Lovely Wife

Lovely Wife
Flashback



Flashback


Abel selesai mengolesin jel dingin di perut suaminya yang merah karena tumpahan kopi. Siang ini, Davin memutuskan tidak kembali ke kantor. Ia memilih merebahkan diri bersama Abel di kamar.


Hingga lama-kelamaan, Abel hanya mendengar nafas suaminya yang berat. Hal itu menandakan suaminya sudah mulai tertidur pulas. Abel menyingkirkan pelan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya agar tidak terbangun. Suaminya sempat bergerak-gerak seperti akan terbangun. Abel memberi guling untuk suaminya agar tenang kembali. Memastikan suaminya masih tertidur, Abel turun dari ranjang mengendap-endap dan membuka pintu pelan.


Ia meriah ponsel dan membuka isi pesan dari asisten suaminya. Ia mulai mengamati rekaman CCTV di ruangan suaminya. Mulai dari Floris masuk ke ruangan menumpahkan kopi dan ekspresi mukanya yang menyebalkan ketika berhasil mengantikan Amar. Ia meletakkan es di perut suaminya dan mulai masuk ke dalam ruangan. Semuanya dari cerita suami benar dan dugaannya kini benar, memang si tanaman duri sengaja melakukan semuanya.


Abel meriah ponselnya, ia menghubungi orang yang bisa membantunya.


"Pak Amar, terima kasih rekamannya. Saya butuh bantuan Pak Amar."


"Katakan saja Bu, apapun akan selalu saya lakukan selama saya mampu."


"Pak Amar saya butuh orang untuk mengikuti Floris, dan tolong geledah ruangan Floris tanpa sepengetahuan siapapun Pak, Jika menemukan benda aneh hubungi saya. Saya mencurigai dia merencanakan sesuatu."


"Baik Bu, saya akan laksanakan perintah ibu."


"Terima kasih Pak Amar, saya akan berikan Pak Amar bonus nanti."


"Itu tidak perlu Bu, gaji yang saya terima dari Bapak sudah lebih dari cukup."


"Pak Amar, ini tugas tambahan bapak berhak mendapatkan hadiah."


"Terima kasih jika memang demikian Bu. Saya tidak mengecewakan. Saya akan berkerja cepat karena Bapak tidak kembali ke kantor."


"Oke Pak," Abel menutup teleponnya.


Ia kembali masuk ke dalam kamar dan mendapati suaminya yang masih terlelap. Ia bernafas lega, ia sudah mulai geram dengan Floris. Saatnya mencari tahu lebih jauh apa lagi yang akan dilakukan tanaman duri. Ia masih di sofa kamarnya menunggu kabar terbaru dari Amar.


Dering ponsel berbunyi, Abel buru-buru keluar kamar mengangkat teleponnya. Suaminya masih juga belum bangun padahal sudah tidur lebih dari 2 jam.


"Ya Pak Amar," jawab Abel.


"Bu, kita sudah menemukan benda-benda mencurigakan di ruangan Floris, tapi ada yang paling mencurigakan. Botol obat utuh mencurigakan di ruangannya."


"Obat apa Pak?"


"Maksud Pak Amar?" Abel masih belum mengerti karena ucapan Amar yang terlalu sopan.


"Maaf Bu, bahasa kasarnya itu adalah obat perangsang pria. Saya semakin curiga dengan Floris yang akhir-akhir ini, mengantarkan kopi sendiri untuk Bapak ketika akan pulang kerja."


Abel menutup mulutnya, apa semurahan itu sekertaris suaminya. Abel benar-benar tidak menyangka. Untung saja fellingnya tepat, jika ia terlambat maka siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi. Bisa saja suami terjebak, yang membawa pada dosa besar. Nauzubillah min zalik. Abel mengelus perutnya.


"Terima kasih Pak Amar, simpan obatnya! saya akan tanyakan sendiri pada pemiliknya apa maunya!"


"Sayang!" suara teriakan Davin mencari Abel.


Abel dengan cepat menutup telepon. Ia kembali ke kamar ikut merebahkan diri lagi di samping suaminya.


"Kamu dari mana Sayang," ucap Davin.


Davin langsung memeluk Abel erat seolah menemukan guling yang sebenarnya. Ia masih enggan untuk bangun.


"Abel keluar ambil minum," jawab Abel.


Abel juga ikut memeluk tubuh suaminya dan mendusel kepalanya di dada suaminya. Ia tidak ingin suaminya tahu masalah Floris tanpa bukti.


Flashback off


.


.


.


.


.


Next....