Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#47



“Sebaiknya aku pulang terlebih dahulu,” ujar Bianca.


“Maaf Nona, sebaiknya anda tetap di sini. Nona Aurora tak akan lama berbicara dengan Tuan Alessandro karena ia harus segera berangkat.”


“Berangkat?” tanya Bianca heran.


Di sisi yang lain,


“Al …”


“Cepat katakan, aku tak punya banyak waktu untukmu,” kata Alessandro dengan ketus.


Aurora sedikit terkekeh, “Aku hanya ingin meminta maaf padamu atas semua hal yang telah kulakukan padamu.”


Alessandro menatap heran ke arah Aurora. Wanita dengan perut yang sedikit membuncit itu kini tengah berdiri menghadapnya dengan senyuman yang berbeda.


“Maaf karena telah memintamu bertanggung jawab pada sesuatu yang memang bukan tanggung jawabmu. Aku memang bodoh karena berhadapan dan menganggap remeh seorang Alessandro Romano.”


Aurora mengulurkan tangannya, “Aku pamit. Aku akan meninggalkan negara ini dan kuharap jika suatu saat nanti kita bertemu, tak ada lagi dendam ataupun kecanggungan.


Aku berharap kamu segera menikahi wanita itu. Ia sedang hamil dan tidak baik jika ia melahirkan tanpa memiliki seorang suami. Oya, sampaikan maafku juga pada Raymond. Kuharap ia mau memaafkanku.”


Alessandro tak membalas uluran tangan Aurora karena ia memang tak ingin melakukannya. Aurora hanya tersenyum melihatnya, kemudian menurunkan tangannya.


“Apa kamu sudah selesai? Bianca pasti sedang menungguku,” Aurora mengangguk dan mempersilakan Alessandro untuk pergi.


Mungkin ini terakhir kali kita bertemu. Tuhan masih berbaik hati padaku, mengijinkanku untuk meminta maaf padamu. Aku berharap kamu bahagia. Sampai jumpa. - Aurora hanya bisa memandang punggung Alessandro yang semakin menjauh.


Di dalam mobil, Alessandro dan Bianca hanya diam seperti biasanya. Al menyalakan musik untuk memecah kesunyian. Bianca menoleh ke arah Alessandro yang hanya menatap ke arah depan. Ia sedikit ingin tahu apa yang dibicarakan oleh Aurora, namun ia tak ingin terlau ikut campur karena ia bukanlah siapa-siapa untuk Alessandro.


“Apa ia akan pergi?” Akhirnya Bianca mengeluarkan suaranya dan memberanikan diri bertanya pada Alessandro.


“Hmm …”


“Apa kamu sedih?”


“Tidak,” jawab Alessandro singkat.


“Tapi sepertinya kamu berbeda setelah berbicara dengannya,” Alessandro bisa menangkap nada tidak suka dari cara Bianca berbicara. Ia segera meminggirkan mobilnya dan berhenti.


“Bi, maukah kamu menikah denganku?”


Bianca cukup kaget dengan permintaan Alessandro. Mereka sedang membicarakan tentang Aurora, tapi mengapa Alessandro malah memintanya menikah.


“Al?”


“Maaf, maafkan aku. Aku akan mengantarmu pulang,” Alessandro kembali melajukan mobilnya dan akhirnya mereka sampai di kediaman Costa. Alessandro turun dan membukakan pintu untuk Bianca.


“Terima kasih karena sudah mengijinkanku menemanimu. Aku akan pulang sekarang,” Alessandro berjalan memutar dan masuk kembali ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman Costa.


Bianca terus melihat kepergian Alessandro hingga mobil tersebut telah hilang dari pandangan. Bianca masih memikirkan perubahan sikap Alessandro setelah berbicara dengan Aurora dan permintaannya yang mendadak untuk menikah.


**


“Sayang, bisakah kamu bantu Daddy untuk mengatakan pada Mommy kalau Dad bersungguh-sungguh?” Alessandro mengelus gambar USG itu sambil terus berbicara.


“Dad ingin berada di samping Mommy dan menemaninya juga menemanimu, setiap hari, setiap malam, setiap saat. Dad ingin menjadi orang pertama yang akan menggendongmu. Bantu Dad untuk berbicara dengan Mommymu, hmm …”


Alessandro merebahkan diri di atas tempat tidur sambil terus memegang pigura tersebut. Ia mengelus dan memandanginya, hingga akhirnya ia tertidur.


Sementara di kediaman Costa, Bianca masih berdiri di balkon kamarnya. Masih terngiang di pikirannya, permintaan pernikahan dari Alessandro. Di satu sisi hatinya membuncah bahagia mendengarnya, tapi di sisi lain ada keraguan.


Bianca mendekati tas miliknya, kemudian mengeluarkan gambar USG yang diberikan oleh Dokter Gabby. Ia tersenyum sambil memandanginya, “Daddymu pasti sangat menyayangimu, karena ia hanya memberikan 1 gambarmu pada Mom dan mengambil sisanya.”


Tanpa sadar Bianca tersenyum saat teringat tingkah Alessandro di dalam ruang praktek Dokter Gabby. Bahkan pria itu hampir menangis saat mendengar suara detak jantung bayi mereka.


Bianca mengelus perutnya berlawanan arah jarum jam, sambil menatap langit malam yang berhiaskan bintang-bintang. Tiba-tiba ia teringat akan pembicaraannya dengan Riana, manager Aurora.


Flashback on


“Nona Aurora tak akan berbicara lama, ia hanya ingin pamit pada Tuan Alessandro.”


“Pamit? Apa ia akan pergi?” tanya Bianca.


“Ya, ia akan segera meninggalkan Kota Roma. Ia sudah menjual semua asetnya di kota ini dan sepertinya tidak berniat untuk kembali,” kata Riana.


Bianca melayangkan pandangannya pada Aurora yang tengah berbicara dengan Alessandro. Wanita itu terlihat sangat cantik dan dewasa. Seketika perasaan takut menghinggapi diri Bianca. Ia takut Alessandro akan pergi mengikuti Aurora dan meninggalkan ia dan anaknya.


“Kamu akan ikut dengannya?”


“Tidak. Nona Aurora memintaku untuk bekerja dengan management artis lain. Ia tak ingin membebaniku katanya, padahal aku akan dengan senang hati menemaninya.”


Bianca mulai berpikir dan menarik kesimpulannya sendiri. Aurora sepertinya sangat mencintai Alessandro hingga ia tak mau menikah dengan pria yang lain. Apa saat ini ia sedang membujuk Alessandro untuk menikah dengannya?


Untung saja saat ia larut dalam pikirannya, sebuah suara menyadarkannya, “Ayo kita pulang.”


Flashback off


“Apa jika aku menjawab tidak untuk pernikahan itu, ia akan pergi mengikuti Nona Aurora?” gumam Bianca. Hatinya merasa sakit saat membayangkan Alessandro akan pergi meninggalkan dirinya.


**


Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, akhirnya Aurora tiba di Oslo, Norwegia. Ia sudah meminta pada Riana untuk memesankan sebuah kamar hotel untuknya yang dekat dengan stasiun kereta api.


Esok ia akan pergi ke tempat tujuan sebenarnya, yakni Desa Flam, sebuah desa kecil cantik di barat Norwegia. Tanpa diketahui oleh Riana, Aurora dengar semua percakapan antara Riana dengan seorang dokter kejiwaan. Riana memang tak memberitahu pada Aurora mengenai hal itu karena tak ingin menambah pikiran Aurora.


Aurora cepat sekali tertidur setelah ia meminum susu hamil yang ia beli di minimarket tadi. Ia sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang terasa panjang baginya.


Keesokan paginya, Aurora bersiap pagi-pagi sekali. Ia akan langsung menuju stasiun untuk berangkat ke Desa Flam. Sebenarnya Aurora bisa pergi ke sana dengan menggunakan pesawat yang hanya memakan waktu sekitar 2,5 jam. Namun, ia memilih menggunakan kereta api yang memakan waktu 6,5 jam.


Norwegia terkenal akan keindahan alamnya, sehingga Aurora tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan menggunakan make up tipis, serta gaun panjang yang ditutupi oleh sebuah mantel bulu yang juga panjang, Aurora menarik kopernya keluar dari hotel. Ia memanggil taksi untuk mengantarkannya ke stasiun.


Tidak perlu waktu lama karena memang jarak dari hotel ke stasiun hanya 10 menit jika menggunakan taksi. Ia memandang ke sekeliling sebelum menaiki kereta tersebut. Dengan hati-hati ia meminta bantuan seorang porter untuk menaikkan kopernya ke dalam kereta. Ia mengambil sebuah tempat di dekat jendela dan duduk di sana dalam diam.


🌹🌹🌹