Lovely Wife

Lovely Wife
Janji



Davin hanya melihat dokter sibuk memeriksa Abel. Tak lama Abel membuka matanya dan nampak binggung. Davin segera menghampiri istrinya. Petugas medis yang menangani Abel nampak senang Abel mulai siuman.


Abel yang binggung hanya bisa menggenggam tangan suaminya.


"Abang kenapa Abel disini, tadi Abel mau ke kamar mandi," ucap Abel yang binggung kenapa dirinya bisa berada di rumah sakit.


"Sayang, tadi kamu pingsan dan bikin Abang panik," balas Davin.


"Astaghfirullahaladzim ... Abel nggak sadar Bang," jawab Abel.


"Pak, ibu Abelia harus dirawat ya. Kita observasi dan lakukan beberapa test untuk mengetahui sejauh mana Preeklampsia ibu," ucap Dokter Stella yang langsung menangani Abel.


"Ya ... lakukan apa saja yang terbaik untuk Anak dan istri saya dok."


"Ibu masih pusing," tanya dokter pada Abel.


"Sekarang udah nggak terlalu dok," jawab Abel.


"Ibu menginap disini ya untuk sementara ini. Kita akan pantau kondisi ibu," ucap Dokter pada Abel.


Abel mengangguk pasrah. "Apa saja demi anak saya dok."


Abel pun mulai di pasangi beberapa alat infus sebelum di bawa ke ruang rawat inap. Abel di pindahkan dari ruang UGD ke ruanh rawat inap rumah sakit.


Davin menghubungi seluruh keluarganya, memberitahukan keadaan Abel. Terutama keluarga Abel. Davin berharap dengan kedatangan keluarga Abel memberi hal positif dan semangat untuk Abel.


Davin sendiri terus berada di samping Abel. Abel memiringkan tubuhnya ke kiri berhadapan dengan suaminya.


"Sayang, kamu dan bayi kita pasti baik-baik aja. Kamu jangan terlalu panik, kamu dan bayi kita kuat dan sehat." Davin mengenggam erat kedua tangan Abel.


"Bang, kondisi Abel pasti nggak baik. Abel aja nginep disini. Abel kasian anak kita Bang."


"Ssstt ...." Davin mengecup bibir Abel agar berhenti berpikir negatif. "Kamu dan anak kita akan sehat oke."


"Akhir-akhir ini Abel memang sering pusing. Tapi kemarin yang terasa banget pusingnya."


"Kamu nggak pernah cerita sama Abang."


"Abel kira itu hal wajar selama kehamilan."


"Sekarang kamu istirahat supaya cepat pulih." Davin menarik selimut menutupi tubuh Abel.


Abel menurut kali ini, ia memejamkan mata dengan tangannya yang memegang erat tangan suaminya.


...****************...


Malam ini Riri dan Ervan sudah tiba di ibukota. Keduanya langsung mencari penerbangan yang ada di hari ini setelah mendengar kabar dari Davin. Riri terus mengusap punggung suaminya yang begitu cemas dengan keadaan Abel. Ya, Riri dan Ervan kini sudah berada di ruangan rawat inap Abel. Keduanya langsung ke rumah sakit setelah tiba di bandara.


Perawat juga terus memeriksa keadaan Abel setiap jam. Mereka juga memasang alat test pada perut Abel untuk melihat detak jantung bayi pada kandungan.


Ervan mengajak Davin ke kafe rumah sakit setelah Abel tertidur. Ervan ingin berbincang santai dengan suami putrinya itu, karena ia tak tega melihat Davin yang kelihatan stres.


"Vin. Dulu waktu ibu Abel hamil dia juga mengalami pre-eklampsia seperti Abel sekarang." Ervan membuka pembicaraan sambil menyesap kopi.


"Oh ya Pa, tapi bagaimana keadaannya?" tanya Davin.


"Dokter bilang, tekanan darah Amanda tinggi karena tingkat stresnya juga tinggi. Kamu tahu sendiri Amanda itu pekerja keras. Dia juga keras kepala."


"Mama Amanda apa juga pernah menginap sebelum melahirkan Pa. Seperti Abel sekarang."


"Ya Vin. Amanda sempat menginap di rumah sakit karena tekanan darah tinggi tak kunjung turun. Tapi Alhamdulillah Abel bisa lahir dengan selamat. Kita doakan saja Abel dan bayinya pasti baik-baik aja."


"Amin Pa," jawab Davin.


"Kamu mau jadi ayah, harus kuat. Kalau kamu juga stres gimana Abel bisa tenang," ucap Ervan menepuk bahu Davin. Davin merasa sedikit tegar sekarang.


Keesokan paginya, Davin diminta menemui dokter untuk memberitahukan hasil test pemeriksaan selama masa observasi. Dadanya berdebar lebih kencang mendengar dari dokter bagaimana keadaan Abel saat ini.


"Jadi dokter bagaimana keadaan istri saya sekarang." Davin berhadapan langsung dengan dokter Stella.


"Keadaan sudah di tahap parah Pak, tekanan darah sudah tak kunjung turun. Mulai terjadi pembengkakkan juga pada ibu Abelia. Disini juga saya menemukan kurangnya suplai darah ke bayi karena terhambat. Kalau kehamilan terus dilanjutkan akan mengancam nyawa ibu dan bayinya Pak." Penjelasan dokter yang membuat Davin semakin panik.


"Lakukan apa saja Dok, supaya istri saya bisa sembuh," ucap Davin pikirannya kacau saat ini.


"Sebenarnya penyembuhan Preeklampsia itu mengeluarkan bayinya itu sendiri Pak," ujar dokter Stella.


Davin menghela nafas. "Tapi Dokter, perkiraan lahir bayi saya masih enam Minggu lagi."


"Ya Pak, kita akan lakukan tindakan operasi C-section Pak. Karena usia kehamilan ibu Abelia belum cukup umur untuk di lakukan induksi."


Davin semakin cemas bayinya yang belum cukup umur, di tambah lagi istrinya harus di operasi.


"Apa dengan operasi bisa menyelamatkan istri dan bayi saya dok," ucap Davin.


"Kalau begitu saya setuju istri saya di lakukan tindakan operasi dok." Davin pasrah kalau memang harus jalan itu untuk pengobatan istrinya.


"Bapak tanda tangan disini Pak, persetujuan dilakukan tindakan operasi." Dokter Stella meyerahkan berkas pada Davin.


"Kapan istri saya akan di operasi dok," tanya Davin usai menanda tangani berkas.


"Secepatnya Pak. Siang ini," jawab Dokter Stella.


"Baik Dok, selamatkan istri dan anak saya Dok," ucap Davin lagi.


"Pasti Pak," jawab Dokter Stella.


Davin berjalan lemas kembali ke kamar rawat inap Abel. Ia harus berbicara setenang mungkin dengan Abel. Pasti sekarang istrinya sudah cukup stres dengan keadaannya saat ini.


Davin masuk ke dalam kamar Abel dan di dapati istrinya hanya sendiri di kamar. Mungkin kedua mertuanya keluar mencari sarapan. Istrinya melempar senyuman terlihat ia menunggu kedatangannya.


Davin mendekat ke arah Abel dan duduk di sebelahnya Abel. Davin bisa melihat Abel tersenyum di tengah rasa cemas seperti dirinya.


"Sayang, tadi Abel baru ketemu dokter. Kata dokter bayi kita harus segera di lahirkan." Davin mengenggam erat tangan Abel.


"Abang HPLnya masih enam minggu lagi," ucap Abel panik.


"Sayang cuma itu cara untuk keselamatan ibu dan bayinya." Davin membelai kepala Abel mencoba menenangkan Istrinya.


Abel kembali termenung. Dari lubuk hati Abel yang paling dalam. Abel ingin bisa melahirkan normal.


"Apa Abel sudah separah itu sampai anak kita dilahirkan sebelum waktunya." Mendadak cairan bening keluar dari mata Abel.


Davin mengangguk karena merasa tak perlu lagi menutupi keadaan Abel saat ini. Air bening semakin merembes di mata Abel.


Davin menghapus air mata Abel, ia menjadi sangat terpukul melihat istrinya sekarang.


"Sayang, kamu dan anak kita pasti baik-baik saja Sayang."


"Kapan operasi Bang?" tanya Abel.


"Siang ini Sayang."


"Abang, jika memang hanya operasi yang bisa menyelamatkan anak kita. Abel sangat siap di operasi," ucap Abel. Baginya sekarang keselamatan bayinya yang terutama.


"Kita pasti akan pulang bersama anak kita sayang, kita jadi tidur bertiga setelah ini." Davin mencoba menghibur Abel. Abel tersenyum manis membayangkan saat itu.


"Abang, Abel bisa minta Abang berjanji sama Abel." Abel mengengam tangan Davin.


"Janji apa sayang?" tanya Davin.


"Abang harus janji sama Abel. Abang nggak boleh salahkan anak kita jika nanti terjadi sesuatu pada Abel. Abang harus jaga anak kita, Abang harus tetap berikan limpahan kasih sayang sama anak kita."


"Sayang, kamu ngomong apa sih. Kamu dan anak kita akan pulang. Oke." Davin semakin cemas mendengar ucapan Abel.


"Kata dokter setiap operasi ada resikonya Bang, Abang harus janji sama Abel."


"Sayang ...."


"Abel hanya ingin Abang janji," ucap Abel lagi memaksa.


Davin tidak punya pilihan lain untuk membuat istrinya tenang.


"Abang janji," tegas Davin.


"Alhamdulillah. Sekarang Abel siap di operasi," ucap Abel sambil menyeka air matanya.


.


.


.


.


.


.


.


Next.......


Ei lanjutkan nanti ya dear....siapkan tisu lap atau kanebo 😳


jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘