Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#56



Kehamilan Bianca telah menginjak 8 bulan. Belakangan ini ia merasa sangat kelelahan, padahal ia tidak melakukan terlalu banyak aktivitas.


Seperti pagi ini, ia tidak bangun dan menyiapkan keperluan Alessandro. Ia masih dengan setia bergelung di balik selimutnya. Matanya seakan ingin terpejam dan melanjutkan mimpi indah yang semalam menghampirinya.


Alessandro tak membangunkan Bianca. Ia membiarkan istrinya untuk beristirahat, karena semalam ia sudah membuat istrinya itu menuruti kemauannya untuk bermain sebanyak 3 ronde. Senyum terlihat di wajah Alessandro kala mengingat malam panasnya. Tubuh Bianca sudah seperti candu baginya.


“Aku berangkat dulu, sayang,” Alessandro mengecup kening Bianca sebelum ia keluar dari kamar tidur.


“Maaf,” pinta Bianca yang tak bisa mengantarkan Alessandro.


“Beristirahatlah,” Bianca mengangguk saat Alessandro mengusap dahi Bianca dengan jarinya.


Alessandro langsung berangkat bekerja tanpa memakan sarapannya. Ia sudah ditunggu Javer sedari tadi karena akan melakukan pertemuan penting.


Bianca mengusap matanya, ia melihat jam yang berada di atas nakas. Matanya membulat ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Ia segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi.


Brugghh …


“Ahhhh …,” Bianca memegang perutnya yang terasa sakit karena tak sengaja mengenai lantai. Saat ini ia bisa merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari pangkal pahanya.


“T-tolong,” suara Bianca tak terlalu terdengar karena ia tak bisa berteriak. Ia menyeret tubuhnya untuk mendekat ke arah meja rias, tempat ia biasa meletakkan ponselnya.


“T-tolong!” Sekali lagi Bianca mengeraskan suaranya, berharap ada yang mendengarnya. Namun, usahanya tetap sia-sia. Bianca menggoyangkan kaki meja riasnya, berharap benda-benda yang berada di atasnya terjatuh.


Prang!!!


Hampir semua make up yang berada di atas meja riasnya terjatuh, hingga botol parfumnya. Ponselnya pun terjatuh, meski agak sedikit jauh.


Seorang pelayan yang melewati kamar tidur milik tuannya itu mendengar suara barang pecah, langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Ia menutup mulutnya ketika melihat keadaan Bianca yang sudah tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir dari pangkal pahanya.


“T-tolong panggilkan Pak Mus,” Bianca meminta pelayan itu untuk memanggilkan supir pribadi yang memang disediakan oleh Alessandro untuknya.


Ruben yang melihat seorang pelayan berlari ke arah luar dan berteriak pun langsung menanyakan apa yang terjadi. Ia membantu Pak Mus untuk mengangkat Nyonya Bianca ke dalam mobil. Ia meminta pelayan itu untuk menemani Nyonya-nya itu ke rumah sakit sementara ia akan menghubungi Tuan Alessandro.


Ruben belum berhasil menghubungi Tuan Alessandro. Tak putus harapan, ia pun menghubungi Javer.


“Ada apa Ruben?” tanya Javer yang menjawab panggilan Ruben. Setelah mendengar keterangan Ruben, ia segera melanjutkan meeting. Ia tak ingin tuannya itu langsung lari dari acara penandatanganan kontrak karena kondisi Bianca.


10 menit setelahnya, saat penandatanganan telah selesai, Javer mendekati Alessandro dan membisikkan keadaan Bianca. Mata Alessandro membulat dan setelah pamit dengan rekan bisnisnya, ia langsung pergi meninggalkan lokasi.


Ia memukul kemudi mobilnya karena jalannya terhalang sebuah mobil yang tengah mengalami pecah ban. ia menggeram kesal dan langsung menghubungi Raymond. Ia berharap Raymond bisa membantunya menjaga Bianca terlebih dahulu.


“Ray, Bianca …,” Raymond yang tengah berkutat dengan beberapa dokumen di hadapannya pun langsung melesat pergi. Ia bahkan meninggalkan Gio yang melihatnya dengan tatapan kebingungan.


**


“S-sakit sekali,” Bianca meringis sakit, tekanan darahnya langsung meninggi karena rasa shock yang ia terima, membuatnya tidak sadarkan diri.


Raymond sampai terlebih dahulu di rumah karena memang jarak kediaman Costa dengan rumah sakit tidak terlalu jauh.


“Pasien mengalami shock hingga meningkatkan tekanan darahnya. Ia harus segera dioperasi karena bayinya harus segera dikeluarkan karena ia mengalami pendarahan,” perawat itu langsung menuju bank darah yang terletak di rumah sakit itu, sebelum melakukan tindakan operasi.


Raymond merasa sangat resah dan gelisah. Ia bahkan berjalan mondar mandir di depan ruang ICU. Sebuah brankar dikeluarkan dari ruang ICU menuju ke ruang operasi. Ia melihat wajah Bianca yang pucat. Raymond langsung menghentikan seorang dokter yang berjalan di belakangnya.


“Bagaimana keadaannya?”


“Kami akan melakukan operasi padanya. Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” kata Dokter Gabby.


Raymond merasa sedikit tenang mendengar penuturan Dokter Gabby. Ia menghubungi Alessandro sambil berjalan menuju ruang operasi.


“Dimana? Langsung ke ruang operasi di lantai 1,” perintah Raymond.


Kini mereka berdua tengah berada di depan ruang operasi, menunggu wanita yang mereka sayangi keluar dari sana.


Cklekkk


Mereka langsung bangkit dari duduknya ketika mendengar suara pintu terbuka, terlihat Dokter Gabby keluar sambil tersenyum.


“Selamat, putra anda telah lahir dengan selamat. Nyonya Bianca juga berada dalam keadaan sehat. Nyonya Bianca akan segera dipindahkan ke ruang rawat, sementara bayinya akan masuk ke dalam inkubator terlebih dahulu karena kelahirannya yang prematur.”


“Terima kasih, Dok,” Raymond dan Alessandro berdiri berhadap-hadapan dan saling berpegangan kemudian tersenyum karena kini status mereka telah berubah.


**


Aurora akan menemui Aunty Diane. Ia berjalan sambil membawa tas kecil dan memegang perutnya yang sudah sangat besar. Ia berjalan sambil bersenandung dan sedikit menggoyangkan rok panjang yang ia kenakan.


Hari ini ia sudah berjanji menemui Isacc dan Diane. Mereka akan mengenalkan Aurora pada putra mereka yang datang dari luar kota. Ia tak berani menolak keinginan Isacc dan Diane, mengingat kebaikan mereka pada dirinya. Mereka selalu mengirimkan susu segar pada Aurora secara teratur. Mereka juga kadang mengantarkan makanan dan selalu menemani Aurora jika ia ingin pergi ke kota atau mengunjungi dokter kandungan.


“Uncle, Aunty!” sapa Aurora saat ia sudah berada di depan rumah Isacc dan Diane. Rumah mereka tidak terlalu besar, tapi mereka memiliki peternakan di bagian belakang.


“Halo sayang!” Diane langsung memeluk Aurora, kemudian mengajaknya masuk ke dalam.


“Apa putra Aunty sudah tiba?” tanya Aurora. Ia sebenarnya tak ingin berlama-lama karena ia merasa tak mengenal. Ia hanya tak ingin menyakiti perasaan Isacc dan Diane yang mengundangnya untuk datang.


“Sudah, ia ada di atas, di kamarnya. Ia sedang membersihkan diri, sebentar lagi juga ia akan turun. Kemarilah dulu, aku memasak sesuatu yang pasti kamu sukai,” Diane mengajak Aurora ke area dapur miliknya. Aurora biaa mencium harum dari kue susu buatan Diane.


“Ahhh Aunty, ini harum sekali. Mengapa kamu selalu menggoyahkan imanku untuk tidak terlalu banyak makan? Aku sudah terlihat sangat besar saat ini,” ungkap Aurora sambil merajuk.


“Itulah tujuanku mengundangmu ke sini, untuk mengajakmu makan besar,” Diane tersenyum menggoda Aurora.


“Mom!” Aurora menoleh ke asal suara ketika ia merasa tak asing dengan suara yang ia dengar.


“Aurora?!”


🌹🌹🌹