
Ketika Bianca sedang berpikir, ia pasti akan pergi ke taman bunga di pekarangan belakang rumahnya. Di sana, ia selalu berbincang dengan bunga-bunga, seperti ia berbicara dengan Mom Dea.
“Mom, aku datang. Aku tahu Mom pasti sedang memandangku dan Dad dari atas sana. Kamu selalu memperhatikan kami, melihat apakah kami bahagia atau tidak.
Mom, saat ini hatiku sedang bimbang. Aku tak tahu jalan apa yang harus kupilih. Dad mengatakan kalau ia sudah memaafkan Alessandro, tapi … ntahlah Mom, aku merasa takut padanya, meskipun di dalam hatiku aku juga merindukannya.
Apa aku terlalu naif? Kadang aku ingin menertawakan diriku sendiri yang bisa merindukan seseorang yang telah menyakitiku, menyakiti Dad. Dengan mudahnya ia meminta maaf dan ingin masuk kembali ke dalam kehidupan kami. Mom, apa yang harus kulakukan?”
Bianca berjalan menyusuri taman bunga itu. Di bagian tengah, ada sebuah ayunan yang biasa ia gunakan jika menemani Mom Dea merawat bunga-bunganya. Ayunan itu terlihat sangat kecil, jika dibandingkan dengan dirinya saat ini. Bianca mendudukan dirinya di sana, dan menggoyangkan ayunan itu sedikit dan pelan.
Ia memegang perutnya, kemudian mengelusnya perlahan, “sayang, menurutmu apa kita harus memaafkan Daddy?”
Bianca menerawang ke arah depan, membiarkan rambutnya yang panjang tergerai tertiup hembusan angin. Setelah berlama-lama di sana, Bianca kembalu berjalan masuk ke dalam rumah. Ia pergi ke garasi mobil yang kini sudah berubah menjadi kantor sementara Perusahaan Costa yang baru.
“Kak Gio,” sapa Bianca saat melihat Gio sedang merapikan beberapa dokumen.
“Hi, Bi. Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”
“Apa Dad ada di ruangannya?”
“Ada, tapi sebentar lagi kami akan pergi menemui klien dan juga calon investor,” jawab Gio.
“Kak, apa ada sesuatu yang bisa kukerjakan? Aku bisan terus berada di dalam kamar tanpa melakukan apa-apa untuk Dad,” ujar Bianca.
“Hmmm, karena kamu adalah sekretaris Tuan Raymond,” kata Gio sambil tersenyum, “kamu. Isa mengerjakan ini. Susunlah jadwal kerja Tuan Raymond selama 1 bulan ke depan.”
“1 bulan? Apa jadwal Dad sudah sampai bulan depan?”
“Hmm, kamu juga tidak mengira akan secepat ini. Tapi tanpa kita sadari, Tuan Raymond memiliki nama yang baik di dunia bisnis, sehingga para pengusaha lain akan cepat percaya padanya,” kata Gio.
“Baiklah, berikan padaku. Aku akan merapikannya,” Bianca langsung mendudukkan diri di sebuah kursi dengan sebuah komputer di hadapannya. Ia menyalakannya dan langsung mulai membuka lembar demi lembar dan mengetikkan sesuatu pada komputer itu.
Tak lama, Raymond ke luar dari ruangannya, “Bi, kamu di sini, sayang?”
“Hi, Dad. Aku bosan di kamar, jadi aku mencari sesuatu yang bisa kukerjakan di sini,” kata Bianca.
“Dad akan pergi sebentar lagi. Apa kamu mau ikut?” tanya Raymond.
“Tidak, Dad. Aku di sini saja. Aku malas pergi ke luar.”
Semua orang pasti akan melihat ke arahku dan melihat perutku yang perlahan akan semakin terlihat. Mereka akan memandang aneh dan bertanya-tanya. Rumor kemudian akan berkembang dan itu akan kembali mengganggu perkembangan Perusahaan Costa. - batin Bianca.
“Baiklah kalau begitu. Jangan lupa makan siang,” Raymond mengelus kepala Bianca kemudian mengecupnya sebelum ia pergi bersama Gio.
**
Bianca benar-benar tenggelam dalam pekerjaannya. Ia bekerja hingga lewat jam makan siang. Kepala pelayan sudah mengingatkannya, namun Bianca selalu mengatakan sebentar lagi. Setelah menyelesaikan semuanya, Bianca mematikan komputernya dan berjalan menuju ruang makan.
Baru saja ia melewati ruang tengah, ia melihat sosok pria yang tengah duduk di sana sambil memainkan ponselnya.
Apa yang sedang ia lakukan di sini? - batin Bianca.
Mendengar suara langkah kaki, pria itu pun menoleh dan memberikan senyumannya, “Hi Bi!”
Hati Bianca kini menjadi galau. Ia berpura hilang ingatan agar Alessandro tak mendekatinya lagi, tapi sepertinya ia salah. Jika ia kini kembali seperti semula dan berkata bahwa mengingat semuanya, apakah pria itu akan segera pergi?
Untuk sementara, ia harus tetap berakting sampai ia tahu apa maksud Alessandro datang ke kediaman Costa, “Uncle?”
“Halo Bi. Apa kabarmu?”
“Aku baik, Uncle,” Bianca lupa kalau saat ini ia menggunakan dress selutut yang memperlihatkan bagian perutnya yang sudah sedikit membesar.
Apakah dia hamil? Aku yakin, itu pasti anakku. Apa dia menyembunyikannya dariku? - batin Alessandro.
“Apa Uncle sudah makan siang?” tanya Bianca.
“Sudah. Apa kamu belum?” Bianca menggelengkan kepalanya, “Ayo, Uncle akan menemanimu.”
Alessandro menemani Bianca makan siang, seperti dirinyalah yang menjadi tuan di kediaman Costa. bianca sebenarnya salah tingkah, namun ia berusaha menutupinya.
“Apa Uncle ingin bertemu dengan Dad Raymond?”
“Tidak. Aku ke sini untuk menemuimu,” jawaban Alessandro sontak membuat Bianca menghentikan suapannya.
“Maksud Uncle?”
“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan dan aku berharap kamu menjawabnya dengan jujur.”
Jantung Bianca tiba-tiba berdetak dengan cepat. Ia mulai berpikir apa yang akan ditanyakan oleh Alessandro dan apa jawaban yang akan ia keluarkan. Ia berpura-pura melanjutkan makannya dan mulai menyendokkan kembali makanannya ke dalam mulut.
“Apa kamu sedang hamil?”
Uhukkk uhukkk uhukkk …
Alessandro langsung mengambilkan gelas yang berisi air dan memberikannya pada Bianca. Ia juga mengusap punggung Bianca. Namun, sentuhan Alessandro langsung ditepis oleh Bianca.
“Jangan menyentuhku lagi!” Kata Bianca tiba-tiba dengan mata yang menatap tajam ke arah Alessandro.
Rasa takut tiba-tiba menyelimuti Bianca. Ia takut jika Alessandro mengetahui tentang kehamilannya, maka pria itu akan mengambil anaknya.
“Bi …”
“Keluar! Pergi! Aku tak ingin melihatmu lagi!”
“Bi, tenanglah. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku ke sini hanya untuk bertemu denganmu dan minta maaf,” kata Alessandro.
“Aku sudah memaafkanmu, sekarang pergilah. Tinggalkan aku sendiri.”
“A-apa kamu mengingat semuanya?” tanya Alessandro sambil terus menatap ke arah Bianca.
Bianca memalingkan wajahnya dari Alessandro. Ia takut hatinya akan luluh dan dengan mudahnya membiarkan Alessandro berada di dekatnya. Kalau saja Alessandro tidak pernah menyakitinya, mungkin dia sendiri yang akan menarik pria itu untuk selalu berada di dekatnya.
“Bi, katakan padaku. Apa yang sedang kamu kandung adalah anakku?” Alessandro sangat berharap bahwa yang dikandung oleh Bianca adalah anaknya. Ia akan sangat bahagia jika itu adalah benar.
“Tidak! Ini bukan anakmu. Ini adalah anakku, hanya anakku. Sebaiknya kamu segera keluar dari sini sebelum aku menghubungi Dad Raymond,” kata Bianca.
“Kamu boleh menghubungi Raymond, karena aku sudah meminta izin padanya.”
🌹🌹🌹