Lovely Wife

Lovely Wife
kedatangan Pria jahat



tiga bulan sudah sepeninggal nenek, toko roti nampak cukup ramai mungkin karena Avil saat ini sangat fokus pada toko roti dan tidak bekerja diluar. Merry dan Jenni juga nampak semangat mengelola toko roti.


"nona Avil, sepertinya kita membutuhkan 1 orang baker lagi.. aku dan Jenni tidak mampu memproduksi roti dalam jumlah yang cukup banyak. semakin hari pesanan roti kita cukup tinggi"


"aku sepemikiran denganmu Merry, sudah beberapa hari ini aku melihat kalian seperti kuwalahan. aku sudah mencoba membuka lowongan untuk baker, kuharap kalian bersabar sampai kita mendapatkan baker. "


"baik nona, saya dan Merry akan berusaha sekuat tenaga"


"terimakasih Merry, Jenni, aku akan ikut membantu mengemas dan menata roti serta menghandle kasir"


saat tengah asik mengobrol dan menata roti datanglah seorang pria berbadan besar dengan perut buncit bersama wanita dandanan menornya kedalam toko dan mendekat ke arah kasir dimana Avil tengah duduk.


"bisakah aku bertemu pengelola toko ini? "


Avil mengerutkan dahi


" ya saya sendiri pengelola toko roti ini, ada yang bisa saya bantu tuan? "


"kamu? apa hubunganmu dengan pemilik toko roti ini? "


"nenek Sinu adalah pemilik toko ini, beliau sudah meninggal 3 tahun lalu dan memberikan amanah pada saya untuk mengelola toko roti ini"


"kau bukan pemilik asli toko ini kau tidak punya hak atas toko ini"


"apa maksud tuan? dan tuan ini siapa? "


"aku adalah anak kandung nenek Sinu lihatlah ini "


Avil mengambil sebuah foto dimana dalam foto tersebut telihat ada nenek Sinu bersama seorang anak muda yang mirip sekali dengan orang di depannya ini.


"lalu apa mau tuan? "


"masih bisa kau bertanya padaku? kau bukan siapa-siapa nenek berani sekali kau berada di toko ini yang seharusnya menjadi milikku"


"maaf tuan selama 20 tahun saya tinggal bersama nenek anda sama sekali tidak pernah datang mengunjungi nenek, bahkan saat terakhir nenek anda pun tidak ada. "


"itu tidak penting, aku berada di Italia bersama keluarga ku, aku tidak bisa dengan mudah datang kemari. sebaiknya kau dan kedua karyawanmu segera meninggalkan toko ini kalian tidak berhak atas toko ini. "


"kalian tunggu disini. "


"cepat kalian tinggalkan toko ini, sebelum aku gunakan cara kasar pada kalian. "


"tidak, saya tidak akan pergi. nenek memberikan amanah pada saya untuk mengelola toko ini dan saya akan mempertahankan toko ini apapun keadaannya. "


"berani sekali kau melawanku, aku sudah memperingatkan baik-baik tapi kamu tidak mau menurut. "


"kalian berdua seret mereka keluar dari toko ini. "


seketika terjadi keributan besar-besaran dalam toko itu, 2 pria preman itu secara kasar menyeret Avil, Merry dan Jenni keluar toko. mereka juga menghancurkan isi toko hingga toko nampak sangat berantakan.


"sudah non, jangan masuk nona bisa terluka lagi, lihatlah kaki nona berdarah. "


"tidak Merry aku harus mempertahankan toko ini nenek sudah memberikan amanah. nenek akan sedih melihat tokonya hancur. "


"tapi nona bisa terluka parah, lihatlah darah dikepala nona terus mengalir sebaiknya kita pergi nona. "


"tidak kalian pergilah mencari bantuan, aku akan disini. "


Jenni mencoba pergi ke kantor polisi, mencari pertolongan. tak lama setelah datanglah sebuah mobil sport yang sangat megah dan sebuah mobil hitam dibelakangnya. keluarlah seorang laki-laki dengan setelan hitam dan tatanan rambut yang rapi lengkap dengan kacamata hitamnya. wajahnya nampak cerah sekalipun ia berkacamata.


Avil yang hendak melangkahkan kaki ke depan sontak menghentikan langkahnya, ia mengamati laki-laki itu masuk ke dalam toko roti nenek bersama para pengawalnya yang cukup banyak. Avil semakin penasaran ia pun perlahan berjalan mengendap-endap menuju toko.


"Tuan Dero, anda ... anda. "


sambil terbata-bata Luis menyapa Dero yang baru saja memasuki toko roti


"ya ini aku.. apa kau kaget dengan kedatanganku? kau bingung kenapa aku bisa tahu kau disini? "


suara itu sangat jelas senyum hingga Avil pun mendengarnya.


"Dero, Luis siapa mereka? " kenapa mereka ada di toko nenek ? selama ini nenek tidak pernah menceritakan tentang mereka"