Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#32



Raymond berdiam di dalam kamarnya. Setelah ia berbicara dengan Bianca, yang ada di dalam hati dan pikirannya hanya kebimbangan. Bahkan kini ia tahu bahwa selama ini Bianca hanya membohonginya tentang hilangnya sebagian ingatannya.


Maafkan aku, Dad. Aku berjanji tak akan mendekatinya lagi.


Raymond mengerti bahwa seorang anak membutuhkan orang tua yang lengkap. Bagaimana ia bisa membiarkan Alessandro masuk kembali ke dalam hidup putrinya, sementara ia juga akan memiliki anak bersama wanita lain.


Pengorbanan yang dilakukan oleh Raymond terasa sia-sia karena Alessandro telah kembali ke dalam pelukan Aurora. Sekarang yang harus ia pikirkan adalah Bianca, putrinya. Sebagai seorang ayah dan juga seorang pria, ia tak akan membiarkan putrinya melewati ini semua sendiri. Ia akan selalu berada di samping putrinya, memberikan yang terbaik dan mendukung semua keputusan Bianca.


Sementara Itu Bianca duduk sendiri di tenpat tidur sambil bersandar pada dipan tempat tidurnya. Menyelimuti dirinya hingga batas pinggang, ia menerawang pada kejadian demi kejadian antara dirinya dan Alessandro.


Ia telah mengakui semuanya pada Dad Raymond, termasuk tentang kebohongan tentang ingatannya. Ia merasa sangat lega karena telah mengeluarkan semuanya. Ia kini hanya akan menunggu keputusan yang akan diambil oleh Dad Raymond dan ia berjanji akan menuruti semuanya.


**


Alessandro masih sangat kesal dengan pemberitaan tentang dirinya. Ia telah meminta Javer untuk menekan semuanya agar tak mencuat keluar. Namun, reputasi Aurora sebagai aktris kelas atas dan dirinya yang adalah CEO Perusahaan Romano, membuat berita semakin memanas dan para netizen juga terus mengulik hubungan keduanya.


Kedua orang tua Alessandro juga ingin putra semata wayangnya itu segera menikah. Mereka ingin segera menimang cucu dan berita yang muncul justru membuat mereka bahagia.


“Javer! Apa kamu tidak bisa melakukan sesuatu? Aku tidak suka dengan penberitaan yang berlarut-larut seperti ini,” ujar Alessandro.


“Aku sudah berusaha menekannya, namun kamu tahu kan seperti apa media sosial saat ini. Bahkan netizen pun bisa tiba-tiba menjadi detektif dan memuat beritamu di halaman akun mereka.”


“Kalau begitu, beli saja perusahaan media sosial itu, jadi kita bisa mengendalikan apa yang mereka posting.”


Dia kira aku ini apa? Dan seenaknya saja mau membeli media sosial. Apa dia kira media sosial hanya ada 1 saja? Benar-benar merepotakn. Bisa-bisa netizen akan berubah lebih ganas lagi. - batin Javer.


“Sebaiknya kamu kembali dulu ke Paris dan menjelaskan ini pada kedua orang tuamu,” Javer berusaha memberikan jalan keluar pada Alessandro.


“Jika aku kembali, yang ada malah mereka semakin memaksaku untuk menikahi wanita itu. Akan lebih baik jika aku berada di sini, sehingga aku masih bisa menghindar,” Alessandro menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya sambil menghela nafas.


“Lalu?”


“Aku akan melakukan tes DNA saat usia kandungan Aurora menginjak 4 bulan.”


“4 bulan?”


“Ya, aku telah menanyakan hal ini pada dokter kandungan dan mereka siap melakukannya jika aku membutuhkan,” kata Alessandro.


“Tapi, apakah itu tidak menyakiti anakmu nantinya?”


“Anak itu bukan anakku!” Alessandro menjadi marah ketika Javer mengatakan bahwa anak yang dikandung oleh Aurora adalah miliknya. Ia memang ingin memiliki anak, tapi hanya dengan wanita yang ia cintai … dan wanita itu bukanlah Aurora.


“Ma-maafkan perkataanku Al, tapi kurasa tindakanmu yang seperti itu juga akan mendapatkan hujatan dari para netizen.”


“Bagaimana kalau Nona Aurora tidak mau melakukannya?”


“Mudah, aku akan memaksanya, dan segera cabut kontrak film dengannya sekarang juga,” perintah Alessandro.


“T-tapi Al?”


“Tak ada tapi-tapian, kerjakan perintahku sekarang juga atau kamu selanjutnya yang akan aku pecat,” Javer mendengus kesal. Memang bekerja dengan Alessandro ia harus benar-benar memiliki kesabaran tingkat tinggi.


**


“Kalian tidak bisa melakukan itu!” teriak Aurora.


“Tentu saja kamu bisa, nona. Semuanya sudah tertulis dalam surat kontrak.”


“Tapi ini adalah anak Alessandro dan Alessandro adalah atasan kalian. Jadi kalian tidak bisa seenaknya membatalkan kontrak kerjaku,” Aurora mengeram kesal dengan keputusan yang dikeluarkan oleh produser film.


“Kami mendapatkan perintah langsung dari Tuan Javer, yang itu berarti perintah langsung dari Tuan Alessandro. Tuan Javer juga sudah mencarikan aktris baru untuk menggantikan anda dan dia akan datang sebentar lagi.”


Sialannnn!!! Ini tak bisa dibiarkan. Aku membutuhkan kontrak ini. Uang yang akan kuterima sangat banyak. Kalau mereka membatalkan, maka aku akan kehilangan semuanya, uang, reputasi, bahkan harga diriku. Sepertinya aku harus mencari cara lain agar Alessandro segera menikahiku, sehingga aku bisa hidup sebagai Nyonya Romano. - batin Aurora.


“Aku akan menemui Alessandro dan meluruskan semua ini. Yang pasti aku tak ingin ada pembatalan kontrak,” kata Aurora.


“Maaf Nona, tetap tidak bisa. Di dalam kontrak sudah tertulis dengan jelas bahwa pemain dilarang menikah ataupun hamil dalam masa kontrak kerja dan anda sudah menandatanganinya,” sang produser pun akhirnya berucap dengan ketus dan tegas.


“Ya, ganti saja dia dengan yang lain. Menyusahkan saja! Ia akan memperlambat proses pembuatan film ini dan aku tidak mau berlama-lama. Katakan pada Tuan Javer bahwa aku setuju dengan pergantian pemeran utama wanita,” Juan yang baru saja tiba di lokasi syuting dan mendengar perkataan sang produser pun akhirnya ikut menimpali karena saat ini hatinya juga masih kesal dengan apa yang telah dilakukan Aurora.


“Kamu tidak berhak mengatur, Juan Fernandez!” teriak Aurora.


“Aktris yang kerjanya hanya bisa memperlambat proses sebaiknya tidak dipakai lagi. Bukankah itu akan merugikan kita?” Juan melirik sinis ke arah Aurora.


“Kamu tidak perlu ikut campur! Ini semua tak ada hubungannya denganmu!”


“Hei! Aku ini pemeran utama pria. Jika kamu memperlambat, maka kerjaku juga akan semakin lama. Apa kamu kira kerjaku hanya di sini saja?” Sang produser yang melihat pertengkaran antara Aurora dengan Juan akhirnya kembali angkat bicara.


“Maaf Nona Aurora. Untuk saat ini kami hanya akan mengikuti semua keputusan dari Tuan Javer yang merupakan asisten pribadi Tuan Alessandro. Jika memang anda merasa keberatan dengan itu, sebaiknya anda langsung menemui mereka. Kami harus melanjutkan proses syuting yang sudah tertunda cukup lama karena anda.”


Aurora menghentakkan kedua kakinya ke lantai, “Kalian semua lihat saja. Jika aku sudah menikah dengan Alessandro, maka aku akan memecat kalian semua. Dasar tidak becus!”


Aurora keluar dari lokasi syuting diikuti oleh managernya, Riana. Perasaan kesal menyelimutinya dan membuatnya berpikir untuk menemui Alessandro kembali di perusahaan Romano.


🌹🌹🌹