Lovely Wife

Lovely Wife
Empat bulanan



Sore ini seluruh keluarga besar Abel berkumpul di rumahnya. Ada omah dan Opahnya, kedua mertuanya dan juga Om dan tantenya. Hanya Miranda saja yang tidak hadir dalam acara ini. Abel memaklumi kesibukan tantenya dalam mengelola perusahaan miliknya.


Dekorasi pun sederhana tapi mewah dengan tirai dan bunga-bunga sebagai pemanisnya. Abel percayakan semuanya pada EO yang menangani masalah ini.


Abel terlihat cantik mengenakan baju gamis warna biru toska pilihan ibu mertuanya. Bajunya yang sedikit melekat memperlihatkan perutnya yang mulai buncit meskipun belum besar. Davin pun memakai baju dengan warna senada seperti Abel.


Semua tamu undangan keluarga besar dan para sebagian tetangganya sudah berkumpul. Ustadz yang dipercayakan Abel dan Davin mengisi acara mereka mulai membuka acara ini dengan bacaan Al-Qur'an.


Abel dan Davin duduk berdua bersanding di dekorasi tirai dengan di alaskan karpet bulu tebal, Ia di minta Ustadz ikut membaca ayat-ayat suci Al Qur'an. Kali ini membaca surat Al Lukman sesuai anjuran ustadz. Keduanya membaca bersama-sama ustadz.


Disusul kemudian ustadz membaca doa untuk kebaikan ibu dan sang bayi yang ada di perutnya.


Dan acara empat bulanan abel ini, ditutup dengan nasehat agama yang di bertema menjadi orang tua yang baik dan besarnya pahala untuk ibu yang sedang hamil.


Setelah semua acara di lewati, semua tamu undangan menikmati menu makanan yang di hidangankan. Kini Davin dan Abel beramah tamah dengan tamu yang datang ke rumahnya untuk mendoakan kehamilannya.


Sangat jarang Abel melihat bahkan bersosialisasi dengan tetangganya di perumahan ini. Namun kini, mereka datang memenuhi undangannya. Abel merasa senang bisa mengenal tetangganya.


Abel dan Davin terus bergandengan selama acara, tak lupa juga Davin mengelus perut istrinya merasa bahagia. Keduanya berharap kelak bayinya bisa lahir dengan sehat dan selamat.


Davin meminta ijin pada Abel untuk bergabung dan beramah tamah dengan tamu laki-laki. Sekarang juga nampak keluarga Wijaya sudah tidak bersitegang lagi dengan mertuanya. Semuanya berkumpul dan saling berbincang dengan akrab di acara ini. Tak sia-sia Davin kejar seharian masalah perusahaan istrinya. Berbuah manis dengan keluarga intinya yang menjadi rukun kembali.


"Vin, apa rumahmu ini tidak terlalu kecil. Untuk acara begini saja sudah penuh dengan orang. Papa takut cucu Papa nanti sesak nafas di rumah ini," ucap Pak Hendrawan disela menikmati makannya.


"Tapi Om, aku rasa rumah mereka ini cukup saja untuk pasangan yang baru menikah." Balas Ervan.


"Iya Pa, Papa Ervan bener, lagi pula ini pilihan abek. Davin hanya mengikuti istri supaya dia senang," ucap Davin.


"Terserah kalian saja lah, kenapa sekarang seleramu jadi turun Vin." Pak Hendrawan menyindir lagi.


"Sudahlah Pa, yang terpenting sekarang adalah semoga Abel dan baby-nya sehat


sampai melahirkan. Kenapa malah membahas rumah sih," ucap Nolan.


"Ya Pa, Nolan benar, ayo kita lanjutkan makan." sahut Davin.


Disela waktu berkumpul dengan keluarga, Amar dengan pelan mendekati atasannya ingin memberi tahu sesuatu


"Pak, saya sudah mendapat kabar siapa pemilik mobil merah itu, apa bapak ingin dengar kabar itu sekarang atau setelah semua tamu di rumah ini bubar." Amar membisikkan sesuatu di telinga Davin.


Davin merasa lega dan penasaran. Masih banyak keluarganya di rumah ini, tapi ia juga tidak bisa tenang sebelum tahu pelakunya.


"Temui aku di ruang kerjaku di atas sepuluh menit lagi." Davin membalas membisikkan di telinga Amar.


"Baik Pak," Balas Amar.


Davin berpamitan pada keluarganya untuk naik ke atas ada sedikit urusan. Ia juga menemui Abel untuk meminta waktu ke atas sebentar untuk membicarakan masalah bisnis mendesak dengan Amar di atas.


"Abang janji nggak akan lama," ucap Davin.


"Cepat ya Bang, tamu kita nanti pasti cari Abang." Abel sebenarnya kesal harus ada bahasan bisnis dalam acaranya.


"Hanya sebentar." Davin mencium kening Abel lalu berjalan menuju tangga.


Davin menyadarkan kepala di sofa menunggu kedatangan Amar. Ia begitu penasaran siapa yang berusaha mencelakai Istrinya.


"Permisi Pak." Amar muncul dari balik pintu.


"Masuklah Amar," perintah Davin. "Cepat perlihatkan padaku siapa orang yang ingin mencelakakan istriku. Apa ini ada hubungan dengan bisnis kita." lanjutnya lagi.


"Pak, sepertinya tidak ada sangkut pautnya dengan kompetitor perusahaan. Wanita ini bekerja di perusahaan Adiguna." Amar menunjukkan foto bukti screen shot pemantauan anak buahnya.


Davin langsung membulatkan matanya melihat foto yang di tunjukan asistennya dari ponsel.


"Apa kau yakin dia yang ingin menyelakai istriku! apa motivasinya!" ucap Davin kaget.


"Kita punya banyak bukti Pak, kita juga bisa mengajukan laporan jika dia memang membahayakan istri bapak," balas Amar.


"Amar! suruh dia besok menemui aku dulu!" ucap Davin.


"Baik Pak," jawab Amar.


Tok tok tok


"Masuk!" teriak Davin.


Pak Lemin muncul dari pintu, "Maaf Pak, bapak di panggil nyonya besar karena ada sebagian tamu berpamitan."


"Ya Pak, bilang istri saya sebentar lagi saya turun," seru Davin disusul agukan sopan Pak Lemin.


"Amar ingat tadi perintahku," ucap Davin.


"Akan saya atur pertemuan Anda Pak," balas Amar.


"Aku turun dulu menemui istriku." Davin bangun dari kursi dan berjalan keluar dari u


ruangan.


.


.


.


.


.


.


NEXT....


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘