Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#62



Saat ini Juan tengah menemani Aurora di dalam ruang bersalin. Dokter mengatakan bahwa Aurora sudah sampai pembukaan 7, yang berarti tidak lama lagi. Ia hanya perlu lebih banyak berjalan saja agar jalan lahir segera mengalami pembukaan sempurna.


“Apa semakin terasa sakit?” tanya Juan. Aurora menganggukkan kepalanya. Saat ini perut bagian bawahnya semakin lama semakin sakit, bahkan dari pinggul hingga ke lutut terasa sakit, seakan tulang-tulangnya akan dilepaskan secara paksa.


“Bagaimana kalau kita melakukan operasi caesar saja? Bukankah itu akan mengurangi rasa sakitnya?” tanya Juan.


Aurora memegang pipi Juan, “Melahirkan secara nirmal ataupun caesar itu sama saja. Ini sudah hampir pembukaan sempurna, jadi aku akan tetap melakukan secara normal.”


Aurora kembali meringis karena kini air ketubannya semakin banyak yang keluar dan perutnya sudah sangat melilit. Keinginannya untuk mengejan semakin besar. Juan langsung memanggil perawat ataupun dokter yang berada di sana untuk langsung mengambil tindakan.


Cukup 10 menit waktu yang dibutuhkan oleh Aurora untuk mengejan. Akhirnya kini ia sudah bisa dinobatkan menjadi seorang ibu.


“Terima kasih, sayang,” Juan mengecup kening Aurora, kemudian menggendong bayi laki-laki yang telah dibersihkan itu.


“Eduardo Fernandez, bagaimana? Apa kamu menyukai nama itu?” Aurora menganggukkan kepalanya tanda ia menyetujui usulan nama itu.


Isacc dan Diane yang menunggu di depan ruang bersalin pun begitu bahagia ketika melihat Juan keluar sambil menggendong seorang bayi.


“Ahhh kita sudah menjadi Grandpa dan Grandma,” teriak Diane dengan bahagia. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah kedua orang tua Juan.


“Siapa namanya?” tanya Dad Isacc.


“Eduardo Fernandez,” jawab Juan.


“Edo, nama yang bagus. Aku suka,” kata Isacc.


Mereka segera berkumpul di kamar rawat setelah Aurora dipindahkan.


**


Sebuah pesta kecil diadakan di peternakan milik keluarga Fernandez. Mereka menghias taman dengan bunga-bungaan. Hari ini adalah hari pernikahan antara Juan dengan Aurora, tepat 1 bulan setelah kelahiran Baby Ed.


Dengan memakai gaun putih dengan panjang semata kaki, serta sebuah hiasan bunga di atas kepalanya, Aurora berjalan di atas karpet merah. Senyumnya terlihat sangat cantik dan matanya berbinar bahagia.


Juan dan Aurora mengucapkan janji pernikahan disaksikan oleh Isacc, Diane, seluruh pegawai peternakan, juga kerabat terdekat dan para tetangga di Desa Flam. Mereka menyambut dengan bahagia pernikahan ini.


Setelah selesai, Juan dan Aurora berfoto bersama Baby Ed. Senyum ketiganya berhasil ditangkap oleh seorang fotografer yang merangkap CEO, Nicholas Gerardo. Hasil tangkapan dari kameranya tak dapat dipungkiri karena Aurora pernah menggunakan jasanya saat masih menjadi seorang aktris dan model.


“Terima kasih, Nic,” kata Aurora.


“Selamat untuk kalian berdua. Aku berdoa semoga kalian selalu dilimpahi dengan kebahagiaan,” Nic menjabat kedua tangan pasangan itu.


“Lalu bagaimana denganmu? tanya Aurora.


Nic hanya tersenyum. Fotografi adalah hobby-nya dan ia masih mencuri-curi waktu di sela-sela pekerjaannya. Saat ini hubungannya dengan Bryona seperti sedang diuji. Ia baru mengetahui bahwa Bryona ternyata adalah Bryan Martin, asistennya.


Nic sebenarnya patut bernafas lega karena ternyata ia memang tidak belok. Ia menyukai seorang wanita, bukan seorang pria seperti perkiraannya dulu. Namun, ia harus menata hatinya karena tak mudah menerima kebohongan saat kita benar-benar mencintai.


“Aku akan mengirimkan foto-fotomu setelah melakukan editing seperti biasa,” kata Nic.


“Tidak masalah, aku akan dengan sabar menunggu hasilnya.”


Aurora sangat bersyukur atas kehidupannya saat ini. Ia memang menyesali apa yang telah ia lakukan di masa lalu, tapi ia tak mungkin mengubahnya. Ia akan menjadikannya sebagai pembelajaran agar menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.


Ia menggendong putranya, Ed. Ia tersenyum sambil sesekali mengajak putranya berbicara. Kehidupannya terasa begitu sempurna. Mungkin Juan bukan seorang pengusaha dengan kekayaan yang tak ada habisnya, tapi ia memiliki hati yang luar biasa, begitu juga dengan kedua orang tuanya. Aurora berterima kasih karena telah dipertemukan dengan keluarga Fernandez.


**


Bianca menyelesaikan kuliahnya dengan hasil yang luar biasa. Hal tersebut tak terlepas dari dukungan suaminya Alessandro dan juga Dad Raymond. Mereka selalu membantu Bianca dengan cara bergantian mengawasi Cord yang kini sudah bisa berlari ke sana sini.


Bianca juga selama 3 tahun ini menggunakan alat kontrasepsi. Ia memang ingin hamil lagi, hanya saja ia mengurungkan niatnya. Selain karena ia sedang menyelesaikan kuliahnya, ia juga tak ingin kasih sayang pada Cord berkurang jika ia memiliki anak lagi.


2 bulan yang lalu, Bianca melepas alat kontrasepsinya. Melihat Cord sudah berusia 3 tahun dan kuliahnya sudah selesai, maka ia memberanikan diri untuk hamil kembali. Namun, ia tak mengatakannya pada Alessandro karena ia tak ingin terlalu memberi harapan pada suaminya.


Alessandro memang menginginkan memiliki banyak anak. Ia tak ingin Cord merasa kesepian, seperti dirinya. Untung saja ia memiliki Raymond yang selalu menjadi sahabatnya, meskipun mereka sempat terpisah karena kesalahpahaman selama belasan tahun.


Hari ini, Bianca terlihat duduk diam sambil memejamkan matanya. Sejak ia bangun pagi, kepalanya berdenyut tak karuan.


“Uncle Ruben,” panggil Bianca dengan suara pelan. Tenaganya seperti sudah habis diserap oleh kepalanya yang benar-benar sakit.


“Ada apa, Nyonya?” Bianca sudah sering mengatakan pada Ruben untuk mengubah panggilannya. Namun, Ruben tak pernah merubahnya. Ia hanya membiarkan Bianca memanggilnya Uncle.


“Uncle, bolehkah aku meminta tolong untuk membuatkanku secangkir teh? Kepalaku sangat sakit,” Ruben bisa melihat wajah Bianca yang terlihat pucat. Ia juga merasa khawatir.


“Baiklah, akan aku buatkan. Tunggulah di sini,” Bianca mengangguk dan kembali memejamkan matanya.


Tadi pagi, Dad Raymond menjemput Cord untuk menginap di Mansion Costa seperti biasanya. Saat itu Bianca belum bangun karena rasa sakit yang mendera kepalanya dan Dad Raymond juga tak mengijinkan siapapun untuk mengganggu Bianca.


Dad Raymond sangat tahu bahwa Bianca memang sangat kelelahan karena mengejar penyelesaian skripsinya hingga kadang ia hanya istirahat selama 1-2 jam setiap harinya. Bianca juga tetap menjaga Cord, mulai dari memandikan, menyuapi makan, dan membacakan dongeng bila ia ada waktu.


Ruben mengambil ponselnya dan segera menghubungi Javer, “Jav, sepertinya Nyonya Bianca sakit. Wajahnya agak pucat. Lebih baik kubawa ke rumah sakit atau mau dipanggilkan dokter saja?”


Setelah menghubungi Javer, Bianca akhirnya dibawa ke rumah sakit karena jaraknya tak jauh. Sementara di Perusahaan Romano, Alessandro sedang mengalami mual yang sangat hebat. Ketika ia ingin pergi ke rumah sakit, mual kembali datang hingga ia mengurungkan niatnya dan kembali masuk ke kamar mandi pribadinya.


“Jav, cepat antarkan aku!” Alessandro tak ingin membuang waktu. Ketika ia merasa lebih baik, ia langsung menyambar jas kerjanya dan keluar dari ruangan. Saat mendengar Bianca dibawa ke rumah sakit, rasa khawatir kembali memenuhi dadanya. Ia hanya takut terjadi sesuatu pada istrinya itu.


Derap langkah kaki seakan memenuhi suasana di koridor rumah sakit, menuju kamar rawat Bianca. Dokter telah memberikan infus pada Bianca karena di-diagnosa mengalami kelelahan dan kekurangan cairan.


Dokter Gabby tersenyum saat melihat kedatangan Alessandro. Ia menjelaskan keadaan Bianca, kemudian mengucapkan selamat, “aku ucapkan selamat padamu. Saat ini istrimu sedang hamil dan usia kandungannya sudah mencapai 5 minggu.”


“Hamil? Istriku sedang hamil?” Dokter Gabby memganggukkan kepalanya.


“Tapi bagaimana bisa? Bukankah ia menggunakan alat kontrasepsi?” tanya Alessandro.


“Ia sudah melepasnya 2 bulan yang lalu. Ia mengatakan ingin sekali memiliki anak lagi.”


Alessandro begitu senang mendengar kabar ini. Ia segera mendekat ke brankar dan menciumi kening, mata, hidung, dan bibir istrinya yang masih terlelap.


“Jaga dia baik-baik. Aku akan memberikan vitamin dan obat penguat kandungan. Ia akan kuijinkan pulang setelah ia sadar. Oya, ini hasil USG yang berhasil kuambil,” Dokter Gabby menyerahkan beberapa lembar kepada Alessandro. Ia sengaja mencetak agak banyak karena tahu Alessandro pasti menginginkannya, seperti saat Bianca hamil anaknya yang pertama.


Alessandro dengan setia menemani Bianca. Ia duduk di sampingnya dan memberikan kekuatan dengan menggenggam tangan Bianca, “Terima kasih, sayang.”


🌹 T A M A T 🌹


...**********...


Terima kasih sudah mengikuti novelku yang pertama ini. Mohon maaf jika ada salah kata ataupun cerita yang tidak sesuai ekspektasi. Pansy nge-halu-nya ga mau terlalu panjang, ntar jadi sinetron yang banyak seasonnya 😁


Oya, Pansy ingin memperkenalkan karya baru Pansy (ga baru-baru amat sih, soalnya udah sampai episode 20an). Novel ini aku ikut sertakan dalam kontes “Mengubah Takdir - Wanita” .



Jika berkenan, bisa mampir dan mohon dukungannya. Terima kasih banyak. Love you all sekebon jagung.