
Brakkk!!!
Raymond menghempaskan dokumen itu di atas meja. Otot-otot di kedua lengannya terasa mengeras, dan membuatnya ingin menghancurkan seisi ruangan. Gio yang tengah berdiri di hadapannya pun langsung mendapatkan ceramah tak terkendali.
“Apa kamu yakin sudah memeriksanya, Gi?” tanya Raymond setelah sekian kali ia bertanya.
“Saya sangat yakin sudah memeriksanya. Bahkan saya melakukannya hingga dua kali, baru kemudian mencetaknya.”
“Lalu mengapa bisa ada kesalahan fatal seperti ini? Cepat kamu panggil Bu Bertha!” perintah Raymond. Gio pun segera keluar dari ruangan. Ia menuju ke divisi keuangan untuk bertemu dengan Bu Bertha. Sebelum ia membawa Bu Bertha ke hadapan Raymond, ada baiknya ia menceritakan duduk perkaranya agar Bu Bertha bisa menjelaskan hal ini pada Tuan Raymond.
Bu Bertha masuk ke dalam ruangan Raymond bersama dengan Gio. Mereka berdua kini duduk di kursi yang tepat berada di hadapan Raymond.
“Bisakah anda menjelaskan semua ini?” tanya Raymond sambil menyerahkan laporan tentang proyek Milan.
Bertha membuka lembar demi lembar dan matanya menelisik. Ia ingat betul isi lapiran itu karena ia bersama-sama dengan Vina mengerjakannya hingga malam. Setelah itu ia meminta Vina untuk memasukkan dan merapikannya dalam tabel-tabel di komputer.
“Ini bukan laporan yang saya kerjakan bersama staf saya,” Bertha meletakkan laporan tersebut di atas meja.
“Tapi ini laporan yang saya tanda tangani,” Raymond dan Bertha kini melirik ke arah Gio, sementara Gio mulai merasa ada sesuatu yang salah.
Apa mereka berdua mencurigaiku yang telah mengubah isi laporan tersebut? - batin Gio.
“Sebentar, Tuan,” Gio keluar dari ruangannya, kemudian mengambil laptop miliknya. Ia menyimpan laporan tersebut di dalam laptopnya. Ia bahkan menyimpan laporan awal saat diberikan Bertha, kemudia laporan saat ia mengubahnya sedikit karena ada beberapa bagian yang menurutnya salah.
Ia membuka laptop tersebut di hadapan Raymond dan Bertha, kemudian memperlihatkan pada mereka.
“Yang ini benar adalah laporan yang saya buat,” ujar Bertha ketika melihat laporan awal yang diperlihatkan oleh Gio. Setelah itu Gio membuka laporan akhir yang ia cetak.
“Tapi … kenapa laporan ini sungguh berbeda? Aku tidak pernah mengubahnya lagi setelah kamu bilang sudah memeriksanya,” kata Raymond.
“Apa perusahaan Milenia yang melakukannya?” tanya Bertha.
“Tidak mungkin,” terang Gio, “Lihatlah, laporan ini adalah laporan yang di tanda tangani oleh Tuan Raymond. Perusahaan Milenia bahkan memberikan laporan aslinya kepada kita karena mereka merasa tak memerlukan laporan itu lagi.”
“Apa yang harus kita lakukan? Perusahaan bisa hancur kalau proyek ini gagal. Sudah 50 persen kita melakukan pembangunan, dan itu adalah saatnya kita mendapatkan bayaran untuk termin kedua. Bahkan kita sudah menyiapkan material hingga progress 80%,” Bertha mulai memasang wajah kebingungan. Proyek ini bisa dikatakan hidup mati perusahaan Costa karena proyek ini sangat besar. Belum lagi ganti rugi yang harus disiapkan oleh perusahaan Costa karena konstruksi yang rusak.
“Kalian pulanglah dulu,” Raymond mempersilakan Bertha dan Gio untuk keluar dari ruangan.
Saat ini Raymond benar-bebar tak bisa berpikir. Ia merasa seakan dunia runtuh, karena apa yang ia perjuangkan selama ini seperti hancur seketika. Perusahaan Costa adalah mimpinya. Ia memperjuangkannya bersama dengan Amadea. Amadea selalu mendukungnya, meskipun pada awal-awal mereka mengalami kesulitan keuangan.
**
Sudah beberapa hari ini Bianca tak melihat kehadiran Daddynya. Ketika ia bangun pagi, pelayan mengatakan bahwa Dad Raymond telah berangkat dan baru akan pulang ketika ia sudah tertidur. Bahkan ia pernah mendengar bahwa Dad Raymond tidak pulang sama sekali.
Ada apa sebenarnya? Jadwalku di kampus juga sedang penuh karena mulai ada kerja kelompok yang harus segera diselesaikan. Aku harus segera mencari tahu. - batin Bianca.
“Bi, kamu mau kemana? Buru-buru amat?” tanya Melanie.
“Aku mau pulang, ada yang harus dikerjain,” kata Bianca.
“Apa karena perusahaan Uncle yang sedang bermasalahkah?”
“Maksudmu?”
“Kamu tidak tahu, Bi?” Bianca menggelengkan kepalanya, “Daddyku bilang kalau perusahaan Costa sedang ada masalah. Kamu tahu kan Daddy sering berkumpul dengan pengusaha-pengusaha, jadi kemarin itu setelah pulang dari pertemuan, aku mendengarnya sedang berbicara dengan Mommy.”
“Bermasalah? Apa masalah yang menimpa Daddy?” Bianca langsung meraih tas nya dan berlari meninggalkan Melanie.
“Bi!!! Hati-hati!” pesan Melanie sambil menatap kepergian sahabatnya itu.
**
Bianca tengah berdiri di depan perusahaan Costa. Ia berjalan masuk lobby, tanpa ada seorang pun yang menegurnya. Semua orang kelihatan begitu sibuk dengan berjalan ke sana ke mari. Bianca segera naik lift menuju ruangan Dad Raymond.
Sunyi … itu yang ia rasakan saat menginjak lantai tempat di mana ruangan Dad Raymond berada. Tak ada seorang pun di sana. Ruangan yang biasa ditempati oleh para direktur pun terlihat kosong.
Akhirnya Bianca pun pulang setelah mendapatkan kabar dari bagian resepsionis bahwa Dad Raymond sedang meeting dan tidak tahu kapan akan selesai.
Bianca duduk di atas tempat tidurnya sambil membaca diary milik ibunya yang kini selalu berada di dalam tas miliknya. Ia berencana akan menunggu Dad Raymond pulang. Ia rindu karena seperti sudah lama mereka tidak bertemu.
Ara, sahabatku. Ia selalu ada untukku. Ia mengatakan padaku bahwa ia sudah menjadi kekasih dari Alessandro, sahabat Ray. Aku selalu mendukung dan menyemangatinya, karena aku adalah sahabatnya.
Namun, hari itu ia membuatku tak mendukungnya lagi. Aku melihatnya masuk ke dalam hotel bersama seorang pria paruh baya, yang lebih cocok menjadi ayahnya … tidak tidak bahkan lebih cocok menjadi kakeknya. Aku memang tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi Ara menggandeng lengannya mesra, bahkan memeluknya posesif.
Aku diam, aku tak menceritakan ini semua pada Ray. Aku takut, ya aku takut karena saat itu Ara adalah kekasih Al. Apa tanggapan Ray padaku nanti kalau tahu Ara berbuat seperti itu. Apa Ray akan menganggapku juga sama seperti Ara? Apa Ray akan menganggapku berbuat hal semacam itu juga?
🌹🌹🌹