Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#36



Pagi ini, ketika Bianca membuka gorden di pintu geser ruang duduk yang langsung mengarah ke pantai, ia kembali melihat Alessandro yang tertidur di sofa teras belakangnya.


Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Aku merindukanmu, tapi aku juga membencimu. Semuanya harus kutahan dengan kepura-puraan yang kulakukan saat ini. Ingin rasanya aku berteriak, memukul, dan menendangmu agar kamu tidak kembali kemari. Namun aku juga ingin menarikmu dan mengeratkan dirimu dalam pelukanku. - batin Bianca.


“Uncle!” sapaan Bianca membuat Alessandro mengerjapkan matanya dan mengusap wajahnya sambil berusaha duduk.


“Apa yang sedang Uncle lakukan di sini? Apa Uncle berjalan-jalan lagi di pantai semalaman?” tanya Bianca.


Alessandro tersenyum, “aku kemari untuk menikmati setangkup roti panggang dan secangkir kopi hangat. Maukah kamu membuatkannya untukku?”


Ya ampun, kenapa wajahnya harus memelas dan seperti anak kecil? Alessandro yang kutahu dan kukenal adalah yang berwajah dingin dan garang. - batin Bianca.


“Baiklah Uncle, tunggu sebentar,” sambil tangannya bekerja, Bianca berpikir apa yang harus ia lakukan. Tak mungkin ia membiarkan Alessandro terus datang. Bagaimana dia bisa melupakan pria itu jika ia harus melihatnya setiap hari.


Bianca akhirnya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Dad Raymond, “Hi Dad!”


📞 Ada apa sayang? Apa ada yang mengganggumu? Tumben pagi-pagi sudah menghubungi Daddy.


📞 Aku merindukanmu, Dad. Kapan Dad akan kembali?


📞 Besok Dad akan kembali dan langsung menemuimu. Apa kamu tidak ingin kembali ke Mansion Costa, sayang? Dad akan senang bisa bersamamu setiap hari.


Bianca mulai berpikir. Mungkin akan lebih baik jika ia kembali ke Mansion, jadi ia bisa menghindari Alessandro.


📞 Aku akan kembali bersamamu nanti, Dad.


📞 Benarkah? Dad sangat senang sekali, sayang.


📞 Kalau begitu aku menunggumu. Love you Dad.


Bianca memutus sambungan telepon, kemudian meletakkan sepiring roti panggang dan secangkir kopi hangat di atas nampan. Dengan perlahan ia berjalan menghampiri Alessandro.


“Ini Uncle, sesuai permintaanmu.”


“Terima kasih,” mata Raymond menelisik ke dalam resort. Semalam ia sudah memeriksa bahwa tidak ada mobil milik Raymond yang terparkir, karena itulah ia berani untuk tidur kembali di teras belakang, hanya untuk menjaga Bianca.


“Apa Raymond belum datang?” tanya Alessandro.


“Ooo Dad ada keperluan mendadak sehingga harus menunda kepulangannya. Tapi aku sudah memberitahu Dad Raymond kalau Uncle datang dan ingin menemuinya.”


Byurrr ….


“Uncle tidak apa-apa?” Bianca langsung mengambil tissue dan membantu Alessandro membersihkan tumpahan kopi.


Tiba-tiba saja Alessandro menggenggam pergelangan tangan Bianca, “Uncle?”


“Apa kamu benar-benar tidak mengingatku sama sekali?” tanya Alessandro.


“Uncle adalah rekan kerja Dad Raymond. Bukankah kita pernah bertemu di rumah sakit?” Harapan Alessandro terasa pupus ketika Bianca benar-benar tidak mengingatnya, bahkan tidak ada secuil ingatanmu tentang kebersamaan mereka sebelum tragedi itu terjadi.


Alessandro bangkit dari duduknya, masih dengan memegang pergelangan tangan Bianca. Ia menarik pinggang Bianca, kemudian mengalungkan kedua tangan Bianca ke lehernya.


“Uncle,” Bianca berusaha melepaskan diri dari Alessandro. Dengan cepat Alessandro melumatt bibir Bianca dan menyesapnya dalam. Ia sangat merindukan bibir pink yang lembut dan manis milik Bianca.


Alessandro menahan tengkuk Bianca dan memperdalam ciumannya. Ia juga sedikit menggigit bibir Bianca agar wanitanya itu membuka bibirnya sehingga ia bisa mengabsen setiap rongganya. Tanpa sadar, Bianca mulai membalas ciuman Alessandro. Hal itu membangkitkan sesuatu dalam diri Alessandro. Bianca yang tiba-tiba merasa ada sesuatu yang menyembul dan mengenai tubuhnya, langsung melepaskan ciuman itu dan bergerak mundur. Ia langsung berlari menuju kamar tidurnya.


Sementara itu Alessandro hanya bisa melepas Bianca dan melihat kepergiannya.


Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu kembali menjadi milikku, Bianca Costa. Sepertinya aku telah jatuh cinta pada putri sahabatku sendiri. - batin Alessandro.


Di dalam kamar, Bianca memegang dadanya dan berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak sangat cepat dan kencang.


Aku tidak boleh goyah. Aku tidak boleh mencintainya. Lupakan Bi, lupakan! Apa kamu akan kembali menyakiti Dad Raymond? - Bianca terus berperang dengan pikirannya sendiri.


Ia melewatkan sarapannya, bahkan makan siangnya. Bianca baru terbangun jam 3 sore. Ia terbangun karena mendengar suara ponselnya.


📞 Dad.


📞 sayang, Dad akan berangkat ke Acquafredda sore ini. Tunggulah Daddy. Besok kita akan kembali bersama ke mansion.


📞 Baik Dad, aku mengerti.


Bianca yang kelaparan pun akhirnya turun dan menuju dapur. Ia membuat masakan yang mudah dan segelas jus, yang penting perutnya terisi karena ia tak makan untuk dirinya sendiri. Ia memandang ke arah teras belakang dan kembali mengingat kejadian tadi pagi. Ia langsung menggelengkan kepalanya, kemudian berlalu menuju kamar tidur.


Ia merapikan beberapa pakaiannya ke dalam koper. Laptop, buku, dan beberapa desainnya ia simpan ke dalam sebuah tas kecil. Setelahnya, Bianca berjalan ke arah teras belakang, kemudian duduk di sofa sambil memandang ke arah pantai.


Ketika mengarahkan pandangannya ke sepanjang pantai, mata Bianca bersirobok dengan mata Alessandro yang kini tengah menatapnya. Alessandro sedang berdiri di tepi pantai sambil terus menatap ke arah Bianca yang tengah duduk dan menatapnya.


“Apa ciuman itu mengingatkanmu padaku?” gumam Alessandro.


🌹🌹🌹