yang cerewet dan emosian." Abel tertawa pelan sambil mengelus perutnya. Ya, menurut hasil USG jenis kelamin bayinya adalah laki-laki.
Abel tersentak, suaminya malah bergerak dan memeluknya lebih erat.
"Tadi kamu ngomong apa Sayang sama anak kita." Davin yang masih terpejam mendekat wajahnya sambil mengesekan hidung di pipi Abel.
"Abel cuma bilang Daddy nya ganteng, nanti mirip Daddy aja," seru Abel. "Abang jangan keceng-keceng nanti adeknya sesak nafas." Abel memukul tangan Davin. Davin melonggarkan pelukannya.
Davin membuka mata mencubit hidung Abel, "Kamu pikir Abang nggak denger tadi kamu ngomong apa."
Abel terkekeh, "memang bener kan Daddy-nya suka bikin patah hati cewek."
"Tapi sekarang Daddy-nya cuma cinta sama mommy aja." Dengan satu tangannya, Davin mengelus perut Abel.
"Masa," canda Abel.
"Mommy kamu dek cemburuan," ucap Davin lagi berbicara pada perut Abel.
"Cemburu tanda cinta, takut Daddy nya si bawah lari tanaman - tanaman liar!" jawab Abel.
Davin tak tinggal diam, ia langsung mencium bibir Abel sekilas.
"Suka deh liat mommy kalau lagi cemburu gini." Satu gigitan mendarat di telinga Abel.
"Abang geli ih, masih pagi ini."
"Kamu yang suka mancing Abang Sayang, sekarang Abang mau tengokin baby kita," Davin melepaskan kaosnya dan sudah berada di atas Abel bertumpu pada kedua tangannya.
"Abang masih pagi, ini weekend loh kita harusnya olahraga di luar ruangan," jawab Abel memukul pelan dada suaminya.
"Abang maunya olahraga di dalam kamar."
Abel memang meronta di awal tapi tidak beberapa menit selanjutnya. Tubuh Abel selalu saja patuh pada setiap sentuhan suaminya. Karena Abel juga selalu menginginkan sentuhan suaminya. Pagi ini menjadi panas di kamar suami istri ini.
...----------------...
Memasuki kehamilan trimester ketiga Abel memang tidak banyak melakukan kegiatan. Bobot tubuhnya tubuhnya semakin besar. Nafsu makannya kini juga lebih mengerikan, karena bayinya suka sekali menendang ketika lapar. Sesekali ia mengerjakan skripsimya yang sempat terbengkalai di tengah waktu luangnya.
Abel begitu menikmati kehamilannya sekarang, ia juga tidak lagi sibuk memikirkan masalah suaminya di kantor. Ia percaya sekertaris suaminya yang sekarang, sekertaris itu tidak bisa mengoda atasannya karena sekretaris itu juga sudah berkeluarga.
Usai membaca beberapa ayat Alqur'an untuk bayinya, ia meraih ponsel di meja dan meletakkan Al Qur'an meja.
Di temani keripik kentang di tangannya, Abel melihat video persalinan di channel YouTube. Sedikit merinding sih, ia menutup buka mata melihat layar ponselnya. Tapi ia juga lucu melihat wajah suami yang begitu panik menunggu saat buah hatinya lahir. Abel jadi penasaran gimana wajah dan reaksi suaminya nanti menemani di ruang persalinan.
Abel memang berharap bisa melahirkan dengan cara normal sepertinya impian semua ibu. Ia juga mulai banyak belajar dari Mama Riri masalah persiapan menghadapi persalinan. Tidak di pungkiri ada sedikit rasa cemas dan takut, tapi sekarang ia lebih menikmati saat kehamilannya dan gerakan-gerakan bayi yang membuat selalu happy.
"Sayang lihat apa?" Davin dari belakang sofa mengagetkan Abel.
"Abang udah kelar kerjaannya," tanya Abel pada suaminya yang baru keluar dari ruang kerja.
"Udah Sayang, jadi kita beli perlengkapan bayi," tanya Davin.
"Jadi dong, sebentar Abel masih mau lihat video dulu." Abel masih mau menyelesaikan menonton video persalinan ini.
Davin ikut duduk di sofa sambil mengelus dan menciumi perut istrinya tidak lupa juga ia memainkan udel Abel yang menonjol seiring semakin membesarnya perutnya.
"Abang geli ih! jangan ciumi udel lagi." Abel menyingkirkan tangan suaminya yang sekarang memainkan udelnya.
"Lucu sayang udel kamu, kenapa bisa muncul gitu ya. Nanti semakin gede perutnya, gede juga dong benjolannya," tanya Davin.
"Ya Mungkin Bang, Abel juga nggak tahu. Kan baru ini hamil," jawab Abel. Davin memang suka sekali memainkan udel Abel yang menonjol selama hamil.
"Lucu ya sayang." Tangan Davin lagi-lagi tidak bisa diam memainkan udel Abel.
"Abang geli, jahil banget." Abel memukul tangan suaminya. "Abel mau ganti baju dulu, kita ke mall sekarang," sambubg Abel.
...****************...
Abel dan Davin sudah tiba di pelataran salah satu mall di ibukota yang cukup rame ketika weekend sore ini. Pak Lemin membukakan pintu untuk keduanya atasannya.
"Terimakasih kasih Pak," ucap Abel.
"Selamat berbelanja nyonya besar," balas Pak Lemin. Abel hanya tersenyum akrab menanggapi pak Lemin, sopir yang selalu memanggil sebutan mengelikan ketika Abel bersama suaminya.
Davin mengandeng tangan Abel menuju mall. Keduanya langsung menuju baby shop yang di rekomendasikan asisten Davin. Keduanya mulai memilih perlengkapan bayi yang sebelumnya di list oleh Abel.
"Abang ini lucu banget." Abel menunjukkan jumper bayi yang lucu.
"Ya udah beli sayang, beli semua perlengkapan yang sekiranya dibutuhkan anak kita," ucap Davin.
Tanpa pikir panjang, Abel Langsung memborong yang di anggapnya lucu dan menggemaskan. Perlengkapan bayi yang di borong pasangan ini mulai di masukan ke dalam kantong-kantong tas belanjaan.
Petugas Baby shop membantu Pak Lemin membawakan puluhan kantong-kantong belanjan milik Abel ke mobil. Abel sudah mengecek semua belanjaannya dan beres.
"Abang, Abel lapar." Abel mengelus perutnya.
Davin mengelus perutnya istrinya. "Anak Daddy lapar ya, ya udah kita cari makan dulu."
"Abel pengen masakan western," Abel menunjuk layar ponselnya pada Davin. Itu salah satu resto Masakan western dengan chef yang ada di acara musterchef di TV.
"Restonya disini," tanya Davin.
"Ya Abang, restonya ada di mall ini di lantai atas, yuk kita meluncur." Abel mengandeng lengan Davin menuntunnya berjalan menuju lift.
Keduanya memasuki lift yang kosong. Abel merebahkan kepalanya dengan manja di pundak suaminnya. Lift terbuka ketika di lantai berikutnya.
"DASAR PELAKOR, WANITA JA-LANG ITU HARUS SAYA HABISI SEKARANG JUGA!" Kata seorang ibu-ibu kasar penuh emosi yang masuk ke dalam lift.
"Tenang jeng, tenang kita nggak boleh emosi," suara temannya yang mencoba menenangkan ibu-ibu bersanggul dengan dandanan waow, ditambah tas branded di tangannya dan cincin berlian yang di beberapa jarinya.
Abel mengeratkan rangkulan pada suaminya sedangkan tangan satunya hanya mengelus perutnya.
Amit-amit nak, ni ibu sosialita bar bar banget ya.
Davin tersenyum, melihat wajah Abel yang panik. Ia mengelus tangan istrinya mencoba menenangkan.
Ting ... pintu Lift terbuka.
"SAYA HABISI WANITA ITU!" Ibu itu langsung keluar dari Lift dengan wajah garangnya.
Abel dan Davin juga ikut keluar karena menuju lantai yang sama-sama. Sekilas melihat dari samping. Davin merasa tidak asing dengan ibu-ibu garang itu. Ia mencoba mengingat-ingat lagi. Dia seperti istri salah satu petinggi perusahaannya.
"Ibu-ibu tadi serem banget Bang," seri Abel pada suaminya.
"Abang kenal sayang Ibu tadi, kita masih saudara jauh," jawab Davin. Ia sudah mengingat siapa wanita yang sudah melenggang dengan emosi tadi.
"Serius! Siapa Bang?" tanya Abel penasaran.
"Dia Tante Mirna, istrinya Pak Heru direktur di kantor Abang," jawab Davin.
"Kita ikuti Bang, dia kayaknya mau bikin keributan, emosi banget." Abel yang kepo mengandeng suaminya berjalan lebih cepat.
.
.
.
.
.
.
NEXT....
😳😳😳😳
Tinggalkan jejak dear like koment vote 😘