
“Gi, apa semua sudah siap?” Tanya Raymond.
“Sudah, tak ada yang terlewat. Aku sudah memeriksanya sampai 2 kali.”
“Baiklah. Jadi kapan kita akan berangkat ke sana?” Raymond berencana mengunjungi lahan proyek yang akan dibangun hotel berbintang 5 di Kota Milan.
“Kita bisa berangkat besok pagi,” kata Gio.
“Apa tidak lebih baik kalau kita berangkat malam ini? Jadi besok sore kita bisa segera kembali.”
“Kurasa tidak. Kita harus menginap karena lusa kita akan ada pertemuan juga dengan direksi perusahaan Milenia. Mereka baru bisa bertemu denganmu dan membicarakan semuanya secara lengkap di hari itu,” jelas Gio.
“Baiklah kalau begitu. Besok kita berangkat.”
**
“Apa Dad akan lama di sana?” Tanya Bianca.
“Tidak sayang, lusa sore Dad sudah akan kembali,” Raymond masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Baiklah,” Bianca mengambil koper kecil milik Raymond. Ia sudah terbiasa membantu Raymond untuk berkemas. Ia mengambil kemeja, jas, dan pakaian tidur untuk di bawa oleh Daddynya itu.
Kotak apa itu? Rasanya aku baru melihatnya. - batin Bianca. Ia segera mengambil kotak berwarna cokelat tua di bagian bawah dan cokelat muda untuk penutupnya. Di bagian atas terdapat sebuah tulisan ‘My Love Amadea’.
“Mommy?” Gumam Bianca. Ia membuka kotak tersebut, di dalamnya terdapat beberapa pucuk surat yang masih tersimpan rapi di dalam amplop, meskipun warnanya sudah berubah. Ada beberapa foto yang menampakkan kisah Daddy dan Mommynya itu. Tak terasa air mata mengalir di pipi Bianca, ia kembali teringat akan Amadea.
Bianca memeluk lembaran foto di mana Amadea tersenyum dengan sangat cantik. Bianca kemudian melihat sebuah buku. Buku hanya berukuran A5 yang berwarna peach menarik perhatiannya. Ia membukanya perlahan, di sana terlihat tulisan tangan Mommynya. Ada beberapa lembar kertas yang agak robek, ada pula yang sedikit mengkerut seperti terkena tetesan air.
Bianca mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi sudah berhenti, itu berarti Dad Raymond sudah selesai membersihkan diri. Ia segera merapikan isi kotak tersebut, tapi tidak dengan buku diary itu. Ia ingin tahu apa yang Mommynya tulis di sana. Ia menyelipkan diary tersebut di balik bajunya, kemudian mengembalikan kotak tersebut pada tempatnya. Ia juga kembali membereskan beberapa keperluan mandi dan peralatan lain yang dibutuhkan oleh Raymond.
“Bi … sudah selesai?” Tanya Raymond saat keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya.
“Ahhh Daddy tampan sekali. Kalau bukan Daddyku, aku pasti akan jatuh hati,” goda Bianca, membuat Raymond tertawa dan mengacak-acak rambut Bianca.
“Terima kasih sayang sudah membantu merapikan keperluan Daddy.”
“Tapi jangan lupa Dad, uang sakuku ditambah ya,” kata Bianca.
“Ternyata ada maunya,” Raymond tertawa, “sekarang kamu istirahat ya. Daddy akan berangkat besok pagi.”
“Hmm,” Bianca pun keluar dari kamar tidur Raymond dan menuju kamar tidurnya sendiri. Ia mengeluarkan diary yang ia sembunyikan di balik bajunya dan menyimpannya ke dalam laci nakas.
Bianca mengambil ponselnya, mengetikkan sesuatu di sana.
📤 apa sudah pulang?
📥 sudah.
Ponsel Bianca berbunyi dan itu adalah panggilan video dari Alessandro.
“Kamu merindukanku?” Bianca tersenyum mendengar pertanyaan Alessandro, kemudian mengangguk.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” Tanya Bianca.
“Aku mau mandi. Apa kamu mau ikut?” Alessandro membuka kemejanya di depan layar ponsel sehingga Bianca bisa melihatnya. Bianca menelan salivanya karena melihat perut kotak kotak milik Alessandro, seperti kotak pembuat es batu yang ada di dalam freezer.
Alessandro tertawa melihat wajah Bianca dengan mulut yang sedikit menganga, “tutup mulutmu, sayang. Nanti air liurmu akan tumpah.”
Wajah Bianca memerah, ia pun menutup wajahnya, meski masih melihat melalui sela-sela jarinya.
Alessandro memutuskan sambungan ponselnya. Bianca pun berbaring di atas tempat tidur. Hari-harinya, pikirannya, dan hatinya mulai dipenuhi oleh pria tampan dan gagah yang seusia dengan Daddynya.
Apa Daddy akan menyukai Al? Apa Daddy akan menyetujui hubunganku dengan Al? - batin Bianca.
Tak lama, Bianca pun terlelap. Sementara Alessandro tak menelepon Bianca kembali karena memang ia tak menginginkannya. Apa yang ia lakukan sampai saat ini hanya untuk membuat Raymond terluka, sakit hati, dan hancur kalau perlu.
**
“Ingat, jangan nakal,” pesan Raymond pada Bianca.
“Dad, aku bukan anak kecil. Aku ini sudah kuliah, aku sudah dewasa, Dad,” gerutu Bianca karena Daddynya selalu menganggapnya anak kecil.
“Kamu akan selalu menjadi putri kecil kesayangan Daddy, sayang. Berhati-hatilah di rumah. Jangan keluar kalau tidak terlalu perlu, mengerti?”
“Siap, Dad!”
“Gi, apa semua sudah siap?”
“Sudah, Tuan. Kita bisa langsung berangkat sekarang,” kata Gio.
“Baiklah kalau begitu Daddy berangkat dulu, Bi. Nanti Dad akan menghubungimu saat Dad sampai di sana.”
“Kirimkan pesan saja, Dad. Aku ada kuliah pagi sampai siang hari ini. Aku pasti tidak bisa mengangkat telepon Daddy,” kata Bianca.
“Baiklah, seperti maumu. Daddy berangkat, sayang,” Raymond mengecup kening Bianca dan Bianca akan memeluk Raymond seperti biasanya.
Setelah kepergian Raymond, Bianca langsung melesat menuju kamar tidurnya. Ia harus segera mandi dan berangkat, kalau tidak ia tidak akan sempat menjemput Melanie. Hari ini ia sudah berjanji akan menjemput sahabatnya itu, karena mobil milik Melanie sedang berada di bengkel.
“Uncle, kita jemput Melanie dulu ya,” pinta Bianca pada supirnya saat ia memasuki mobil.
Mereka pun pergi menjemput Melanie yang rumahnya tak terlalu jauh dari Mansion Costa.
“Pagi Aunty, Uncle,” sapa Bianca pada orang tua Melanie. Bianca mengenal keluarga Rodrigo dengan baik, karena ia sering bermain di sana sejak ia masih SMA.
“Pagi, Bi. Apa kamu sudah sarapan?” Tanya Aunty Helena.
“Belum,” jawab Bianca jujur sambil tersenyum memamerkan gigi-giginya, membuat Helena tersenyum juga.
“Kemarilah dan duduklah. Masih ada waktu untuk sarapan,” ujar Helena.
“Thank you, Aunty,” tanpa malu-malu, Bianca duduk di meja makan bersama dengan keluarga Rodrigo. ia mengambil setangkup roti dan ia berikan telur dadar, tomat, dan selada. Tak lupa ia menuangkan saus sambal dan saus tomat di atas sayuran tersebut.
“Ini susunya, Bi. Apa kamu tidak sarapan bersama Daddymu?” Tanya Helena.
“Daddy berangkat ke Milan pagi ini, Aunty,” Helena menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Bi!” Teriak Melanie sambil menuruni tangga. Ia duduk kemudian langsung melahap setangkup roti dengan selai cokelat sebagai pengisinya.
“Dad! Apa nanti Nona Aurora akan berada di perusahaan? Daddy janji akan mempertemukan aku. Aku ingin meminta tanda tangan dan juga berfoto bersama. Saat makan malam kemarin aku tidak sempat melakukannya karena wartawan begitu banyak dan Nona Aurora mendadak pamit setelah Tuan Romano pergi.”
“Baiklah. Datanglah ke perusahaan. Daddy akan mempertemukanmu dengannya,” ujar Peter Rodrigo.
“Kamu dengar, Bi? Kita akan bertemu dengan Nona Aurora Frederica,” Melanie begitu senang, ia langsung melahap roti miliknya lagi.
Kita? Kayaknya kamu aja deh, Mel. Aku benar-benar tidak tertarik dengan selebriti dan sebangsanya. - batin Bianca sambil kembali melahap roti isinya.
🌹🌹🌹