Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#49



Alessandro menggosok telinganya yang habis dijewer oleh Aunty Margaretha. Ia benar-benar dimarahi habis-habisan karena telah melakukan tindakan yang sangat bejat.


“Sayang, kamu harus memintanya bertanggung jawab. Jangan biarkan ia lepas begitu saja. Kamu tahu, ia selalu menjadi incaran para wanita. Sebaiknya kamu segera mengikatnya, sehingga ia hanya menjadi milikmu dan anakmu,” pesan Margaretha


“Tapi Aunty … untuk apa aku mengikatnya jika ia mencintai wanita lain?” tanya Bianca.


Margaretha tersenyum, kemudian menggenggam kedua tangan Bianca, “Aunty bukan membela Alessandro, tapi Aunty sangat yakin ia adalah pria yang baik dan bertanggung jawab, terlepas dari apa yang telah ia lakukan padamu. Jika tidak, Raymond tak akan memaafkannya dengan semudah itu. Aunty sangat mengenal Alessandro dan juga Raymond dengan baik, mereka adalah pria-pria yang luar biasa, dan mungkin tak ada duanya, terutama Dad mu itu,” Margaretha memuji Raymond, membuat Bianca merasa sangat bangga pada Dad-nya itu.


“Terima kasih, Aunty. Aku akan memikirkannya.”


Margaretha meminta Alessandro untuk duduk agak jauh dari mereka karena ia memang ingin berbicara 4 mata dengan Bianca. Alessandro terus memandang ke arah mereka dengan memicingkan matanya, seakan curiga dengan apa yang dikatakan oleh Margaretha pada Bianca.


“Lihatlah itu, dari pandangan matanya saja Aunty tahu bahwa ia mengira Aunty sedang menjelek-jelekkannya,” Margaretha dan Bianca tertawa, membuat Alessandro semakin gundah.


“Baiklah, aku harus pergi. Nanti aku akan datang lagi ke sini dan mengajak Dad Raymond,” kata Bianca.


“Ya, bawalah Dad-mu itu kemari sebelum Aunty yang akan mendatanginya dan menjewernya seperti Aunty menjewer Alessandro,” Bianca kembali terkekeh, membayangkan ada seseorang yang akan menjewer dan memarahi Dad Raymond.


“Apa kalian sudah selesai?” tanya Alessandro.


Bianca berjalan mendekati Alessandro, kemudian ia pamit pada Margaretha, “Sampai jumpa lagi, Aunty.”


Margaretha menepuk bahu Alessandro dan berbisik, “Nikahilah dia secepatnya, sebelum pria lain akan menikahinya dan mengakui anak yang berada salam kandungannya.”


“Aku akan melakukannya, tapi aku harus pergi lebih dulu untuk menemui seseorang,” kata Alessandro dan itu didengar oleh Bianca.


Bianca kembali teringat pada alasan ia datang ke Perusahaan Romano, padahal tadi ia sudah melupakannya.


Alessandro mengajak Bianca kembali ke ruangannya karena ia harus segera menyelesaikan beberapa berkas yang memerlukan tanda tangannya sebelum ia pergi untuk melakukan perjalanan dinas.


“Aku akan menyelesaikan ini, lalu aku akan mengantarmu pulang,” kata Alessandro.


Setelah menyelesaikan semua tanda tangannya, Alessandro melihat ke arah Bianca yang tengah memainkan ponselnya. Sebenarnya Bianca tak sedang benar-benar memainkan ponselnya, ia hanya mengalihkan pikirannya dari semua pikiran negatif yang sejak semalam seakan terus memenuhi pikirannya.


Akan sangat menyenangkan jika kamu duduk di sana dan selalu memperhatikanku, dengan statusmu yang menjadi istriku. - batin Alessandro.


“Ayo! Aku akan mengantarmu pulang,” ajak Alessandro, “Aku akan pergi dan untuk sementara waktu tidak bisa menemuimu. Aku akan menghubungimu nanti.”


Bianca bangkit dari duduknya untuk mengikuti Alessandro keluar dari ruangan. Melihat sosok Alessandro dari belakang, ia merasa Alessandro akan menjauh jika ia membiarkannya pergi.


Sebuah kehangatan seakan melingkari tubuh Alessandro ketika ia merasakan sebuah pelukan dari belakang, “Bisakah kamu tidak pergi? Apa kamu akan meninggalkanku dan anak kita?”


Alessandro memegang tangan Bianca yang ada di perutnya, “Bi …”


“Aku mau menikah denganmu.”


Alessandro memutar tubuhnya dan mengangkat dagu Bianca, menatap mata wanita di hadapannya itu, “Katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya.”


Alessandro langsung menghambur memeluk Bianca, “Aku akan segera menikahimu,” Bianca bisa melihat wajah Alessandro yang berbinar-binar seakan baru saja mendapatkan hadiah besar.


“Apa kamu akan tetap pergi menyusul Nona Aurora?” Bianca memberanikan diri untuk bertanya pada Alessandro.


Alessandro tersenyum dan memegang bahu Bianca, “Aku tidak akan pernah menyusul wanita manapun. Hanya kamu yang akan selalu ada di sini,” Alessandro menunjuk bagian dadanya, berharap Bianca mengerti maksud hati dan perasaannya.


“Aku hanya pergi untuk menemui Tuan Oscar Gerardo di Meksiko. Hanya sekedar urusan bisnis, tidak lebih. Apa kamu mau ikut denganku?” tanya Alessandro.


Bianca menatap Alessandro dan tersenyum. Kebahagiaan dan kehangatan seakan mengalir kembali di dalam tubuhnya, “Aku akan menunggumu di sini, menunggumu datang kembali padaku.”


“Kalau begitu bersiaplah, karena ketika aku kembali … aku akan langsung membawamu untuk mengucapkan janji pernikahan kita,” Alessandro mengecup bibir Bianca, kemudian menahan tengkuknya untuk memperdalam ciuman itu.


“Aku mencintaimu, Bianca Costa.”


**


Riana kembali berdiri di depan unit apartemen Juan Fernandez, tapi kali ini untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, ia akan pergi ke New York karena sudah mendapatkan pekerjaan di sana.


Riana membunyikan bel dan menunggu pintu di hadapannya terbuka. Tak berselang lama, Juan membukakan pintu, “Masuklah.”


“Maaf, aku hanya ingin memberikan ini,” Riana menyerahkan sebuah amplop pada Juan, kemudian meninggalkan tempat itu.


Juan menerima amplop tersebut dan menutup pintu apartemennya kembali setelah Riana pergi. Ia berjalan menuju sofa dan meletakkan amplop tersebut di sana. Ia tahu apa isi amplop tersebut hanya dengan memegangnya.


Ia duduk di sofa kemudian membuka amplop tersebut. Seperti dugaannya, isi amplop tersebut adalah uang. Ia meraih sebuah amplop berwarna peach yang diletakkan bersamaan dengan uang tersebut.


Juan,


Aku sangat berterima kasih atas semua yang kamu lakukan untukku. Maafkan aku yang telah melakukan banyak kesalahan padamu. Maafkan aku juga yang tidak bisa berdiri di hadapanmu secara langsung untuk meminta maaf.


Terima kasih karena kamu berkenan untuk mengeluarkan uang untuk perawatanku di rumah sakit. Aku meminta pada Riana untuk mengembalikan semuanya padamu. Maaf, bukan aku tidak mau menerimanya, tapi aku tak ingin berhutang budi lebih banyak lagi.


Bersama surat ini juga, aku ingin memberitahukan padamu bahwa anak yang kukandung memang anakmu, anak kita. Maaf karena obsesiku yang terlalu besar, aku mengingkarinya dan mengatakan hal-hal yang buruk padamu.


Aku mungkin bukan seorang wanita yang baik, tapi aku akan mencoba menjadi ibu yang baik. Aku berjanji akan menjaga dan merawatnya dengan baik, tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin kamu juga bahagia, seperti halnya aku saat ini.


Terima kasih, Juan.


Juan memandang sebuah foto kecil yang merupakan hasil USG terakhir yang dilakukan oleh Aurora sebelum ia meninggalkan rumah sakit. Tiba-tiba saja bulir air mengalir di ujung matanya.


“Kenapa kamu begitu bodoh, Aurora?” teriak Juan pelan. Ia terus memegang foto tersebut dan menengadahkan tatapannya ke langit-langit.


🌹🌹🌹


Udah 2 bab ya kak 😁, Pansy boleh minta like nya biar besok bisa up lagi ❤️