Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#22



Alessandro mengerjapkan matanya, kepalanya terasa amat sakit. Ia menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil mencari kesadarannya. Ia melihat ke sekeliling, ia tahu dan yakin bahwa itu adalah sebuah kamar hotel. Ia melihat tubuhnya polos di dalam selimut, kemudian ia menoleh ke samping. Ia melihat tubuh seorang wanita yang sepertinya juga polos.


Alessandro belum melihat siapa wanita itu karena posisi tidurnya yang tertelungkup dan hanya menampilkan punggungnya yang polos. Ia langsung bangkit kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat ia keluar dari kamar mandi, betapa kagetnya Alessandro ketika melihat siapa yang ada di atas tenpat tidur.


“Hi, Al!” sapa wanita itu.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Alessandro.


“Yang kulakukan di sini? Semalam kamu yang mengajakku ke sini. Kamu berkata bahwa kamu ingin bersenang-senang denganku. Apa kamu melupakan apa yang telah kita lakukan semalam?” Alessandro memegang kepalanya, ia benar-benar tak mengingat apa yang terjadi semalam. Ia hanya ingat bahwa ia pergi ke club dan duduk di sana untuk minum-minum.


“Kamu tahu, Al. Semalam kamu benar-benar hot, Al. Aku sangat menyukai saat kamu melakukannya. Apa aku yang pertama untukmu?”


“Jangan sembarangan bicara,” Alessandro mulai merasa kesal, pasalnya ia benar-benar tak mengingat kejadian semalam.


“Apa kamu ingin aku menceritakan apa yang terjadi semalam? Ahhh … kamu akan membuat hasrat dan gairahku kembali jika memintaku melakukan itu,” tanpa rasa malu wanita itu menurunkan selimut dari tubuhnya hingga menampakkan tubuh bagian atasnya yang polos.


Alessandro melihat dengan tatapan biasa, bahkan tak ada rasa sama sekali. Berbeda sekali saat ia melihat Bianca. Ia masih bisa mengingat bagaimana senjatanya ini selalu ingin bersiap setiap kali berdekatan dengan Bianca.


“Kamu mau kemana?”


“Pulang!”


“Apa kamu tidak ingin mengulang malam panas kita?”


“Hentikan, Aurora! Aku tidak ingin ada yang tahu tentang hal ini. Jika sampai tersebar, kamu akan tahu apa yang akan terjadi pada karirmu,” Alessandro pun langsung keluar meninggalkan Aurora yang berdiri dengan tubuh polosnya, tanpa rasa malu.


Flashback on


“Ayo Al,” Aurora berusaha membawa Alessandro keluar dari club tempat ia melihat Alessandro mabuk.


Dengan memanfaatkan kesempatan ini, Aurora membawa Alessandro ke sebuah hotel tak jauh dari club. Ia ingin sekali menuntaskan hasratnya yang selalu menggebu setiap hari. Ya, Aurora selalu pergi ke club setiap malam hanya untuk mencari laku-laki yang bisa ia ajak tidur bersama.


Kebetulan sekali malam ini ia menemukan Alessandro di club yang ia sambangi. Aurora selalu berkeliling club yang ada di Kota itu, ia tak berpatokan hanya 1 club saja.


Brugghh


Aurora merebahkan Alesaandro di atas tempat tidur, “Tubuh kamu berat sekali, Al.”


Aurora membuka semua pakaian Alessandro. Ia tak malu melakukannya karena hampir tiap hari ia melakukannya dengan banyak pria. Namun, pria yang paling ingin ia cicipi adalah Alessandro Romano, mantan kekasih 3 bulannya.


Melihat tubuh Alessandro, membuat gairah Aurora seketika meningkat. Ia segera membuka pakaiannya sendiri dan naik ke atas Alessandro. Ia mulai mencium wajah dan ******* bibir Alessandro dengan buas. Ia juga turun ke bawah dan memberikan beberapa kissmark pada tubuh Alessandro.


Namun, Alessandro yang ia harapkan bisa memberikan kenikmatan dan kepuasan baginya malam ini, sama sekali tak bergerak. Pria ini benar-benar mabuk dan lebih memilih tak sadarkan diri.


Aurora akhirnya bermain dengan intinya sendiri, sambil sesekali memberikan ciuman dan menyentuh alat tempur milik Alessandro.


“Sialannn. Ia benar-benar tak bergerak,” Aurora tiba-tiba merasakan pergerakan dari Alessandro ketika ia kembali menyentuh tubuh bagian atas Alessandro.


Flashback off


Alessandro kembali ke kediaman Romano. Ia bahkan menggunakan taksi online untuk sampai di rumah karena mobilnya masih berada di club.


“Aku tidak mungkin melakukannya dengan wanita itu. Melihatnya tanpa busana saja tak membuatku bergairah,” Alessandro membuang kasar jas miliknya. Ia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya lagi.


Di dalam kamar mandi, tiba-tiba saja ia terbayang wajah Bianca. Wajah Bianca yang manis dan polos, lalu berubah menjadi tangisan saat ia menyetubuhinya dengan kasar. Alessandro memukul dinding kamar mandi, saat ia masih berada di bawah pancuran shower.


Alessandro langsung menghubungi Javer sesaat setelah keluar dari kamar mandi, “Jav, cari tahu apa yang sedang dilakukan oleh keluarga Costa!”


**


“Kamu baik-baik saja, Bi?” tanya Melanie.


“Aku baik-baik saja, memangnya kenapa?” tanya Bianca.


“Kamu tidak masuk beberapa hari dan aku dengar kamu masuk rumah sakit. Kamu sakit apa, Bi?” wajah Melanie mulai terlihat khawatir.


“Aku tidak apa-apa. Kemarin itu biasa, tamu bulananku tiba-tiba saja sangat mengganggu, hingga perutku kram luar biasa,” Bianca terpaksa berbohong pada Melanie. Tak mungkin ia mengatakan bahwa kini ia bukanlah seorang gadis lagi.


“Ini semua catatan yang kamu perlukan, Bi. Aku telah mengcopynya untukmu,” Melanie menyerahkan setumpuk kertas untuk Bianca.


“Ya ampun Mel, kamu baik sekali. Baru aku mau meminjam milikmu, tapi kamu sudah memberikan semuanya padaku.”


“Tentu saja, aku kan sahabatmu dalam suka dan suka,” katanya polos.


“Hanya suka?”


“Ya, kamu akan menjadi sahabatku saat suka dan di dalam duka, kamu akan menjadi saudaraku. Jadi … ceritalah padaku jika kamu memiliki masalah, ok?!”


“Terima kasih, Mel,” Bianca memeluk Melanie dengan erat.


“Bi, stop! Aku tidak bisa bernafas, pelukanmu erat sekali. Tolong sisakan untuk kekasihku nanti,” mereka berdua akhirnya tertawa bersama.


Sementara di Perusahaan Romano,


“Ini semua informasi yang kamu inginkan, Al,” Javer memberikan sebuah amplop berwarna cokelat. Setelah itu ia langsung keluar dari ruangan Alessandro. Ia tidak mengerti mengapa Alessandro sepertinya masih belum puas dengan balas dendam yang tak beralasan itu.


Alessandro membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Terlihat beberapa foto Raymond yang sedang bersama dengan asisten pribadinya, Gio. Gio turut pergi dari Perusahaan Costa mengikuti atasannya itu. Ia tak ingin mengabdi pada orang lain selain Raymond Costa.


Alessandro mengesampingkan foto itu. Ia mencari foto Bianca. Ia melihat Bianca yang berada di kampus. Meskipun wajahnya sedikit pucat, tapi ia tetap terlihat sangat cantik. Di dalam foto terlihat Bianca sedang bersama sahabatnya, Melanie.


“Aku sepertinya pernah melihat gadis ini,” gumam Alessandro. Ia terus melihat beberapa foto Bianca dan ketika melihat Bianca sedang berbicara dengan seorang pria, Al langsung meremas kertas itu hingga kecil dan membuangnya ke tempat sampah.


“Berani sekali ia berbicara dengan pria lain. Apa dia tidak mengingatku sama sekali? Apa aku perlu mengingatkan diriku padanya?” gumam Alessandro dengan wajah yang dingin.


🌹🌹🌹