
Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit. Abel kini di ijinkan untuk pulang karena perdarahan sudah berhenti dan kondisinya sudah semakin baik. Hanya saja sekarang ia harus bedrest total tanpa melakukan banyak pergerakan selama dua minggu ke depan.
Abel dan Davin sudah memberitahu keluarga besarnya tentang kehamilan Abel. Pastinya, keluarga besarnya sangat senang atas kehamilan Abel. Terutama Papa Ervan, ia sudah tidak sabar ingin segera ke ibukota menemui Abel.
Selama di rumah, Davin selalu membantu keperluan Abel. Mulai dari makan, mandi dan hal lain yang mengharuskan Abel berdiri, Davin yang membantu melakukan. Sebenarnya Abel bisa berjalan sendiri, tapi karena suaminya yang terlalu mengkwatirkan keadaanya. Abel terpaksa menurut dan tidak membantah demi kandungannya.
Malam ini di rumah Abel yang tenang. Davin kembali dari lantai bawah membawa nampan berisi potongan buah apel, roti isi mini dan susu. Ia langsung duduk bersila di depan istrinya.
"Mau makan apa Sayang," tanya Davin.
"Ehmm, buah aja Bang," jawab Abel.
Selama beberapa hari terakhir tahu tentang kehamilannya, nafsu makan Abel pada makanan berat termasuk nasi dan makanan berat lainnya berkurang drastis. Abel yang tidak bisa tahan melahap jika melihat makanan enak, malah sekarang beralih sebaliknya. Ia lebih suka makanan yang segar dan tak membuatnya mual.
"Enak Sayang?" tanya Davin pada Abel yang lahap menyantap buah apel.
"Enak, apalagi Abang yang suapin," balas Abel tersenyum manis.
Davin tersenyum dan mencubit pipi Abel gemas mendengar ucapannya. "Setelah ini minum susu, minum obat baru istirahat."
"Belum malam, Abel masih mau baca itu." Abel menunjuk tumpukan buku di atas nakas.
"Sayang, kamu harus banyak istirahat! Ingat kata dokter," ujar Davin.
"Iya, Pak Komandan," balas Abel. Suaminya sedikit prosesif semenjak tahu kehamilannya.
Davin kembali memeriksa ponselnya sembari menunggu Abel menghabiskan makanannya.
"Abang besok mulai ke kantor?" tanya Abel.
"Tergantung keadaan kamu Sayang, kalau kamu memungkinkan untuk di tinggal, Abang pergi. Kalau belum bisa. Ya Abang akan stay di rumah."
"Bang Davin ke kantor aja, nggak enak sama yang lain, Bang Davin udah cuti empat hari. Abel bisa jaga diri kok." Abel berusaha meyakinkan suaminya.
"Kemungkinan besok Abang akan keluar kota Sayang. Abang akan ke kota B untuk rapat di sana." Penuturan Davin.
"Bang Davin ke Kota B, Abel jadi kangen sama adik-adik Abel dan yang lain." Abel bergelayut manja di lengan suaminya.
"Seandainya kamu sehat Sayang, pasti Abang ajak kamu. Amar udah disana hari ini."
Abel bangkit dari bahu suaminya yang nyaman. Matanya kini menatap suaminya tajam. "Kalau Pak Amar sudah di sana. Berarti Abang akan pergi berdua dengan Floris?"
"Ya Sayang, dia kan sekertaris Abang sekarang," jawab Davin apa adanya.
Abel seketika cemberut dan mengerucut bibirnya. Nafsu makannya mendadak hilang. Tapi untuk apa dirinya cemburu pada tanaman duri, itu hanya akan mempengaruhi kebahagiaan mentalnya dan si mungil yang ada di perutnya. Ya, meskipun harus tetep waspada.
"Ya Bang, Abel juga akan jaga anak kita baik-baik di rumah," balas Abel. Ia merasa lebih baik sekarang setelah mengingat Bayi yang ada si perutnya.
"Besok kamu nggak sendirian sayang, Mama akan datang nemanin kamu sampai Abang pulang."
"Oh ya, Mama Riri?" tanya Abel senang.
"Mama Mitha sayang, kalau Mama Riri harus ngurusin adek-adek kamu. Kalau Mama Mitha nggak mungkin ngurusi dan nyuapi Nolan. Mama Mitha lebih banyak waktu." Penuturan Davin.
"Ya, Abang langsung pulang kalau urusannya udah selesai," ucap Abel sambil memeluk manja lagi pada suaminya.
"Pasti Sayang, ya udah kalau udah selesai makan. Minum Susunya, obat terus kamu istrirahat."
Abel hanya mengangguk, Abel merasa seperti jadi bayi suaminya sekarang. Davin mengurusi keperluannya Abel dari A sampai Z.
Davin menyuruh Asisten rumah tangganya membersikan sisa makanan Abel. Abel kembali harus merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Mungkin beberapa hari ke depan hanya ini yang bisa Abel lakukan.
Sekilas Abel melirik ke arah Davin di sampingnya, suaminya masih serius dengan laptopnya. Abel kembali merenggut lagi mengingat besok suaminya akan pergi berdua dengan tanaman duri.
Abel menggelengkan kepalanya tak mau memikirkan hal yang tidak penting mengenai tanaman duri.
"Sayang, kenapa kamu nggak ngidam kayak ibu-ibu hamil yang lain," tanya Davin pada Abel.
"Seandainya bisa, Abel gemes pengen jambak rambut seseorang," jawab Abel jujur.
"Kamu aneh-aneh Sayang," ucap Davin malah jadi seram tahu keinginan istrinya.
.
.
.
.
.
NEXT.....
Nanti lanjut dear๐
follow Igeh Ei @einaz2508
Jangan lupa tinggalkan Jejak like komen vote loph u๐