
Televisi, media sosial, dan berbagai grup chat kini didominasi oleh pemberitaan mengenai aktris Aurora Frederica. Dalam siaran langsung beberapa stasiun televisi diperlihatkan bagaimana Aurora sedang berteriak pada Javer, yang dikenal sebagai asisten pribadi Alessandro Romano, bahwa dirinya tengah hamil.
Produser, manager produksi, sutradara, hingga manager pribadi Aurora terlihat kaget saat mendengar kabar itu. Produser segera menghubungi Riana yang adalah manager Aurora. Mereka harus membicarakan masalah ini karena berkaitan dengan kontrak yang telah ditandatangani oleh Aurora.
Alessandro yang tengah sibuk di dalam ruangannya pun dikejutkan ileh bunyi dering ponselnya sendiri. Ia melihat nama Mommynya tertera di sana
“Halo, Mom!”
“Apa yang terjadi Al? Apa benar kamu menghamilinya?”
“Apa maksudmu, Mom. Aku tidak mengerti.”
“Jangan berkelit Al. Kamu tahu aktris Aurora Frederica? Dia mengaku kamu telah menghamilinya dan tidak mau bertanggung jawab. Apa benar begitu?”
Alessandro mengusap wajahnya kasar. Ternyata Aurora menggunakan cara licik yang lain untuk menjeratnya.
“Aku akan menghubungimu lagi nanti, Mom. Aku akan menyelesaikannya.”
Alessandro mematikan sambungan pinsel dengan Mommynya dan menghubungi Javer. Javer tang tengah berada di atap gedung pun mengangkat panggilan dari Alessandro.
“Iya Tuan.”
“Apa yang kamu lakukan di sana? Biarkan saja dia mati! Wanita seperti dia ingin menjebakku.”
“T-tapi Tuan, ia akan bunuh diri dan sudah banyak stasiun TV yang memberitakannya.”
“Nyalakan speaker di ponselmu. Aku akan berbucara dengannya. Biar semua orang mendengar apa yang kukatakan.”
“Baik, Tuan.”
Javer menekan tombol loudspeaker di ponselnya dan memperdengarkannya ke arah Aurora.
“Nona Aurora Frederica. Selamat siang. Apa anda hanya bisa menggunakan cara seperti ini untuk menjerat saya? Seperti yang saya katakan bahwa saya tidak akan mengakui anak yang saya yakini memang bukan anak saya.”
“Tapi kita pernah melakukannya, Al. Apa kamu tidak ingat saat kamu mabuk? Apa aku perlu menceritakannya pada orang-orang … atau aku perlu memberikan bukti pada mereka?”
“Apa maksudmu dengan bukti?”
“Kamu tertarik dengan bukti yang kumiliki, Tuan Alessandro Romano?” Aurora tertawa sinis dan melihat ke arah kamera yang menyorotnya.
“Datanglah ke ruanganku, kita bicara,” terdengar suara Alessandro yang sedikit gusar dengan perkataan Freya mengenai bukti. Stasiun TV, wartawan juga penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Aurora.
Aurora akhirnya membatalkan rencana bunuh dirinya, yang memang ia lakukan hanya sebatas akting saja agar semua orang bersimpati dan membelanya. Ia pun memutar tubuhnya dan langsung kembali berjalan ke arah Javer yang masih memegang ponselnya. Sementara itu para reporter mulai mendekati Aurora dan ingin mewawancarainya.
“Kita akan berbicara lagi nanti. Aku mohon saat ini aku benar-benar membutuhkan ruang bersama Ayah dari anakku. Aku harap kalian mengerti dan selalu mendukungku. Terima kasih,” ungkapan Aurora tentu saja direkam dan disiarkan secara langsung. Ia kembali mendapat simpati masyarakat dan membuat Alessandro menuai hujatan.
Dan di sinilah sekarang Aurora berada, duduk di sebuah sofa panjang di dalam ruangan Alessandro. Ia menatap Alessandro sambil tersenyum smirk. Ia tahu bahwa ia telah membuat Alessandro berpikir ulang tentang masalah ini, membuatnya merasa menang.
“Kalau kamu tidak mau bicara, maka aku akan pergi. Masih banyak wartawan di luar sana yang menunggu klarifikasi dariku,” Aurora mulai memainkan aktingnya kembali.
Alessandro mengepalkan tangannya, merasa jengah dengan tingkah Aurora, “Katakan padaku, bukti apa yang kamu miliki?”
Alessandro melihat foto tersebut dan mulai mengeraskan rahangnya, “bagaimana? Kita benar-benar melakukannya kan? Atau kamu menginginkan foto yang lainnya?”
Alessandro bangkit dari duduknya, kemudian mengambil ponsel yang berada di tangan Aurora dan membantingnya ke lantai dengan keras hingga hancur.
“Ou ou ou, Al. Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu ingin membelikanku ponsel yang baru?” Aurora bersuara genit dan manja, tanpa merasa takut sedikitpun.
“Kamu jangan khawatir, aku sudah menyimpan semua foto-foto itu dengan baik. Kamu mau berapa banyak? Akan aku berikan lagi … jadi, mau kamu menghancurkan ponselku pun, aku masih menyimpannya dengan rapi. Aku pintar kan calon suami dan ayah anakku,” Aurora menangkup pipi Alessandro dengan sebelah tangannya.
Alessandro langsung menarik tangan Aurora dan mencengkeram pergelangannya, membuat Aurora berteriak, “Ahhh sakit Al!”
Alessandro mendorongnya ke dinding dan mencengkeram leher Aurora, “Sepertinya kamu mulai bermain-main denganku. Aku tahu siapa dirimu, wanita jalangg!!”
“Wanita jalangg? Tapi kamu tidur dengan wanita ini dan menikmatinya. Bagaimana bisa kamu menyakiti perasaan ibu dari anakmu?”
“Sialannn!!! Keluar kamu!! Sepertinya berbicara denganmu tak ada gunanya. Aku akan melakukan test DNA dan jika itu memang anakku, baru aku akan mengakuinya,” Alessandro memutar tubuhnya membelakangi Aurora.
Sialannn!!! Aku lupa jika bisa memeriksanya dengan test DNA. Tapi tenang ra, kamu akan membuatnya jatuh cinta padamu dan anak yang ada dalam kandunganmu seperti dulu. - batin Aurora.
“Terserah jika kamu melakukan itu. Tapi kupastikan anak ini adalah anakmu,” kata Aurora ketus.
Apa wanita ini sama sekali tidak takut jika aku melakukan test DNA? Apa memang benar bahwa anak yang ada dalam kandungannya adalah milikku? Sialannn!! - batin Alessandro.
“Kalau begitu sekarang keluar! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi.”
“Kurasa kamu akan merindukanku dan anak kita, sayang. Aku akan segera keluar, tenang saja. Para wartawan sedang menunggu kedatanganku,” Aurora tersenyum smirk.
“Awas kamu kalau berani mengatakan hal-hal kebohongan.”
“Tentu saja tidak. Apa yang aku katakan adalah kebenaran, dan seharusnya kamu juga berbicara yang sebenarnya pada mereka … dan mungkin aku bisa menunjukkan bukti pada mereka,” Aurora pun berjalan meninggalkan Alessandro.
“Awas kamu macam-macam!”
Aurora kembali berjalan ke arah Alessandro, ia berbisik, “Aku yakin kamu masih mencintaiku, sayang. Buktinya sampai saat ini kamu belum menikah.”
Cuppp …
Dengan cepat Aurora mencuri ciuman di pipi Alessandro, kemudian langsung berlari meninggalkan pria itu. Alessandro merogoh saputangan yang berada di dalam saku celananya, kemudian mengelap pipinya, kemudian membuang saputangan itu ke dalam tempat sampah.
**
Juan yang sedang memainkan ponselnya tercengang saat melihat pemberitaan media terhadap Aurora. Ia langsung menyalakan televisi dan menyaksikan secara langsung bagaimana Aurora berada di atap gedung dan berniat bunuh diri.
Hamil?
Pikiran Juan melayang ke malam-malam saat mereka berdua memadu kasih, “Apakah itu anakku?”
Juan kembali memegang ponselnya dan mencari kontak Aurora. Ia berusaha menghubungi wanita itu, namun sama sekali tidak tersambung.
“Kamu meminta pertanggung jawaban dari Alessandro Romano? Apa maksud semua ini, Aurora?” gumam Juan yang masih menyaksikan bagaimana Aurora di wawancarai media di televisi.