Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#42



“Bi, maukah kamu mendengarkan Dad?” Bianca kini duduk di dalam kamarnya bersama dengan Dad Raymond. Bianca langsung menghubungi Dad Raymond dan memintanya kembali.


Alessandro juga pada akhirnya pulang setelah Raymond membujuknya. Ia memang mengijinkan Alessandro untuk mendekati Bianca, karena bagaimanapun ia ingin keduanya bisa bahagia dan memiliki hidup yang baru.


“Maafkan Dad karena sudah mengijinkan Alessandro untuk datang ke sini menemuimu.”


“Aku kira dia membohongiku dengan mengatakan Daddy yang mengijinkan,” kata Bianca.


“Bi … dengarkan Daddy,” Raymond menghela nafasnya pelan, “Bagaimana perasaanmu ketika Mom pergi meninggalkan kita?”


Bianca kembali teringat masa-masa di mana Mom nya secara tiba-tiba meninggalkan mereka. Padahal, saat itu adalah saat di mana kebahagiaan mereka terasa luar biasa. Mereka akan menyambut anggota keluarga baru. Bianca sangat bahagia ketika Mom Dea mengatakan ia tengah mengandung seorang bayi, karena ia sudah mengharapkannya sejak lama.


Hatinya seketika hancur mendengar bahwa Mom Dea dan juga adik bayinya tidak terselamatkan. Berhari-hari ia diam di kamar, begitu pula dengan Dad Raymond. Mereka seperti kehilangan arah dan motivasi hidup.


“Aku hancur Dad. Aku kehilangan Mom yang selalu memelukku, membacakanku dongeng, menyuapiku, menemaniku belajar, dan … tidak ada adik bayi yang sangat kuinginkan.”


“Apa kamu mau jika Mom masih ada di sini bersamamu dan Dad yang pergi?” tanya Raymond.


“Tidak! Tidak, Dad! Jangan berkata seperti itu. Aku tak mau kehilangan Mommy, aku juga tak mau kehilangan Daddy. Aku berharap selalu memiliki kalian berdua,” Raymond mengelus rambut Bianca dan mengecupnya.


“Bagaimana perasaan anakmu jika ia hanya memilikimu, tanpa Dad nya?” Bianca menunduk, memejamkan matanya seakan berpikir.


“Tapi aku tak ingin berada di dekatnya, Dad. Dia jahat!”


“Maafkan Dad. Semua ini juga terjadi karena kesalahpahaman antara Dad dengan Alessandro di masa lalu. Ini semua tak akan terjadi jika dulu Dad memaksa menjelaskan semuanya,” kata Raymond sambil terus memegang tangan Bianca.


“Kamu tahu, sayang. Alessandro sebenarnya bukanlah orang yang jahat. Ia memiliki cinta yang besar di dalam dirinya, hanya saja dia memberikannya pada wanita yang salah. Dad tidak rela jika ia harus menderita karena cintanya pada wanita itu. Dad hanya memberi saran padamu, dan jika kamu mau … kamu bisa belajar untuk memaafkan Alessandro. Dad tahu semua itu tidak mudah, tapi … Dad yakin ia serius. Ia bahkan berlutut di hadapan Dad, memohon maaf dari Dad dan meminta izin Dad untuk selalu menjagamu.”


Bianca hanya bisa menatap manik mata Dad Raymond dengan tatapan sendu. Ia tahu bahwa Dad Raymond selalu mengatakan kejujuran. Seorang Alessandro Romano bisa berlutut di hadapan Dad Raymond untuk meminta maaf, suatu hal yang sebenarnya sulit untuk dipercaya.


“Beri aku waktu, Dad. Aku akan memikirkannya.”


“Baiklah, sayang. Sekarang kita makan malam ya. Dad tidak mau cucu Dad kelaparan karena Mom nya bersedih.”


Mereka pun makan malam bersama, kemudian setelahnya masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat ataupun melakukan kegiatan mereka sendiri.


**


Aku akan punya anak? Anakku …


Alessandro benar-benar tak percaya. Memikirkan ia akan memiliki seorang anak sangat jauh dari bayangannya. Ketika melihat perut Bianca yang sedikit membuncit, Alessandro pun langsung menyadari bahwa Bianca sedang hamil.


“Apa yang harus kulakukan agar Bianca memaafkanku? Sekarang ia sudah mengungat semuanya, tentu saja ia sangat marah padaku. Aku harus sabar … benar, ini semua kesalahanku. Aku haru sabar dan secara perlahan kembali mengambil hati Bianca,” gumam Alessandro.


Alessandro tak pernah sebahagia ini sejak belasan tahun lalu. Ia bahkan tidak bahagia saat berhasil menghancurkan Perusahaan Costa. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk memberitahu keluarganya bahwa ia akan memiliki seorang anak. Namun, yang harus ia lakukan pertama kali adalah mendapatkan hati Bianca.


**


Wajah lelah dan letih terpancar dari seorang wanita di dalam sebuah unit apartemen. Ketika wanita lain mengalami morning sickness di trimester pertama kehamilan, ia justru baru mengalaminya di trimester kedua.


Kepalanya selalu terasa pusing di pagi hari dan mual yang sangat amat selalu membuatnya mengunjungi kamar mandi setelah matanya membuka. Bawah matanya terlihat menghitam dan berkantung, rambut acak-acakan dan pakaian yang dikenakan terlihat sangat berantakan.


Aurora sangat malas untuk sekedar bangun dari tempat tidurnya, bahkan ia malas sekali untuk makan. Apapun yang ia masukkan ke dalam mulutnya, langsung ia keluarkan lagi. Kehamilan ini membuat tubuhnya justru bertambah kurus.


Riana, sang manager, selalu datang mengunjungi Aurora setiap hari. Dengan telaten ia merawat Aurora, meskipun Aurora selalu menolak. Bahkan untuk mandi saja Aurora harus dipaksa. Kadang Riana terpaksa hanya mengelap tubuh Aurora di atas tempat tidur.


Bulir air jatuh dari sudut mata Riana setiap kali melihat keadaan Aurora. Seorang aktris yang dulunya begitu cantik, terkenal, kini hanya seperti tulang berbalut daging tipis dengan perut yang membuncit.


Riana sudah menghubungi pihak rumah sakit. Tanpa persetujuan Aurora, ia akan tetap membawa Aurora ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Ia juga akan sekali lagi menemui Tuan Juan agar mau menemui Aurora.


Aurora dibawa ke rumah sakit menggunakan sebuah ambulans. Riana menempatkannya di kamar rawat biasa, di mana 1 kamar ditempati oleh 3 orang. Sebenarnya ia bisa saja menempatkan Aurora di ruang VIP, namun Riana berpikir ke depan. Aurora pasti belum bisa kembali ke dunia akting ataupun modeling. Mereka harus menyimpan uang untuk kehidupan Aurora dan bayinya beberapa tahun ke depan.


Setelah memastikan Aurora mendapatkan perawatan, Riana pergi ke apartemen milik Juan Fernandez. Cukup lama ia berdiri di depan pintu sebelum ia memberanikan diri untuk menekan bel.


Riana menunggu sekitar 15 menit, dan barulah pintu apartemen itu terbuka. Riana bisa melihat Juan yang baru saja selesai mandi karena rambutnya masih terlihat basah dan masih ada handuk yang melingkar di lehernya.


“Kamu lagi? Masuklah,” kata Juan, masih sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil.


Riana tak duduk, ia langsung to the point mengenai kedatangannya ke apartemen Juan, “Tuan, bisakah anda membantu saya kali ini saja?”


Juan menoleh ke arah Riana, “Apa kamu tetap meminta saya untuk menemuinya? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku tak akan menemuinya, sebelum dia sendiri yang menemuiku?”


“Tapi Tuan, bisakah anda bermurah hati … sekali ini saja,” Riana berkata dengan pelan, karena ia benar-benar sedang menjaga emosinya.


“Aku tidak akan merubah pendirianku,” kata Juan.


“Apa anda juga tidak akan merubah pendirian anda jika melihat ini?”


🌹🌹🌹