Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#13



Aku melihatnya lagi setelah kami sebelumnya bertemu di sekolah, tapi kali ini aku melihatnya di sebuah cafe. Ia sedang bersama sahabatnya. Mataku hanya tertuju padanya, meskipun teman-teman selalu mengatakan bahwa sahabatnya lebih gagah dan tampan.


Hari itu, aku pulang dengan tergesa-gesa hingga melupakan buku catatanku yang kuletakkan di laci bawah meja. Dari halte bis, aku kembali berlari ke sekolah. Kalau saja besok tidak ada ulangan, sudah kurelakan buku catatanku itu menginap di sekolah.


Baru sampai di depan kelas, aku berhenti sejenak untuk kembali mengatur nafasku. Memang pelajaran matematika itu bukan hanya menguras otakku, tapi juga energiku. Menyebalkan!


“Apa kamu mencari ini?” Sebuah suara menyadarkanku. Aku mendongakkan kepalaku dan kulihat ia ada di sana. Agghh … laki-laki pujaanku. Senyumnya benar-benar menawan, ya … senyum itu telah menawan hatiku agar tidak berpaling pada yang lain, meskipun aku tahu bahwa ia akan sulit untuk kugapai.


Buku catatan matematikaku menjadi pembuka perkenalanku dengannya. Bahkan membuatku menganggap bahwa matematika kini adalah pelajaran yang sangat membahagiakan untukku.


Ahhh pangeran matematikaku … muah … muah ….


Bianca tersenyum sendiri membaca halaman diary milik Mommynya. Ternyata perkenalannya dengan Daddynya, sungguh sangat berkesan di hati Mommynya. Bianca memeluk buku diary itu, “Aku menyayangimu, Mom.”


**


Hari ini Bianca ada ujian akhir semester di kampusnya. Selama seminggu ini, ia sama sekali tidak berhubungan dengan Alessandro. Bahkan untuk sekedar chat, sama sekali tidak ia lakukan.


Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Hubungannya dengan Alessandro hanyalah suatu hubungan yang bisa ia katakan sebagai hubungan tanpa status. Alessandro memang mengatakan menyukainya, tapi tak ada pernah satu kalimat pun di mana ia meminta Bianca untuk menjadi kekasihnya.


Seorang pengawal juga ditugaskan oleh Raymond untuk memantau Bianca dari kejauhan. Sejak melihat kebersamaan antara Alessandro dan Bianca, ia terus memperhatikan gerak-gerik mereka berdua, yang tanpa Raymond ketahui bahwa Alessandro menyadari itu.


Ponsel Bianca berbunyi, ia melihat nama Alessandro tertera di sana. Ia ingin sekali untuk tidak mengangkatnya. Namun, ntah mengapa jarinya menggeser dari warna merah ke arah hijau.


“Halo.”


“Bi ….,” suara Alessandro terdengar begitu serak di telinganya.


“Ada apa, Al?” tanya Bianca.


“Mengapa kamu tidak pernah menghubungiku? Apa kamu tidak merindukanku?” tanya Alessandro.


“Ahhh, maaf. Aku lupa mengatakan padamu kalau minggu ini aku ujian semester. Banyak sekali tugas yang harus kukumpulkan dan materi yang harus kupelajari,” jawab Bianca setengah berbohong.


“Apa hari ini kamu bisa datang ke apartemenku?”


“Apa ada laporan lagi yang ingin kubantu kerjakan?” tanya Bianca. Sebenarnya Bianca setengah antusias dan setengah ingin menolak.


“Aku sakit … uhukk … uhukkk!” Bianca mendengar suara Alessandro yang batuk. Tanpa banyak bicara, ia memutus sambungan telepon dan langsung menuju ke tempat Alessandro.


Kegundahannya selama seminggu ini tiba-tiba saja menghilang karena keadaan Alessandro yang sakit. Mungkin ia kelelahan hingga sakit dan tak bisa menghubunginya, begitulah pikirnya.


Tak sampai 30 menit, Bianca telah sampai di depan gedung apartemen Alessandro. Ia menyuruh supirnya untuk pulang saja karena ia tidak tahu berapa lama ia akan berada di sana.


ting tong …


Seperti biasa, pintu akan otomatis terbuka. Bianca melihat tak ada siapapun di ruang tengah. Ia pun segera menghampiri kamar tidur Alessandro, tempat yang tak pernah ia masuki meskipun ia sering ke sana untuk belajar dan membantu Alessandro.


“Al …”


Bianca membuka pintu lebih lebar. Ia bisa mendengar suara Al karena pintu kamar tidurnya memang tidak tertutup rapat.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Bianca sambil memegang dahi Alessandro. Wajahnya kini terlihat khawatir karena tubuh Al terasa panas.


“Aku hanya kelelahan. Beberapa hari aku lembur terus hingga hanya tidur 1 - 2 jam setiap hari,” kata Alessandro.


Plakkk …


Bianca memukul bahu Alessandro dan Alessandro mengaduh kesakitan, “kalau begitu, ini semua salahmu sendiri. Kalau begitu aku pergi saja,” ujar Bianca.


“apa kamu tega meninggalkanku seperti ini?” Kata Alessandro dengan tatapan memelas.


Bianca menghela nafasnya pelan, kemudian ia keluar. Ia tidak pulang, hanya pergi menuju dapur untuk membuatkan Al semangkuk bubur. Daddynya selalu membuatkan bubur ataupun sup jika ia sedang sakit, begitu pula sebaliknya.


Dengan gesit Bianca mengambil beberapa peralatan yang ia perlukan setelah membuka beberapa lemari dapur mencari-cari peralatan yang ia butuhkan. Setelah selesai, ia meletakkan bubur tersebut di atas mangkuk dan membiarkan sisanya di atas panci agar bisa dipanaskan lagi nanti.


Bianca membuka pintu kamar tidur Alessandro. Ia melihat pria itu memejamkan mata. Ia meletakkan nampan di atas nakas, kemudian bergerak mendekati Alessandro.


“Al, bangun. Makanlah dulu, setelah itu minum obat. Kamu demam,” kata Bianca sambil sedikit menepuk tubuh Alessandro.


“Ehmmm … Mommy,” ucap Alessandro pelan.


“Aku bukan Mommymu. Bangun dan makanlah,” Bianca membantu Alessandro untuk bangun dan bersandar di kepala ranjang.


Dengan telaten, Bianca menyuapi Alessandro. Ia meniup bubur tersebut sebentar kemudian kembali menyuapi pria itu.


“Enak,” kata Al.


“Tentu saja. Ini adalah bubur resep keluargaku. Daddy selalu membuatkanku bubur ini jika aku sakit, begitu pula sebaliknya. Ayo makanlah, jangan melihatku seperti itu,” Bianca kembali menyuapi Alessandro hingga bubur tersebut tandas.


Setelah mencuci peralatan makan, Bianca kembali ke kamar sambil membawa obat untuk Alessandro.


“Sekarang makan obat ini, kemudian beristirahatlah. Besok pasti kamu akan lebih baik. Aku meninggalkan sisa bubur di panci atas kompor. Kamu bisa memanaskannya sebentar jika kamu ingin memakannya lagi,” pesan Bianca.


“Apa kamu tidak akan menemaniku?” tanya Alessandro.


“Maafkan aku. Tapi besok aku ada ujian pagi-pagi. Aku harus belajar malam ini. Aku berjanji akan kembali kemari besok, hmmm …,” Bianca tersenyum, membuat Alessandro tak dapat menolak keinginan Bianca.


“Baiklah. Terima kasih untuk hari ini.”


“Hmm… aku pergi dulu,” Bianca pun keluar dari kamar tidur Alessandro. Sebenarnya hatinya tak tega meninggalkan Al dalam keadaan sakit seperti itu, tapi ia juga tak mau mengorbankan kuliahnya. Apalagi ia merasa Daddynya akan mempertanyakan kemana dia pergi jika ia tidak pulang.


Dengan langkah sedikit berat, Bianca keluar dari apartemen Alessandro. Ia memesan taksi online dan kembali ke rumah.


🌹🌹🌹