Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#31



Tokkk tokk tokkk …


Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Aurora yang tengah melakukan meni pedi dengan staf kecantikan yang ia panggil. Riana yang adalah managernya bangkit dari duduknya dan menghampiri pintu. Ia mengecek siapa yang datang melalui lubang intip yang ada di pintu.


Riana melihat ke arah Aurora, “Tuan Juan.”


“Suruh dia masuk, dan kalian boleh pergi. Aku akan berbicara dengannya,” Aurora yang hanya menggunakan bathrobe memutar tubuhnya melihat ke arah pintu untuk menyambut Juan Fernandez, partner ranjangnya.


Brakkk …


Saat Riana membukakan pintu, dengan cepat Juan mendorong pintu itu dan membuat Riana langsung memegang jantungnya yang berdetak cepat karena kaget.


“Aurora Frederica!!” teriak Juan dengan keras dan lantang. Sementara itu Aurora yang dipanggil hanya duduk diam dengan kedua kakinya berselonjor di atas sofa.


Aurora memberikan tanda pada staf kecantikan dan Riana agar keluar dari ruangan. Ia akan berbicara dengan Juan berdua saja.


“Ada apa kamu kemari?”


“Katakan, apa itu anakku?” tanya Juan.


“Apa urusanmu ini anakmu atau bukan?” tanya Aurora.


“Tentu saja aku akan bertanggung jawab jika itu adalah anakku. Apa kamu kira aku ini pria yang tidak bertanggung jawab?” Juan menatap Aurora dengan tajam.


“Aku tidak memerlukan pertanggung jawabanmu, karena aku sudah memilih siapa yang harus bertanggung jawab,” Aurora tersenyum sinis tanpa melihat ke arah Juan.


“Apa kamu sengaja menjadikanku alat untuk mencapai tujuanmu?”


Aurora tertawa dan menatap tajam serta mengangkat salah satu alisnya, “Kalau kamu sudah tahu, sebaiknya kamu keluar. Tugasmu sudah selesai dan aku berharap kita tidak akan bertemu lagi. Tapi karena kamu adalah lawan mainku, maka aku berharap kita tidak saling mengenal jika bertemu. Kamu bisa melakukan itu kan Juan Fernandez?”


Juan mengepalkan tangannya. Sifat dan sikap Aurora yang ada di hadapannya saat ini sangat berbeda dengan Aurora yang ia kenal. Di dalam hatinya ia tidak ingin anaknya menjadi anak orang lain, namun ia juga tak memiliki bukti jika itu adalah anaknya.


“Sebaiknya sekarang kamu pergi, sebelum para wartawan datang dan menganggapmu adalah orang ketiga di dalam hubunganku dengan Alessandro Romano,” Aurora kembali tertawa dengan penuh kemenangan.


Dengan menahan rasa sesak dan kesal, Juan akhirnya meninggalkan apartemen Aurora. Ia langsung turun ke basement ke tempat mobilnya terparkir. Dari kejauhan, ia melihat para wartawan tengah berkerumun di area lobby. Ia meyakini mereka ingin mendapatkan keterangan lebih dengan menunggu Aurora.


Juan memukul setir mobilnya, meluapkan kekesalannya. Ia segera melajukan mobil menuju kediamannya.


**


Bianca menikmati udara pantai yang segar, membuatnya melupakan segala permasalahannya sejenak. Ia jarang membuka ponselnya, kecuali jika ia menerima panggilan telepon dari Dad Raymond.


Ia duduk di sofa ruang keluarga dan menyalakan televisi. Matanya menatap tajam ke arah televisi ketika semua pemberitaan adalah mengenai Alessandro Romano dan seorang aktris bernama Aurora Frederica.


Aurora Frederica? Wanita itu adalah kekasih dan cinta pertama Alessandro. Kini ia tengah hamil anak dari Alessandro. - Batin Bianca sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


Bianca masuk ke dalam kamar tidurnya, merebahkan diri sambil melihat ke langit-langit kamar. Wajahnya tersenyum, namun terselip rasa sakit di dalam hatinya ketika mengetahui bahwa Alessandro akan memiliki anak dari wanita lain.


“Aku hanyalah pelampiasan dendamnya saja. Wanita yang selalu ia cintai adalah Aurora Frederica. Kita akan mengalah, sayang, demi kebahagiaan Daddy. Mommy yang akan selalu menyayangimu,” Bianca pun terlelap hingga waktu menunjukkan pukul 5 sore.


Suara pintu terbuka dan terdengar langkah kaki menginjak lantai kayu yang mendominasi resort milik Raymond. Sosok itu berjalan menuju kamar Bianca, memegang handle pintu dan membukanya perlahan. Ia tersenyum ketika mendapati Bianca sedang tertidur.


“Dad, kamu di sini?” tanya Bianca yang mengerjapkan matanya dan terbangun karena mendengar suara langkah kaki.


“Bagaimana keadaanmu, sayang?” tanya Raymond yang masih menggunakan kemeja kerjanya. Ia langsung berangkat menuju resort setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan. Mumpung hari ini adalah hari Jumat, ia ingin menghabiskan akhir pekan bersama dengan Bianca.


“Aku baik, Dad,” Bianca duduk dan bangkit perlahan dari tempat tidurnya, berjalan mendekati Dad Raymond.


“Kalau kamu masih mengantuk, tidurlah. Dad akan membersihkan diri terlebih dahulu.”


“Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita, Dad,” kata Bianca.


“Tidak perlu, sayang. Dad sudah membelikan makanan kesukaanmu sebelum Dad berangkat ke sini,” wajah Bianca pun tersenyum mendengarnya. Ia langsung berjalan menuju ke meja makan di mana terlihat sebuah kantong berisi makanan dari resto kesukaannya.


“Thank you Dad. Aku akan memindahkannya ke piring.”


“Baiklah, Dad akan mandi dulu,” Raymond pun berlalu menuju kamarnya dan membersihkan diri. Sementara Bianca yang melihat makanan kesukaannya, sudah terus menerus menelan salivanya.


**


Bianca dan Dad Raymond duduk bersama di ruang keluarga setelah mereka selesai makan malam. Bianca juga sudah membersihkan peralatan makan yang mereka gunakan. Ia terbiasa membereskan semuanya sendiri karena pengurus rumah yang datang biasanya hanya bersih-bersih biasa.


“Kamu sepertinya betah berada di sini, Bi? Kapan kamu akan kembali?”


“Hmm … aku belum tahu Dad. Aku benar-benar betah di sini dan rasanya berat jika harus pergi,” Raymond mengelus rambut putrinya, kemudian ia berkata …


“Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan pada Daddy, sayang?” Raymond menatap manik mata Bianca dengan lembut.


“Maksud Dad?”


“Dad tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Katakanlah. Dad tak suka jika kamu berbohong atau menyimpan sendiri semua permasalahanmu.”


Bianca tersenyum di luar, namun di dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang tak mampu menyembunyikan apapun dari Dad Raymond. dad Raymond selalu bisa membaca perubahan suasana hatinya dan itu cukup mengesalkan baginya.


“Apa Dad perlu menyewa seorang informan dan mendapatkan informasi itu dari mereka?” tanya Raymond.


“Dad … aku …,” Bianca menatap manik mata Dad Raymond, “Aku hamil.”


🌹🌹🌹