
Di dalam sebuah unit apartemen, seorang wanita sedang duduk seorang diri. Ia jarang keluar dari apartemennya dan hanya keluar seperlunya. Ia lebih banyak berada di dalam kamar tidurnya.
Sutradara dan produser sudah mulai bertanya kapan ia bisa segera melanjutkan pembuatan film karena semuanya tertunda karena alasan sakit yang dibuatnya.
Tringgg … ceklek …
Pintu apartemen terbuka, Aurora memandang ke arah pintu kamarnya. Sejak kejadian ia memukul kepala Bianca dengan batu, ia menjadi sedikit takut, takut kalau yang datang adalah pihak kepolisian yang akan menangkap dan membawanya. Ia akan dipenjara.
Tidak! Tidak! Aku tidak mau! Ini bukan salahku. Ini sekua adalah kesalahan gadis kecil sialann itu. Berani-beraninya dia merebut Alessandro dariku. Dulu juga Raymond yang membuatku kehilangan Alessandro. Ayah dan anak yang sama-sama membuat diriku siall. Kurang ajar!!! - Aurora memukul lantai kayu kamar tidurnya.
Ceklekkk …
Pintu kamarnya terbuka, di sana nampak sosok wanita yang tak lain adalah manajer sekaligus asisten pribadinya.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini? Sutradara dan Produser sudah menghubungiku lagi. Mereka akan mengganti dirimu dengan aktris lain jika kamu tidak muncul besok,” kata Riana.
Aurora segera bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia tak mungkin menceritakan apa yang telah ia lakukan, meskipun itu pada Riana, orang terdekatnya.
**
Aurora berjalan bersama Riana masuk ke dalam 1 ruangan yang biasa digunakan oleh sutradara dan para pemain untuk gladi resik.
Semua pemain menoleh ke arah Aurora. Beberapa tatapan tidak suka mereka tunjukkan pada aktris yang membuat pekerjaan mereka terlambat.
“Apa kamu sudah sehat?” tanya sang sutradara.
“Sudah, hanya tinggal sedikit pusing saja,” Aurora sedikit berdalih untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.
Beberapa pekerja ada yang berdecak kesal. Mereka merasa Aurora terlalu menganggap dirinya aktris kelas atas hingga merasa harus diistimewakan.
Juan, lawan mainnya, berjalan mendekati Aurora, “Kamu sakit apa? Aku sangat merindukanmu,” bisik Juan.
“Ntahlah, mungkin hanya kelelahan saja,” jawab Aurora.
“Apa nanti malam aku bisa bertemu denganmu? Aku ingin bersenang-senang denganmu.”
Aurora berdiri, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Juan, “Aku menunggumu.”
Senyum langsung terukir di wajah Juan. Ia memang sudah sangat merindukan tubuh Aurora, juga servis yang diberikan oleh wanita itu. Juan merasa Aurora sangat ahli dalam memuaskan pria, dan ia menyukainya.
Suara panggilan sutradara membuyarkan percakapan mereka. Para staf sebagian menggerutu karena sikap Aurora yang mereka nilai tidak profesional. Dalam 1 adegan, sudah beberapa kali mereka melakukan take dan itu sangat membuang-buang waktu.
“Apa kamu bisa lebih serius?” tanya sutradara pada Aurora.
“Maaf, mungkin ini karena kepalaku masih pusing. Jadi aku tidak bisa fokus,” ujarnya kembali mengelak.
“Pulang dan beristirahatlah. Besok kita lakukan adegan ulang. Jika kamu masih seperti ini, maka sepertinya aku akan menggantimu dengan aktris yang lain.”
Aurora menghela nafasnya kasar. Ia benar-benar tak mau jika diberhentikan. Itu pasti akan menurunkan harga dirinya. Nilai jualnya akan berkurang, apalagi ia belum mendapatkan Alessandro. Jika saja ia berhasil menjadikan Alessandro suaminya, maka ia bisa menggunakan kekayaan keluarga Romano untuk kepuasan dirinya.
“Aku akan mengantarmu pulang,” ujar Juan. Aurora mengangguk dan meminta Riana untuk pulang sendiri. Ia beralasan perlu mempelajari beberapa hal tentang film bersama Juan.
Juan menarik tali gaun yang dikenakan Aurora dan menurunkan gaun wanita itu, hingga nampak kedua aset kembar milik wanita itu yang sudah menantang di depan matanya. Ia kembali melumatt bibir Aurora sambil meremas buah yang menggantung dan terlihat begitu matang. Suara dessahan terdengar memenuhi mobil yang kini masih berada di dalam parkiran basement tempat mereka baru saja melakukan syuting.
Setelah puas bermain dengan kedua aset kembar milik Aurora, ia mendudukkan Aurora di hadapannya setelah memundurkan kursinya. Juan mengangkat gaun Aurora dan membuka resleting celananya. Kini mereka melakukannya di dalam mobil. Gairah dan hasrat yang begitu besar telah membuat mereka buta, hingga tak sadar jika mobil yang mereka gunakan untuk memadu kasih tidak 100% bisa menutupi apapun yang mereka lakukan, meski menggunakan kaca film yang berwarna gelap.
Mata Alessandro memicing dengan rahang mengeras saat melihat mobil yang parkir persis di hadapannya mulai bergoyang. Javer, sang asisten juga menelan salivanya saat melihat hal itu. Ia tahu persis apa yang terjadi di dalam sana.
Alessandro masuk ke dalam mobil setelah tadi ia bertemu dengan produser dan beberapa manager di area syuting. Ia ingin melihat bagaimana jalannya syuting film yang bisa dikatakan memakan budget besar. Namun, tak disangka ia harus menyaksikan adegan mobil bergoyang.
“Apa kita akan terus menyaksikannya?” tanya Alessandro pada Javer yang terdiam sedari tadi. Lalu dengan cepat Javer menyalakan mesin mobil, membuat Juan dan Aurora yang sedang memadu kasih terperanjat kaget dan langsung duduk ke posisi mereka.
“Al?” gumam Aurora saat ia mengenali mobil yang pergi meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba perasaan Aurora jadi tak menentu. Pikirannya bertanya-tanya, apa Alessandro melihatnya? Untuk sesaat gairahnya hilang, namun Juan yang tidak terlalu mempedulukan mobil siapa yang pergi, kembali mengelus paha mulus Aurora.
Tanpa meresleting celananya, ia menjalankan mobil, sambil meminta Aurora untuk memuaskan adiknya yang kini tengah berdiri tegak menantang.
**
Melanie berlari di koridor kampus, nafasnya terengah-engah.
“Kamu kenapa, Mel?” tanya Bianca yang terlihat bingung.
“Katakan padaku kalau itu semua tidak benar!”
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” kata Bianca.
Melanie duduk di sebelah Bianca dan menggenggam kedua tangan sahabatnya itu, “Apa benar kamu akan pindah kuliah, Bi?”
Bianca tersenyum, membuat hati Melanie seakan diaduk-aduk. Ia tak suka kenyataan ini.
“Katakan padaku! Apa benar semua itu?” tanya Melanie sekali lagi.
“Tidak! Siapa yang mengatakan itu padamu? Aku hanya minta izin untuk pergi berlibur menemani Daddy,” Bianca terpaksa berbohong pada Melanie.
Flashback on
2 bulan terlewati sejak ia keluar dari Rumah Sakit dan dinyatakan kehilangan sebagian memori. Ia tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa, baik itu kuliah maupun pergi ke tempat latihan.
Namun, pagi ini terasa berbeda. Kepalanya terasa pusing dan perutnya terasa mual hebat. Ia berjalan perlahan ke arah wastafel kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya.
Tak ingin sakit berlarut-larut dan membuat Dad Raymond menyadari ia sedang kurang sehat, Bianca berinisiatif untuk pergi ke dokter seorang diri.
Deghhh …
Perasaannya langsung seperti hancur ketika ia dinyatakan sedang hamil 7 minggu. Ia memang tidak menyadari bahwa bulan lalu tidak mendapatkan periode bulanannya, karena ia masih sibuk dengan kuliahnya yang tertinggal.
Mengapa ia harus mengandung anak dari pria yang menyakiti hatinya dan juga keluarganya?
🌹🌹🌹