Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#8



Bughh bughh bughh …


Pukulan demi pukulan diberikan oleh Bianca pada sebuah samsak yang tergantung dengan kuatnya di plafond. Ia mendaratkan pukulan dari kepalan tangannya juga dari kakinya. Ia sedikit melompat untuk menetralisir tenaganya. Tubuhnya berkeringat saat ini meskipun ruangan latihan tersebut dilengkapi dengan pendingin ruangan.


Baru ia akan memukul samsak, ia merasakan sesuatu yang hangat menerpa ceruk lehernya.


“Apa kamu tidak lelah?” Tanya Alessandro dari belakang Bianca. Ia menempatkan kepalanya di bahu Bianca dan mengecup bahu Bianca yang terbuka karena haya menggunakan sebuah tanktop berwarna hitam.


“Tuan Al?” Bianca kaget saat mendapatkan kecupan dari Alessandro, ia pun sedikit menyingkir.


“Mengapa kamu berlatih seorang diri? Mana temanmu itu?”


“Kak Bruno? Ia sedang pergi memberikan les privat.”


“Apa kamu tidak mau menemaniku berlatih?” Tanya Al.


“Tentu saja aku akan menemanimu. Bukankah aku adalah trainermu, Tuan?” Goda Bianca, membuat Alessandro tertawa.


“Oiya, aku lupa kalau aku sudah membayarmu untuk menjadi trainerku. Baiklah, bagaimana kalau kita memulainya sekarang?”


“Baiklah, tunggu aku di ruangan khusus anda, Tuan. Aku akan ke sana setelah ini.”


“Hmm … bisakah kamu tidak memanggilku Tuan?”


“Memangnya aku harus memanggilmu apa?” Tanya Bianca.


“Al, panggil aku Al.”


“Baiklah, Kak Al,” kata Bianca.


“Jangan pakai Kak, langsung namaku saja. Aku tidak ingin terlihat tua,” ucapan Al membuat Bianca tertawa, dan percaya tidak percaya, tawa Bianca menular kepada Alessandro.


“Baiklah, Al. Kamu ingin selalu awet muda ya?” Bianca terkekeh.


“Hmm, aku ingin awet muda untuk mengimbangimu. Aku tidak ingin dikira berjalan bersama anakku, ataupun keponakanku,” Al menoleh ke arah Bianca dan tersenyum.


“Tapi aku selalu merasa berjalan bersama Daddyku jika bersamamu,” Bianca kembali tertawa.


Dulu Raymond memang sahabatku. Jika kami masih bersahabat saat ini, tentu kamu juga akan kuanggap seperti anakku sendiri. Tapi sekarang, kamu adalah salah satu alatku untuk menghancurkan seorang Raymond Costa. - batin Alessandro.


Takk takkk takkk …


Hentakan tali skipping ke atas lantai menjadi suara yang menemani latihan Alessandro dengan Bianca. Mereka masing-masing memegang tali skipping dan berlompatan di atas lantai.


Mereka melakukan berbagai gaya, mulai dari melompat dengan kedua kaki, kemudian hanya dengan sebelah kaki, kemudian kombinasi dengan sesekali menyilangkan tali skipping. Keduanya berlatih sambil tertawa.


“Sepertinya kita harus melompat dengan cara yang lain,” kata Alessandro. Bianca menautkan kedua alisnya.


“Kemarilah,” Alessandro meminta Bianca untuk berdiri di hadapannya.


“Kamu siap?” Bianca pun mengangguk. Alessandro mulai memutar tali skipping tersebut melewati kaki mereka berdua. Mereka saling menatap dan tertawa satu sama lain, hingga tanpa sadar tubuh mereka berdua semakin mendekat.


“Sekarang peluk aku,” Alessandro melingkarkan tangan Bianca ke pinggangnya.


“Sepertinya ini akan sulit, karena aku harus mengikuti gerakan tubuhmu,” kata Bianca.


“Kalau begitu, aku akan memelukmu saja, tidak perlu melanjutkan bermain dengan tali skipping itu,” Alessandro dengan gerakan cepat meraih pinggang Bianca dan mendudukkannya di pinggir ring tinju. Kedua tangannya mengungkung Bianca.


Wajah dan tubuh mereka berdua begitu dekat saat ini, hingga mereka berdua bisa merasakan hembusan nafas mereka masing-masing. Alessandro mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca dan …


Alessandro mengecup singkat bibir Bianca, “manis,” gumamnya.


Alessandro menatap manik mata biru milik Bianca, kemudian kembali mencium Bibir Bianca. Al menahan tengkuk Bianca untuk memperdalam ciuman mereka.


“Buka mulutmu,” pinta Alessandro.


Al kembali ******* dan menyesap bibir Bianca hingga hanya terdengar kecapan di dalam ruang latihan khusus itu. Keduanya berhenti saat merasa oksigen di sekitar mereka seperti lenyap.


“Aku menyukaimu,” Alessandro berucap sambil menatap manik mata biru milik Bianca. Bianca mengalungkan tangannya ke leher Alessandro dan Alessandro pun tersenyum. Ia kembali ******* dan menyesap bibir berwarna pink yang terasa begitu manis.


**


Sebuah senyuman terukir di wajah Bianca sepanjang perjalanan pulang dari tempat latihan. Saat ini ia masih belum percaya kalau Alessandro menyukainya.


Pria yang begitu tampan dan gagah menyukainya, bukankah itu sempurna?


Bianca memasuki rumahnya dengan bersenandung. Ia menyapa penjaga keamanan juga tukang kebun yang sedang berada di halaman. Saat memasuki ruang tamu, ia melihat Dad Raymond sudah duduk di sana sambil membaca beberapa dokumen.


“Dad!” Sapa Bianca.


“Kamu baru pulang, sayang?”


“Hmmm, apa Daddy sudah makan?”


“Nanti sayang. Dad akan menyelesaikan ini dulu,” kata Raymond sambil masih membaca dokumen yang ada di hadapannya.


“Aku akan membersihkan diri dulu, Dad,” Bianca naik ke lantai atas tempat kamar tidurnya berada. Bianca masuk ke dalam kamar. Ia melemparkan tas selempangnya ke atas sofa, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Kamar Bianca didominasi warna cokelat dan putih. Ia memang menyukai warna netral. Awalnya ia meminta Raymond untuk memberikan warna hitam dan putih, namun Raymond tidak mengabulkannya. Ia tidak ingin anak perempuannya terlalu bergaya seperti laki-laki.


Bianca menyalakan air hangat untuk mengisi bathtub, kemudian ia meneteskan aroma therapy untuk sekedar menenangkan dirinya. 30 menit ia menghabiskan waktunya untuk berendam dan membersihkan diri.


Bianca keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang ia lilit di tubuhnya. Ia berjalan dengan santai menuju wardrobe yang terletak persis di sebelah kamar mandi. Ia memakai piyama panjang berwarna biru navy.


Dengan rambut yang masih setengah basah, Bianca turun dan mendapati Raymond yang masih sibuk di ruang tamu.


“Dad, ayo makan dulu. Setelah itu baru dilanjut lagi,” Bianca menarik lengan Raymond agar mengikutinya ke meja makan.


“Tapi ini tinggal sedikit lagi, sayang,” Raymond seakan merajuk untuk menolak.


“Dad! Aku tidak mau sakit maag Daddy kambuh ya,” Bianca mencebikkan bibirnya.


“Iya. Tapi … apa yang terjadi dengan bibirmu, Bi? Kamu terluka?” Bianca tiba-tiba menjadi salah tingkah. Ia belum berani untuk menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Alessandro yang seusia dengan Daddynya itu.


“Tadi aku terkena tali skipping, Dad,” Bianca merasa bersalah telah membohongi Raymond. Namun, ia merasa belum tepat waktu untuk menceritakannya.


“Lain kali hati-hati. Daddy mengijinkanmu berlatih, tapi bukan berarti membiarkanmu terluka.”


“Aku mengerti, Dad. Aku janji akan lebih berhati-hati,” ujar Bianca.


“Baiklah, kita makan sekarang,” Raymond pun bangkit dan menuju ruang makan bersama dengan Bianca. Setiap hari ia hanya makan berdua saja dengan Bianca. Rumah besar begitu terasa kosong sejak kepergian Amadea.


Sementara itu di tempat lain,


“Sedikit lagi …. Ya, sedikit lagi. Putrimu akan menjadi alat yang sangat ampuh untuk membuatmu menderita. Tapi yang pertama harus kuhancurkan adalah perusahaanmu, mimpi yang kamu bangun dari nol itu akan segera kembali ke angka nol. Melihat kehancuranmu, akan menjadi hadiah terindah bagiku,” gumam Alessandro.


🌹🌹🌹