Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#26



“Siapa dia, Dad?” tanya Bianca sambil memandang ke arah Alessandro dan Raymond bergantian.


“Dia bukan siapa-siapa, hanya salah satu rekan kerja Daddy yang datang berkunjung,” jawab Raymond.


“Terima kasih Uncle, sudah mengunjungiku,” kata Bianca.


Alessandro merasa kaget karena Bianca tak mengenalinya, sementara Raymond justru tersenyum bahagia. Ia senang ketika Bianca ternyata melupakan keberadaan Alessandro. Itu artinya putrinya tak akan bersedih jika memikirkan kejadian yang menimpanya.


“Terima kasih sudah berkunjung,” Raymond mengarahkan sebelah tangannya ke arah pintu keluar, berharap Alessandro mengerti kalau ia tidak diterima di sana.


Alessandro akhirnya berjalan ke arah pintu, namun sesekali ia menoleh ke arah Bianca.


“Dad, dari mana?” tanya Bianca saat Raymond berjalan mendekat. Sebelum keluar dari ruangan, Alessandro bisa melihat senyum Bianca pada Raymond. Ia menghela nafasnya, mengepalkan tangannya. Sesaat ia merasa cemburu pada sahabatnya itu.


**


Bianca keluar dari rumah sakit setelah melewati serangkaian tes. Kini, ia sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Ia kembali menjalani kuliahnya dan setiap akhir pekan ia kembali berada di tempat latihan bela dirinya.


“Sudah lama sekali kamu tidak ke sini, Bi,” kata Bruno.


“Aku baru sempat, Kak,” Bianca tidak mengatakan pada Bruno bahwa ia baru saja mendapat musibah. Bruno sudah seperti kakak baginya dan Ia tak ingin Bruno banyak pikiran.


Bughhh bugh bughhh …


Bianca meninju dan menendang samsak yang ada di hadapannya. Ia masih menggunakan sebuah topi untuk menutupi bekas operasi pada kepalanya.


Pintu ruang latihan terbuka, nampak sosok seorang pria bertubuh tinggi tegap. Ia berjalan mendekati Bianca.


“Selamat siang,” sapanya.


“Selamat siang. Hi Uncle. Bukankah anda adalah rekan kerja Dad Raymond?” tanya Bianca masih sambil memukul samsak di hadapannya.


“Ya.”


“Anda berlatih di sini juga? Suatu kebetulan. Silakan,” Bianca tak menghiraukan Alessandro, ia terus saja memukul samsaknya.


“Apa kamu bisa menjadi trainerku?” tanya Alessandro.


Bianca menoleh ke arah Alessandro, “Ah maaf, saya tidak bisa. Mintalah oada Kak Bruno, ia lebih berpengalaman. Lagi pula sebentar lagi saya akan pulang,” dengan halus Bianca menolak permintaan Alessandro, membuat Alessandro kecewa.


Ia datang ke tempat latihan karena anak buahnya memberikan informasi bahwa Bianca berada di sana setiap weekend, seperti dulu saat Alessandro belum mengenalnya. Al ingin kembali dekat dengan Bianca, dan berharap Bianca tetap tak mengingat kejadian buruk yang menimpanya.


Namun, penolakan Bianca membuat Alessandro kecewa. Sepertinya ia harus berusaha ekstra keras untuk kembali mendapatkan hati Bianca.


**


Kepalaku terasa sangat sakit. Ketika aku bangun, sekelilingku berwarna putih, tapi aku menutupnya lagi karena ada suara. Aku mendengar samar-samar pembicaraan antara Dad Raymond dengan Kak Gio. Dad Raymond meminta Kak Gio untuk meneruskan rencana mereka untuk membuat perusahaan yang baru.


Aku tahu, itu semua adalah kesalahanku. Dad Raymond kehilangan semuanya, itu karena aku. Aku bodoh, terlalu mudah terperdaya oleh siasat dan mulut manis seorang Alessandro Romano.


Aku tidak membuka mataku, bahkan hingga Kak Gio keluar dari ruangan tempatku dirawat.


Mengapa kamu menemuinya lagi?


Aku mendengar nada kekecewaan saat Dad Raymond berkata seperti itu. Aku ingin berteriak bahwa bukan aku yang ingin menemuinya, tapi dialah yang mendatangiku. Aku juga tak ingin menemuinya lagi.


Setelah itu, aku pura-pura baru terbangun. Dad Raymond pasti akan banyak bertanya padaku tentang Alessandro Romano, jadi … aku berpura-pura kehilangan sebagian ingatanku. Apa aku salah? Kurasa tidak. Ini adalah langkah terbaik.


Dad Raymond keluar menemui dokter karena merasa aku seperti orang yang kehilangan ingatan. Aku berbaring sebentar, memandang ke langit-langit kamar, berharap dokter itu bisa bekerja sama denganku.


Cukup lama Dad Raymond pergi, aku mendengar pintu kamarku terbuka, ingin aku bangun tapi aku merasa aneh. Pada akhirnya, aku tetap memejamkan mata.


Siapa yang melakukan ini?


Alessandro, itu suaranya. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di wajahku. Ia menyentuh perban yang ada di keningku, kemudian aku merasakan hangat. Ia mencium keningku, hatiku terasa bergejolak dan jantungku berdetak dengan kencang. Sejujurnya aku merindukan Alessandro yang lembut, aku rindu akan ciumannya. Namun, aku masih mengingat bagaimana kasarnya ia memperlakukanku. Ia menganggapku seperti barang, yang bisa ia pakai sembarangan kemudian membuangnya.


Apa yang kamu lakukan di sini? Apa masih belum cukup mengganggu keluargaku?


Suara yang menggeram kesal keluar dari mulut Dad Raymond. Aku tahu Dad sangat terluka karena perlakuan Alessandro padaku. Dad selalu menganggapnya sahabat dan mengorbankan dirinya dibenci agar Alessandro tidak terjerumus karena seorang wanita.


Namun seperti air susu yang dibalas dengan air tuba, Alessandro malam menaruh dendam. Ia menghancurkan Perusahaan Costa melalui aku dan ia bahkan menghancurkan masa depanku. Aku merasakan sakit, tapi melihat Dad Raymond, aku yakin ia jauh lebih sakit.


Aku akhirnya pura-pura baru terbangun. Seperti rencana awal bahwa aku akan kehilangan sebagian ingatanku, aku berpura-pura tidak mengenal ataupun mengetahui siapa pria yang berdiri di dekatku. Aku melihat wajahnya begitu kaget dengan pertanyaanku, dan kulihat senyuman di wajah Dad Raymond. Jadi kurasa aku telah melakukan sesuatu yang benar.


Hari-hari kujalani seperti biasa. Aku akan melupakan Alessandro dan memulai hidupku yang baru. Aku pergi ke tempat latihan untuk menemui Kak Bruno. Aku juga harus sedikit bersandiwara di depannya agar Dad Raymond tidak curiga. Bukankah kita harus membohongi orang terdekat kita lebih dahulu agar yang lain dapat percaya?


Namun, hal yang tak kusangka menghampiriku. Alessandro datang ke tempat latihan. Ia mendekatiku dan memintaku menjadi trainernya. Tentu saja aku menolaknya. Aku tidak mau berdekatan dengannya. Aku masih ingat bagaimana senjatanya memasuki tubuhku dan membuat rasa sakit yang teramat sangat. Hal itu meninggalkan jejak yang menakutkan bagiku. Jadi lebih baik aku menjauhinya.


Aku memberi saran agar meminta Kak Bruno yang melatihnya dan aku bisa melihat kekecewaan di matanya. Aku bertanya dalam hati, untuk apa dia mendekatiku lagi? Apa dia ingin menghancurkanku untuk yang ke dua kalinya? Ataukah ia merasa dendamnya pada Dad Raymond belum tuntas?


Aku tak ingin membuka jalan lagi baginya. Aku, Bianca Costa, tak akan jatuh ke lubang yang sama. Aku tak akan pernah membuat siapapun menghancurkan Dad Raymond, keluargaku yang kusayangi. Aku tak punya siapa-siapa lagi dan aku akan melindunginya segenap jiwa dan tenagaku.


Ia berjalan menjauh dan duduk di bangku panjang yang memang disediakan untuk beristirahat. Aku masih terus memukul samsak yang berada di hadapanku. Aku bisa melihat bahwa ia terus memperhatikanku. Ada yang berbeda dari dirinya, tatapannya … apakah itu ketulusan? Penyesalan? Atau hanya sekedar tipu daya?


🌹🌹🌹