
Alessandro memeluk Bianca dengan hati-hati karena ia tak ingin pelukannya menekan perut Bianca. Ia mencium kening Bianca sekali lagi, “Maafkan aku. Saat itu dendam benar-benar menguasaiku, hingga aku tak sadar bahwa aku sudah menyukaimu sejak pertama aku melihatmu.”
Bianca menengadahkan wajahnya, menatap manik mata Alessandro. Tak ia temukan kebohongan, ia hanya melihat ketulusan. Bianca melingkarkan tangannya di tubuh Alessandro dan membiarkan wajahnya berada di dada pria itu.
Alessandro mengelus rambut Bianca dan mengecup pucuk kepala wanitanya itu, “Kamu pasti lelah. Kamu mau mandi terlebih dahulu atau langsung tidur?”
“Aku akan mandi terlebih dahulu.”
“Mau mandi sendiri atau dimandikan?” pertanyaan Alessandro membuat wajah Bianca memerah. Tanpa menjawab, Bianca melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Bianca memperhatikan sekeliling kamar mandi yang begitu mewah. Ia berdiri di depan cermin, setelah sebelumnya menyalakan air hangat untuk mengisi bathtub.
Dengan perlahan Bianca membuka resletingnya, kemudian menurunkan gaunnya. Ia melipatnya dan meletakkannya di sebuah kotak kayu. Setelah membuka semuanya, ia masuk ke dalam bathtub untuk menikmati air hangat yang telah ditetesi dengan aroma therapy yang begitu menenangkan.
Bianca melakukan semuanya dengan perlahan karena ia selalu sangat berhati-hati dengan kehamilannya. Ia berjalan menuju shower dan kembali membersihkan diri setelah berendam. Bianca membuka sebuah lemari besar yang tertanam di dinding, di dalamnya terdapat berbagai macam jenis handuk dan bathrobe, serta berbagai macam perlengkapan mandi lainnya.
Bianca mengambil sebuah bathrobe dan memasangkannya di tubuhnya kemudian berjalan keluar kamar mandi.
“Kamu sudah selesai? Tunggu aku, aku akan membersihkan diri terlebih dahulu,” Alessandro pun masuk ke dalam kamar mandi, sementara Bianca mengeringkan rambutnya di depan meja rias.
Tak berselang lama, Alessandro keluar dengan menggunakan bathrobe dan pergi ke wardrobe untuk berganti menjadi piyama.
“Berikan padaku, aku akan membantumu,” Alessandro mengambil alih hairdryer dari tangan Bianca dan dengan telaten membantunya.
“Aku bisa melakukannya sendiri,” kata Bianca.
“Aku tahu kamu bisa melakukannya. Tapi sekarang ada aku di sisimu yang akan selalu membantumu. Jadi pergunakanlah aku,” ntah mengapa setiap ucapan Alessandro selalu membuat perasaan Bianca menghangat.
“Selesai,” Alessandro meletakkan hairdryer tersebut di atas meja, kemudian langsung menggendong Bianca ala bridal style menuju ke tempat tidur besar miliknya.
Alessandro naik ke atas tempat tidur dan menjadikan lengan atasnya sebagai tumpuan kepala Bianca. Ia memiringkan tubuhnya untuk melihat wajah Bianca dari dekat.
“Aku mencintaimu … cuppp,” Alessandro mengecup pipi Bianca. Wajah Bianca yang kaget membuat Alessandro gemas, sehingga ia kembali mengecup pipi Bianca. Tak cukup hanya pipi, Alessandro mengecup dahi, mata, dan juga hidung Bianca, hingga membuat Bianca terkekeh karena merasa sedikit geli.
Cuppp ….
Sebuah ciuman kini mendarat di bibir Bianca. Tawa Bianca terhenti dan matanya langsung melihat ke arah Alessandro. Manik mata keduanya bertemu, seakan saling menyelami pikiran masing-masing.
Alessandro menarik lengannya perlahan, kemudian berpindah hingga mengungkung tubuh Bianca. Alessandro kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Bianca. Ia mencium bibir Bianca dengan perlahan, menyesap dan melummatnya.
Bianca membuka bibirnya untuk memberikan akses pada Alessandro untuk bermain di dalam rongga mulutnya. Alessandro tersenyum saat Bianca membuka mulutnya, membuatnya semakin dalam menyesap dan melummat bibir Bianca.
Jari Alessandro menyusuri leher Bianca, membuat Bianca merasakan gelenyar sekaligus geli yang berbeda. Alessandro menarik tali dari piyama satin yang menutupi tubuh Bianca, membuatnya terbuka sehingga memperlihatkan lingerie satin dengan tali tipis.
Alessandro menyentuh perut Bianca, kemudian mengelusnya, “Halo sayang Daddy.”
Ia mengecup perut Bianca, membuat Bianca tersenyum dan mengelus rambut Alessandro. Setelah mencium perut Bianca yang masih dibatasi oleh lingerie satin, tangan Alessandro menurunkan tali lingerie tersebut dan mengecup bahu Bianca.
“Al … “
“Hmm … ada apa? Apa kamu merasa sakit atau lelah?” tanya Alessandro sambil menatap manik mata biru milik Bianca.
“Aku lebih mencintaimu,” Alessandro kembali memberi lummatan di bibir Bianca dan secara perlahan membuka bathrobe dan lingerie satin Bianca, hingga menyisakan penutup segitiga di bagian bawah.
Alessandro memainkan kedua aset kembar milik Bianca yang terlihat begitu penuh. Ia memberikan beberapa tanda kepemilikan di tubuh Bianca. Ia kembali mencium perut Bianca, namun kini tanpa dibatasi oleh lingerie satin.
“Dad akan segera mengunjungimu.”
Alessandro melepas piyama miliknya dan kini dirinya benar-benar polos. Bianca melihat ke arah senjata milik Alessandro yang terlihat begitu besar. Ia menjadi takut karena kembali teringat di malam ketika Alessandro mengambil miliknya dengan cara yang sangat kasar.
“Apakah akan sakit lagi?” tanya Bianca pelan.
“Mungkin awalnya masih akan terasa sakit, tapi aku akan melakukannya dengan pelan dan lembut. Maaf semua kekasaranku dulu, aku berjanji tak akan mengulanginya lagi.”
Alessandro membuka penutup terakhir yang ada di tubuh Bianca. Ia memberikan beberapa ranggsangan hingga Bianca mulai menggeliat dan merasakan gelenyar aneh di seluruh tubuhnya.
“Aku akan melakukannya sekarang,” Bianca menganggukkan kepalanya, namun ia langsung memejamkan matanya.
“Lihat aku, sayang. Lihat mataku. Aku tak ingin kamu mengingat hal yang buruk tentangku. Biarlah aku mengukir malam-malam yang indah bersamamu,” Alessandro mengarahkan senjatanya ke arah benteng milik Bianca.
“Ahhh … Al.”
“Punyamu sempit sekali, sayang. Masih sama seperti pertama aku memasukinya.”
“Ahhhh ….,” milik Alessandro kini sudah terbenam sempurna pada milik Bianca. Alessandro mencium Bianca dengan lembut, sambil perlahan menggerakkan pinggulnya. Ia tak melakukannya dengan kasar karena ia tak ingin membangkitkan trauma Bianca dan tak ingin membahayakan anaknya.
“Sayang, kamu benar-benar nikmat,” Alessandro terus menggerakkan pinggulnya, hingga hanya terdengar suara errangan dan dessahan di dalam kamar tersebut. Mereka hanya merasakan kenikmatan dan panas yang terasa menjalar pada tubuh mereka.
Setelah beberapa lama, Alessandro dan Bianca akhirnya mencapai puncak bersama-sama. Dengan menahan tubuhnya, Alessandro mengecup dahi Bianca, “Aku mencintaimu.”
Alessandro merebahkan diri di samping Bianca kemudian menyelimutinya. Ia mengusap pucuk kepala Bianca dan kembali mencium dahinya, “Aku telah menemukan tempatku untuk pulang.”
Alessandro memeluk Bianca dari belakang, sambil mengelus perut Bianca dengan lembut dan perlahan.
“Al …,” Bianca bisa merasakan sesuatu kembali mengeras di bagian belakang tubuhnya.
“Beristirahatlah, atau aku akan meminta lebih.”
Bianca memutar tubuhnya perlahan, menghadap Alessandro, “Apa kamu menginginkannya lagi?” Bianca menyentuh senjata milik Alessandro, membuat Alessandro menggeram nikmat.
Bianca mengubah posisinya dan kini ia duduk di atas tubuh Alessandro. Dengan posisinya yang berada di atas, ia pun kembali memasukkan senjata Alessandro ke dalam miliknya dan mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan.
“Ahhh sayang …”
Bianca terus menggerakkan pinggulnya, semakin lama semakin cepat. Ia menahan beban tubuhnya dengan tangan di atas dada Alessandro. Bianca terus melakukannya, hingga akhirnya dirinya dan Alessandro kembali mencapai puncaknya secara bersamaan.
“Aku lelah,” Bianca merebahkan tubuhnya di samping Alessandro dan memeluk suaminya itu.
“Kamu luar biasa, sayang,” Alessandro memeluk Bianca dan mengelus punggung polos Bianca, hingga terdengar nafas teratur Bianca yang menandakan bahwa wanitanya kini telah terlelap.
🌹🌹🌹