Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#60



Di dalam sebuah ruangan bernuansa kayu, duduklah Juan berhadapan dengan Dad Isacc dan Mom Diane. Dengan menumpu kedua tangannya di lutut, ia menatap ke arah kedua orang tuanya.


“Apa yang mau kamu katakan?” tanya Mom Diane sambil memicingkan matanya, menatap curiga ke arah Juan. Sementara Dad Isacc hanya melipat kedua tangannya di dada dan bersandar di sebuah sofa.


Juan menghela nafasnya pelan, “Aku mau menikah.”


“Menikah?!” teriak Mom Diane tiba-tiba. Ia ingin putranya itu segera menikah, tapi tidak mendadak seperti ini.


“Katakan siapa wanita itu? Kenapa tiba-tiba kamu mau menikah? Apa kamu menghamilinya?” rentetan pertanyaan diajukan oleh Mom Diane yang sepertinya tidak terima dengan pernyataan Juan.


Padahal aku ingin menjodohkannya dengan Aurora. Meskipun ia sedang hamil, tapi aku sudah menganggap dia seperti putriku. Aku menyukainya sejak pertama aku melihatnya datang ke sini. - batin Diane. Ia merasa kecewa ketika Juan mengatakan akan menikah.


“Mom, tenanglah.”


“Bagaimana aku bisa tenang? Sementara kamu mengatakan sesuatu seperti ini,” ungkap Mom Diane dengan kesal.


“Dad, Mom, sebenarnya saat aku berada di Roma, aku menjalin hubungan dengan seorang wanita. Bisa dikatakan hubungan kami adalah hubungan tanpa status. Kami hanya merasa nyaman satu sama lain dan … kami melakukan lebih dari yang seharusnya. Saat ini ia tengah hamil anakku, anak kami. Awalnya ia pergi meninggalkanku karena tak ingin membebaniku dan menghambat karirku,” Juan terpaksa sedikit berbohong karena tak ingin kedua orang tuanya menilai Aurora dengan buruk, “Saat ia meninggalkanku, aku merasa kehilangan. Aku sudah berusaha mencarinya tapi tidak menemukannya. Tapi … sekarang aku sudah menemukannya dan aku akan menikahinya. Aku meminta restu dari kalian berdua.”


“Tidak bisa!” teriak Mom Diane.


“Apa yang tidak bisa, Mom? Bukankah aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku? Akan ada anak di antara kami.”


“Kamu akan bertanggungjawab, tapi Mom ingin kamu menikah dengan wanita pilihan Mom,” ujar Diane.


“Mom!” teriak Juan.


“Sudah, sudah!” Dad Isacc berusaha menengahi ketegangan di antara ibu dan anak ini. Ia tidak ingin terjadi keributan di dalam keluarganya.


“Juan, bisakah kamu membawa wanita itu ke sini? Kami ingin bertemu dengannya,” pinta Dad Isacc.


“Baiklah, aku akan membawanya ke sini,” Juan menyudahi pertemuan itu dan kembali ke kamar tidurnya.


Sementara itu, Isacc dan Diane terlibat pembicaraan serius.


“Aku tidak akan menerima wanita itu. Aku akan memilih sendiri menantuku,” ujar Diane sambil melipat kedua tangan di depan dada dan bersandar di kepala ranjang.


“Biarlah putramu memilih sendiri dengan siapa ia akan menghabiskan hidupnya. Bukankah kebahagiaannya adalah keinginan kita selama ini?” Kata Isacc.


“Tapi saat ini aku sudah menemukan wanita yang kurasa akan cocok dengan Juan.”


“Siapa? Aurora? Apa kamu berpikir Aurora mau kita jodohkan dengan Juan? Siapa tahu ia sedang menunggu pria pujaan hatinya sendiri. Kita tak bisa memaksakam kehendak kita seperti itu. Biarlah mereka hidup sesuai dengan jalan yang mereka pilih. Kalau kita mengatur mereka dan mereka tidak bahagia, bukankah itu sama saja kita membuat mereka hidup dalam kesedihan?”


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Juan telah sampai di depan pagar rumah Aurora. Ia mengetuk pintunya dan Aurora pun menghampiri. Waktu baru menunjukkan pukul setengah enam pagi, tapi wanita itu seperti sudah selesai membersihkan diri dan sedang menyiapkan sarapan karena ada apron menempel di tubuhnya.


“Apa aku mengganggumu?” tanya Juan.


“Tidak. Aku sedang menyiapkan sarapan, apa kamu mau?” dengan cepat Juan menganggukkan kepalanya. Ia langsung masuk ketika Aurora membukakan pintu pagar. Di atas meja telah siap beberapa potong sandwich dan juga susu.


“Duduklah dulu,” Aurora mempersilakan Juan untuk duduk dan ia sendiri pergi ke dapur untuk meletakkan apron miliknya.


Ia kembali menghampiri Juan dan duduk di hadapannya, “makanlah.”


Wajah Juan tak bisa berbohong, ia masih merasa sedikit ragu membawa Aurora ke rumah untuk bertemu kedua orang tuanya. Meskipun Dad dan Mom-nya dekat dengan Aurora, itu bukan berarti mereka akan langsung menerimanya.


“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Aurora.


“Hmmm … aku ingin membawamu menemui orang tuaku. Aku sudah mengatakan pada mereka bahwa aku akan menikah denganmu. Tapi …,” Juan tidak melanjutkan perkataannya.


“Mereka pasti tidak menyetujuinya bukan?” kata Aurora sambil tersenyum.


“Mom mengatakan kalau ia sudah mempersiapkan seorang wanita sebagai calon istriku,” Juan menjelaskan semuanya pada Aurora, ia tak ingin menutupi apapun.


Aurora tersenyum kemudian memegang tangan Juan, “Sebaiknya kamu mengikuti keinginan Aunty. Ia pasti tahu yang terbaik untukmu.”


“Tapi apa dia memikirkan kebahagiaanku? Aku mencintaimu. Aku tak akan bisa mencintai wanita lain sementara wanita yang kucintai akan melahirkan seorang anak untukku,” Juan mengeratkan pegangan tangannya pada Aurora.


“Tapi bukankah jauh lebih penting kita bisa membahagiakan orang tua kita selama mereka masih ada? Aku sangat ingin memiliki orang tua yang lengkap, tapi sepertinya itu semua hanya ada di dalam pikiranku saja. Jika aku memiliki orang tua, apalagi yang sangat menyayangiku … maka aku akan menurutu keinginan mereka, meskipun …”


“Harus mengorbankan kebahagiaan kita sendiri,” lanjut Juan.


“Tidak! Aku tidak bisa! Aku tak akan mau. Jika aku menikah dengan wanita lain, itu berarti aku membiarkan kamu juga bersama pria lain. Tidak! Aku tidak mau! Cukup sekali kamu menjauh dariku, aku tak ingin itu terjadi lagi.”


“Juan …”


“Bagaimanapun caranya, aku akan memastikan Mommy menyetujui keputusanku. Setelah sarapan, ikutlah denganku. Aku akan membawamu menemui mereka,” kata Juan dengan lantang.


“T-tapi … aku tak ingin hubunganku dengan Uncle Isacc dan Aunty Diane rusak karena hal ini. Mereka sangat baik padaku, aku tak ingin mereka membenciku,” Aurora berusaha menghindar. Ia tak ingin dibenci lagi. Sudah cukup kebencian yang diberikan oleh Alessandro dan seluruh netizen yang mencibirnya, ia tak ingin menerimanya lagi.


“Jika mereka tak menerimamu, maka aku akan membawamu kembali ke kota. Aku akan menikahimu dan membawa kemanapun aku pergi. Kamu akan selalu bersamaku,” kata Juan.


🌹🌹🌹