
Terlepas dari hari kemarin yang menegangkan bersama Tante Mirna, hari ini suasana hati Abel kembali tenang. Ia berdiri di teras rumah sambil mengelus perutnya yang membesar. Di kehamilannya yang menginjak tujuh bulan, perut Abel memang membesar bulat. Bahkan banyak tetangganya yang beranggapan Abel seperti hamil bayi kembar. Padahal hanya ada satu bayi dalam perutnya.
Mobil suaminya yang masuk ke dalam garasi membuat senyum mengembang di bibirnya. Abel segera menghampiri suaminya yang meyentir sendiri, ia langsung masuk ke dalam mobil. Abel akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya. Karena ada sedikit masalah dalam kehamilannya, Abel di anjurkan memeriksakan kandungannya setiap seminggu sekali. Tekanan darah Abel masih tinggi di usianya kehamilan yang sudah memasuki trimester ketiga.
Tangan kiri Davin yang tak memegang kemudi mengelus perut buncit Abel.
"Dia gerak loh Bang di elus Daddynya." Abel mengarahkan tangan Davin ke pergerakan gelombang di perutnya.
"Ya Sayang, senang ya De di pegang-pegang Daddy." Davin berbicara pada perut Abel.
Pasangan ini lagi senang-senangnya menikmati tendangan - tendangan sang buah hati yang kencang akhir-akhir ini.
Mobil sudah memasuki halaman parkir rumah sakit. Davin mengandeng tangan Abel menuju rumah sakit.
Abel pasien prioritas yang selalu mendapat antrian pertama ketika periksa. Setelah menimbang berat badan dan memeriksa tekanan darah, Ia langsung menemui dokter kandungannya tanpa harus mengantri.
"Sore Dok," sapa Abel.
"Sore Ibu Abelia, silahkan duduk," jawab Dokter Stella.
Dokter memeriksa buku kehamilan Abel, tekanan darah Abel pun tak turun secara signifikan.
"Tekanan darah masih tinggi Bu, ayo kita periksa bayinya." Dokter mengajak ke ruang USG.
Dokter mulai mengarahkan alat USG, terlihat di layar buah cinta Abel dan Davin dengan wajah yang nyaris sempurna mengunakan tampilan 4 dimensi.
Davin mengengam tangan Abel, entah kenapa rasanya sudah tidak sabar Abel melahirkan buah cinta mereka.
"Mirip Abang ya Sayang," ucap Davin pada Abel.
"Mirip Abel juga Bang." Abel nggak mau kalah. Dokter hanya ikut tersenyum melihat pasangan bahagia di depannya ini.
"Pak ada yang saya mau sampaikan, kondisi istri Anda yang masih tinggi tekanan darahnya bisa berbahaya untuk kesehatan Bayi dan ibunya juga," ucap Dokter Stella.
"Maksud dokter?"
"Istri bapak menunjukkan gejala yang kemungkinan mengalami pre-eklampsia Pak. Tapi nanti kita lihat hasil tes darah. Mungkin kontrol kehamilan masih seminggu sekali ya Pak, untuk kita observasi juga."
"Apa itu parah Dok, bagaimana istri saya bisa kena itu. Dia sepertinya baik-baik saja. Asupan makannya juga bergizi," ucap Davin.
"Tidak di ketahui secara pasti Pak apa penyebab Preeklampsia. Bisa karena asupan makanan dengan lemak tinggi, bisa juga karena faktor genetik Pak, dan faktor lain."
"Apa bisa sembuh Dok, istri saya kembali normal seperti ibu hamil pada umumnya." Davin menjadi panik.
"Bapak jangan cemas, nanti malah stress. Kita masih obsebasi dulu Pak. Jaga kesehatan dan emosi ketenangan ibu hamil ya Pak, itu yang terpenting." Dokter memberi arahan lagi.
"Ya Dok," jawab Davin, ia sedikit cemas setelah mendengar penjelasan dokter tentang kehamilan istrinya.
.
.
.
.
.
.
Next....