Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#44



Bianca seakan tak percaya dengan yang namanya kebetulan. Namun, mendengar Alessandro mengatakan bahwa kesadarannya ia dapatkan kembali karena Mom Dea, karena ia membaca buku diary milik Mommynya itu, Bianca mulai merasakan kalau Mom Dea juga merestui hubungannya dengan Alessandro, sepertinya halnya Dad Raymond.


“Bi, izinkan aku untuk menutup kembali lukamu. Aku berjanji hanya akan memberikan kebahagiaan padamu,” Alessandro tak yakin bahwa keinginannya akan dipenuhi oleh Bianca, tapi tak masalah kan jika ia berharap.


“Baiklah. Aku melakukan semua ini demi Dad, Mom, dan juga bayiku,” mendengar ucapan Bianca, Alessandro tersenyum. Meskipun Bianca tak melakukan ini untuknya, tapi ia masih diberi kesempatan.


“Terima kasih, Bi,” tanpa sadar Alessandro langsung mendekati Bianca dan mencium keningnya cepat. bianca langsung menatap ke arah Alessandro.


“Ah maafkan aku. Aku terlalu senang karena kamu telah mengijinkanku untuk bisa membahagiakanmu.”


Bianca sebenarnya merasa sangat kaget dengan perlakuan Alessandro. Saat keningnya disentuh oleh bibir pria itu, kehangatan seakan menjalar ke seluruh tubuh Bianca, bahkan bayi yang ada dalam perutnya langsung melakukan pergerakan.


Kamu merindukan Daddymu, hmm? - batin Bianca sambil mengelus perutnya.


“Maukah kamu makan siang bersamaku besok, Bi?” tanya Alessandro antusias.


Bianca sebenarnya malas untuk keluar, karena ia belum mau orang lain melihat keadaannya yang tengah hamil besar. Namun, ia tak bisa lri terus-menerus.


“Baiklah.”


Alessandro langsung tersenyum, “Aku akan menjemputmu jam 11 siang.”


Alessandro pun akhirnya pulang setelah meminta Bianca untuk segera beristirahat. Sebelum pulang, ia menemui Raymond di ruang kerjanya.


“Ray, besok siang aku pinjam putrimu. Aku akan mengajaknya makan siang.”


“No problem, asal kamu menjaganya dengan baik.”


“Percayalah padaku. Aku tak akan membiarkan dia terluka seujung kuku pun.”


“Baiklah kalau begitu,” Alessandro pun pamit dan meninggalkan kediaman Costa dengan wajah yang berseri.


**


Keesokan paginya, Alessandro bangun pagi sekali. Semalaman ia tak bisa tidur karena memikirkan tentang hari ini. Tanpa membersihkan diri, ia pergi menuju dapur dan menemui kepala pelayan.


“Ruben!” Kepala pelayan itu langsung tersentak kaget karena melihat kehadiran Tuannya itu di dapur.


“Iya, Tuan,” jawab Ruben sambil mengelus dadanya dengan tangan bayangan 😅.


“Siapkan bekal piknik untuk makan siang. Juga siapkan semua perlengkapannya. Semua harus siap jam 10!” perintah Alessandro.


Ruben hanya menelan salivanya saat mendengar perintah Alessandro. Kakinya seakan kaku dan tak ingin bergerak, ia terdiam untuk beberapa saat, hingga salah seorang pelayan menyadarkannya.


“Paman, apa ada sesuatu yang salah?” tanya salah seorang pelayan pada pria paruh baya itu.


Jam 10 tepat, Ruben telah menyiapkan semua bekal serta perlengkapan piknik dan telah dimasukkan ke dalam mobil yang akan dipakai oleh Tuan Alessandro. Seumur Alessandro, baru kali ini tuannya itu meminta dibuatkan bekal untuk piknik, benar-benar menguras tenaga dan esmosi.


“Terima kasih Ruben. Kalian boleh beristirahat hari ini,” Alessandro melemparkan senyumnya pada Ruben dan juga beberapa pelayan yang berdiri di belakang Ruben. Mereka terpesona, sudah lama rasanya Tuan Alessandro tak pernah menampakkan senyum di wajahnya yang dingin.


Sambil bersenandung, Alessandro menyetir ke kediaman Costa. Ia begitu bersemangat, hingga ia sudah sampai di depan kediaman Costa pada pukul 10 lebih 20, ya hanya 15 menit saja dari Mansion Romano ke Mansion Costa.


Beberapa kali Alessandro melihat ke arah jam di pergelangan tangannya. Ia merasa jarum jam bergerak sangat lama, ia sudah sangat tidak sabar untuk turun dan langsung membawa Bianca pergi bersamanya.


“Jav! Sepertinya baterai jam ku rusak, mengapa ia berputar lama sekali?” Alessandro yang tidak sabaran pun akhirnya menghubungi Javer.


Javer yang sedang menikmati waktu akhir pekannya dengan menikmati secangkir kopi hangat dan berbincang dengan istrinya, tiba-tiba mencebik kesal. Bisa-bisanya Alessandro menghubunginya hanya karena baterai jam yang ia gunakan.


“Apa kamu tidak bisa menghubungi perusahaan jam nya agar bisa berputar lebih cepat?” Javer kembali menarik nafas dalam-dalam saat mendengar permintaan Alessandro untuk kesekian kalinya.


Setelah memberikan jawaban yang tidak masuk akal juga pada Alessandro, akhirnya Javer memutus sambungan ponselnya. Hanya Javer yang berani memutuskan sambungan ponsel terlebih dahulu bila Alessandro Romano yang menelepon.


“Javer bilang aku hanya perlu menekan tombol di bagian kanan bawah jam dan mengetik waktu yang kuinginkan, maka jam nya akan berubah sesuai keinginanku,” Alessandro memandangi jam di pergelangan tangannya, kemudian mengikuti langkah-langkah yang diberikan oleh Javer.


Alessandro pun tersenyum ketika melihat bahwa jam di tangannya kini telah berubah menjadi pukul 11. Ia langsung melajukan mobilnya menuju Mansion Costa.


Ide Javer memang luar biasa! Aku pasti akan memberikan bonus besar padanya. - batin Alessandro.


“Selamat pagi Tuan Alessandro,” sapa seorang security di pintu Mansion Costa saat Alessandro membuka jendela mobilnya.


“Selamat siang. Ini sudah jam 11,” kata Alessandro sambil memperlihatkan jam di pergelangan tangannya. Ia pun segera masuk ke dalam Mansion Costa. Dengan tidak sabar ia langsung turun dari mobil karena ia tak ingin terlambat. Sementara security yang tadi berpapasan, hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia langsung memeriksa semua alat penunjuk waktu yang dimilikinya dan semuanya masih menunjukkan pukul 10 lebih 25 menit. Kini ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


**


Bianca merasa kesal karena Alessandro menjemputnya lebih cepat. Bukan karena dia belum selesai bersiap-siap, tapi karena memang ia sedang merayu Dad Raymond untuk ikut pergi dengannya.


Dad tidak mau. Lebih baik Dad di rumah daripada harus menjadi nyamuk di luar sana. - itulah yang dikatakan Dad Raymond ketika Bianca memohon padanya.


Alessandro datang dengan wajah yang berseri-seri, bahkan Bianca tak pernah melihat wajah Alessandro yang seperti itu sejak pertama kali mengenalnya. Sementara Raymond tersenyum melihat Alessandro, ia seperti menemukan Alessandro yang telah hilang belasan tahun yang lalu.


“Jaga putriku, dan kembalikan dia padaku dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun. Satu lagi … jangan berani-berani kamu menyentuhnya lagi tanpa seijinku,” bisik Raymond di telinga Alessandro.


“Tenanglah. Aku jamin ia tak akan terluka setitik pun,” Alessandro membalas perkataan Raymond.


“Apa kamu sedang bucin?” goda Raymond.


“Sepertinya begitu … ehhh,” Alessandro menoleh ke arah Raymond dan mencebik kesal. Ia baru sadar kalau ia sedang digoda oleh sahabatnya sendiri. Raymond terkekeh, menurutnya Alessandro saat ini seperti anak ABG yang sedang kasmaran.


🌹🌹🌹