Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#7



Kilatan cahaya lampu dan kamera memenuhi ruangan di Romans Production House. Seorang wanita dewasa yang begitu cantik dan seksi menjadi pusat perhatian setiap orang.


Dengan menggunakan sebuah gaun berwarna merah menyala dan belahan dada rendah serta potongan rok hingga setengah paha. Gaun yang begitu membentuk tubuhnya membuat Aurora terlihat begitu seksi. Rambutnya sengaja digerai dengan ikalan di bagian bawah, membuatnya terlihat dewasa dan menggoda.


Kursi-kursi disusun berjajar dengan sebuah meja di hadapannya. Di depan kursi-kursi itu terdapat sebuah panggung besar yang tidak terlalu tinggi. Terdapat pengeras suara di beberapa titik di atas meja.


Asisten Aurora mempersilakan Aurora untuk naik ke atas panggung setelah manager bagian produksi memperkenalkannya sebagai aktris yang akan membintangi film terbaru mereka yang bergenre romantis modern.


Kilatan cahaya kamera kembali berkedip berulang-ulang, memanfaatkan momen saat Aurora naik ke atas panggung dengan begitu anggunnya. Para wartawan mengajukan beberapa pertanyaan dan dijawab oleh Aurora dan juga manager bagian produksi secara bergantian.


Setelah 30 menit melakukan tanya jawab, kilatan cahaya kini menyoroti bagian pintu masuk, Alessandro Romano sebagai pemilik Romans Production House memasuki ruangan acara. Semua mata tertuju kepada sosok Alessandro, begitupun Aurora.


Secara diam-diam, Aurora juga selalu mencari berita mengenai Alessandro. Melihat Alessandro sudah menjadi pribadi yang sukses, serta terlihat sangat tampan, gagah, dan begitu dewaa, membuat Aurora kembali ke Italia dan menerima kontrak perdananya dengan rumah produksi milik Alessandro.


Aurora melihat Alessandro dengan tatapan yang begitu mendamba, tapi tidak dengan Alessandro. Ia sama sekali tidak melihat ke arah Aurora. Sejak ia melihat Aurora bersama dengan sahabatnya sendiri, saat itu pula ia merasa jijik dengan wanita itu. Apalagi setelah mendengar berita yang selalu ada di televisi mengenai wanita itu, membuat Alessandro yakin kalau wanita itu sudah dicicipi bergantian oleh semua lelaki yang diisukan menjadi kekasihnya.


Alessandro memang kadang masih mengintip akun media sosial Aurora, hanya untuk melihat bagaimana keadaan wanita itu dan ternyata ia baik-baik saja.


Sepertinya hanya dirinya yang menderita dengan kesepian dan kekosongan, sedangkan Aurora dan Raymond bisa mendapatkan kebahagiaan mereka. Hal itu membuat Alessandro bertambah kesal.


Kalian akan melihat satu-persatu dari kalian aku hancurkan, hingga kalian berlutut di kakiku dan meminta maaf karena apa yang telah kalian perbuat dahulu. Batin Alessandro sambil mengepalkan tangannya.


Setelah konferensi pers, diadakan acara jamuan makan malam yang terletak di sebelah ruangan konferensi. Terdapat 5 buah meja besar dengan 10 kursi yang mengelilingi masing-masing meja.


Para petinggi duduk dalam 1 meja bersama dengan Alessandro dan juga Aurora. Alessandro duduk bersebelahan dengan Aurora, hal itu membuat Aurora sangat senang karena ia bisa berdekatan dan kembali membuka kisah mereka.


Para pelayan mulai menghidangkan makanan pembuka di atas meja. Alessandro membuka serbet dan meletakkannya di atas pahanya, tanpa sekalipun melirik ke arah Aurora.


“Bisa berikan sedikit tomat pada sup ini? Alessandro sangat menyukainya,” bisik Aurora pada seorang pelayan. Namun hal itu masih bisa didengar oleh Alessandro dan juga beberapa orang yang berada di samping mereka.


“Tidak perlu. Aku tak menyukainya lagi. Itu justru akan membuatku mual,” kata Alessandro dengan suara yang cukup keras, hingga membuat Aurora sedikit malu.


“Tapi, Al …”


“Tidak usah terlalu sok kenal denganku. Kamu hanyalah aktris yang dibayar di sini, tak lebih,” Alessandro mengambil serbet yang ia letakkan di atas paha, kemudian meletakkannya di atas meja.


“Maaf, saya harus pergi. Silakan lanjutkan acara makan malamnya,” Alessandro berjalan meninggalkan tempat duduknya, membuat Aurora menggerutu kesal.


“Al?”


“Kamu tetap di sini saja, Jav. Aku akan pulang sendiri,” Javer pun kembali duduk dan melanjutkan acara jamuan makan malam tersebut, sementara Alessandro pergi meninggalkan lokasi.


**


Bianca saat ini sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hari ini sangat melelahkan baginya karena ia harus bolak balik ke kampus.


“Bi …,” panggil Raymond.


“Iya, Dad,” Bianca langsung bangun dan menghampiri pintu, “Ada apa, Dad?”


“Bagaimana kalau kita pergi makan malam berdua?” Mata Bianca langsung berbinar mendengarnya. Sudah lama sekali ia tidak makan malam di luar bersama dengan Raymond. Bianca pun pangsung menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu Daddy tunggu di mobil ya, jangan terlalu lama,” Bianca mengganti pakaiannya kemudian mengambil tas selempangnya yang berukuran kecil dan menyilangkannya di tubuhnya.


Di dalam mobil,


“Kamu mau makan di mana, sayang?”


“Hmmm … bagaimana kalau kita makan fast food saja? Sudah lama sekali aku tidak makan itu,” ujar Bianca.


“Baiklah princess, as you wish,” Bianca tersenyum.


Mereka masuk ke dalam sebuah restoran cepat saji yang menyediakan berbagai pilihan aneka burger. Mereka langsung menuju ke konter pemesanan, mereka bercakap-cakap berdua sambil menentukan pilihan mereka.


“2 beef burger, 2 kentang, dan 2 cola,” Bianca menyebutkan pesanannya. Bianca dan Raymond memang memiliki kesukaan yang sama, terutama dalam hal makanan.


Mereka duduk bersama di sebuah meja dengan 2 kursi yang berhadapan, persis di sebelah jendela. Mereka menyantap makan malam mereka dengan penuh canda tawa. Mereka saling bercerita tentang keseharian mereka.


Sebuah mobil berhenti persis di samping restoran cepat saji tersebut. Di sampingnya terdapat sebuah coffee shop. Seorang pria dengan pakaian resmi melangkah memasuki coffee shop tersebut.


Saat keluar, ia melihat ke arah restoran cepat saji yang memang sangat digemari oleh berbagai kalangan. Di sana terlihat seorang pria duduk di sisi jendela sedang bercanda.


“Raymond Costa,” gumam Alessandro.


Raymond merasa ada yang sedang memperhatikannya. Instingnya cukup tajam untuk merasakan hal-hal seperti itu.


Matanya bertemu dengan mata yang sangat dikenalinya, “Al?”


Namun, bukan tatapan dari seorang sahabat yang sangat ia rindukan, melainkan tatapan tajam yang menghunus hingga ke jantung.


Apa dia masih memiliki dendam padaku? - batin Raymond.


“Ada apa, Dad?” Tanya Bianca yang melihat perubahan pada wajah Raymond.


“Ah tidak apa-apa, sayang. Daddy hanya sedang memikirkan pekerjaan.”


“Daddy sebaiknya sesekali beristirahat, jangan terus memikirkan pekerjaan. Pekerjaan tak akan ada habisnya. Apa Daddy tak ingin pergi berlibur?” Tanya Bianca.


“Daddy akan senang jika berlibur bersamamu, tapi …,” ucapan Raymond terputus.


“Daddy akan selalu teringat pada Monmy jika kita pergi berlibur. Bukan begitu?”


“Sudahlah, sayang. Jangan bicarakan itu lagi,” Raymond mengalihkan pandangannya lagi ke luar. Namun ia sudah tak menemukan Alessandro, sahabatnya.


Al …


🌹🌹🌹