
Abel melambaikan tangan pada suaminya yang akan pergi berkerja. Mobil suaminya perlahan-lahan meninggalkan rumah. Usai mobil menjauh dan tak terlihat lagi, Abel masuk ke dalam rumah.
Meskipun sudah melewati masa bedrest, tetap saja suaminya menyuruh banyak istirahat dan tak melakukan banyak kegiatan. Setiap pagi selama bedrest, Abel hanya duduk di ruang tengah membaca Alquran. Setelah itu dia bermain ponsel. Sekarang pun sepertinya ia akan melakukan hal yang sama seperti kemarin-kemarin.
Ia kali ini lebih tertarik sambil membaca artikel online seputar kehamilan. Ternyata tidak semudah itu melewati masa kehamilan.
Ia jadi teringat mama Amanda tercinta yang harus melewati masa kehamilan sambil berkerja menjalankan bisnis keluarga, pasti lebih sulit dan butuh perjuangan. Begitu pula dengan Mama Riri meskipun selama hamil tidak pernah mengalami morning sickness atau masalah serius seperti dirinya. Ia tetap masih mau melakukan pekerjaan rumah dan bahkan di kehamilan pertama mamanya itu harus menyelesaikan skripsi dan mendapatkan gelar terbaik.
Abel hanya bisa mensyukuri kehamilan yang masih baik-baik saja sampai sekarang, meskipun di awalnya mengalami pendarahan yang hampir membuatnya keguguran.
Drrrt ... drrrt ... drrrt ....
Abel menengok layar ponselnya yang bergetar, pasti itu dari suaminya. Ternyata assiten menelpon.
"Ya Pak Amar...," sahut Abel.
"Ibu Abelia, mangut lele yang di beli di kota Y dan dekat dengan kampus Anda sudah datang di kantor."
"Benarkah?" Abel terkejut.
Siapa yang suaminya perintah untuk jauh-jauh kesana hanya untuk membeli mangut lele. Abel bahkan sudah lupa kalau sangat menginginkan mangut lele. Ah ... so sweet suamiku tepati janji, makin cinta pokoknya
"Ibu ingin di antar ke rumah sekarang."
"Jangan Pak Amar, saya akan makan di kantor saja untuk makan siang bersama suami saya," ucap Abel.
"Baik Bu. Kalau begitu saya akan memberi tahu Pak Davin Anda akan makan siang di kantor "
"Pak Amar jangan! saya mau kasih kejutan untuk suami saya."
"Baiklah kalau begitu Bu, saya akan suruh sopir stand by di rumah Anda. Kapan pun Anda siap dia akan mengantarkan Ibu."
"Terimakasih Pak Amar," balas Abel. Telepon terputus.
Abel sesekali ingin makan siang bersama di kantor suaminya. Semenjak kedatangan Pamannya Angga, suaminya terlihat makin sibuk.
Sekarang keadaannya mulai membaik dirinya pun sudah melewati masa bedrest, meskipun tetap harus menjaga kondisi tubuhnya. Apalagi sekarang dia punya masalah dengan tekanan darah.
********
Siang ini Abel sudah bersiap akan ke kantor suaminya. Ia menggunakan blouse warna peach dan kulot denim. Sopir yang mengantarnya pun sudah siap sejak tadi. Ini bukan masalah mangut lele tapi ia lebih ingin makan siang berdua dengan suaminya.
Sopir membukakan pintu mobil untuk Abel.
"Silahkan nyonya besar," sapa sopir paruh baya.
Abel mengeryitkan dahinya mendengar panggilan sopir. Abel tidak terbiasa dengan panggilan seperti itu.
Mobil pun perlahan meninggalkan rumah Abel.
"Sudah lama pak kerja sama perusahaan," tanya Abel mengisi kebisuan.
"Lumayan lama Nyonya Besar sekitar lima belas tahun."
Lagi-lagi Abel geli dengan panggilan si sopir.
"Pak, panggil saja saya mbak Abelia atau apa gitu jangan nyonya besar. Ihh."
"Semua istri petinggi perusahaan di panggil begitu nyonya, saya nggak berani ganti- ganti nama panggilan. Nanti gaji saya di potong."
"Hahaha, kalau sama saya biasa aja Pak, nama bapak siapa?" tanya Abel.
"Lemin Nyonya eh ... lemin mbak?"
"Lee min hoo?" goda Abel tertawa. Ternyata seru juga sopirnya.
"Lee min hoo nama waktu muda muda mbak, kalau sekarang alemin."
"Hahaha, saya kira Lee min hoo,"
"Tampang sebelas dua belas lah Mbak, Kalo Lee min ho orang koreya kalau alemin orang kurang kaya," cetuk Pak Lemin sopir.
"Bapak tahu Lee min hoo? bapak gaul juga."
Abel terkekeh, lumayan punya sopir yang menghibur begini. Si sopir nggak terlalu formal seperti bayangannya.
"Tahu, itu suami sejuta umat termasuk suami istri dan anak perempuan saya."
"Bapak bisa aja!" oceh Abel.
"Bedanya apa pak, saya lebih cerewet ya?" tanya Abel.
"Nggak jaim, nggak sombong sama nggak banyak dempul," ucap sopir nyengir.
Lagi-lagi Abel terkekeh, "Bapak lucu!"
"Sudah sampai Mbak, tunggu saya akan bukakan pintu." Pak Lemin langsung keluar mempersilahkan istri atasannya keluar.
"Mbak saya tunggu di luar sini, selamat menikmati waktu bersama suami tercinta." Kata Pak Lemin.
"Makasih Pak," balas Abel yang tak pernah melepaskan senyum dari bibirnya.
Abel melangkah untuk pertama kalinya ke kantor suaminya. Ya, sebelumya Abel memang belum pernah ke kantor suaminya sejak pertama kali datang ke kota ini.
Abel sudah di sambut seorang wanita yang tidak ia kenal. Kenapa bukan Pak Amar yang menyambutnya. Untung juga bukan si tanaman duri, itu akan merusak mood baiknya siang ini.
Perempuan itu menemani Abel di dalam lift menuju ruangan suaminya.
Ting
"Silahkan keluar Bu, ruangan Pak Davin paling ujung dari sini," ucap perempuan itu.
"Makasih." Abel melenggang berjalan menuju ruangan yang di maksud perempuan itu.
Abel berjalan di lorong kantor yang sepi. Di lantai ini memang hanya terdapat tiga ruangan petinggi perusahaan. Ruangan suaminya yang paling ujung. Dengan langkah ceria Abel bersemangat memberi kejutan pada suaminya.
Abel membuka pintu tanpa mengetuk, ruangan cukup besar di banding ruangan di kantornya dulu. Kemudian ia melewati lagi pintu kaca. Kali ini bukan suaminya yang terkejut karena kedatangannya. Tapi dirinya yang terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya.
Abel melihat tontonan gratis. Suaminya masih memakai celana dengan semua kancing kemejanya terlepas, hingga memperlihatkan dada bidang suaminya yang terbuka. Yang membuat Abel mendidih, sekertarisnya Floris si tanaman duri berdiri di depan suaminya dengan tangannya yang meraba-raba perut suaminya.
"Kalian salah tempat! cari sana HOTEL!" teriak Abel seperti menangkap basah suaminya.
Dengan kaget Davin menoleh ke arah sumber suara yang mengejutkannya.
"Sayang!" Davin menjauhkan diri dari Floris melihat Abel di ambang pintu. Dan bergerak cepat mendekati Abel.
Tapi sebelum sempat suaminya mendekatinya Abel sudah berpaling dan berjalan cepat meninggalkan ruangan suaminya.
Davin berusaha mengejar Abel sambil mengancingkan asal saja bajunya.
Abel memencet-mencet pintu lift agar cepat terbuka. Sekarang perasaan bener-benar kacau yang tak bisa ia ungkapkan dengan apapun. Tapi yang menjadi semangatnya kini hanya bayi yang di kandungnya. Pintu lift terbuka ia segera masuk agar tak terkejar suaminya.
Setelah sampai di lobby, Abel hanya berjalan cepat tak berlari mengingat bayi dalam perutnya.
"Pak lee min hoo ayo pergi!" teriak Abel melihat Pak Lemin.
Dengan cepat pak Lemin membuka pintu mobil yang terparkir di depan lobby.
Davin sudah berada di lobby tapi ia tak bisa juga mengejar istrinya. Ia melihat keluar kantor. Ia melihat istrinya yang masuk ke dalam mobil. Ia berlari menghampiri mobil istrinya.
"Sayang, Abang bisa jelaskan semuanya. Ini nggak seperti yang kamu kira!" teriak Davin berhasil mengejar mobil Abel sambil terus mengetuk-ngetuk kaca mobil.
Abel menurunkan kaca mobil. "Bang Davin! Abel nggak rela anak Abel punya bapak yang BEJ*T SEPERTI ABANG!" teriak Abel.
"Sayang! dengarkan Abang dulu." Davin terus mengetuk jendela mobil yang di tutup abel kembali.
"Jalan pak Lemin!" titah Abel.
"Baik Mbak ...," hanya mendengar perintah atasan perempuan, mobil Abel bergerak meninggalkan kantor dan atasannya.
.
.
.
.
NEXT....
Thor : Ikutan nyusul Abel dulu🏃🏿♀️🏃🏿♀️
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘