
Aurora yang awalnya ingin pergi dari sana, tak kuasa melihat Bianca ternyata masih hidup. Dengan sebuah batu yang ada di sana, ia memukul kepala bagian belakang dan memukul sekali lagi ketika Bianca ingin menoleh ke arahnya. Setelahnya ia langsung menjatuhkan batu tersebut dan berlari pergi sebelum ada yang mengejarnya.
Raymond menunggu di depan ruang ICU bersama dengan Gio. Untung saja tadi Arland datang dengan cepat bersama para anak buahnya. Mereka membantu Raymond dan Gio menghabisi orang orang suruhan Aurora, sehingga Raymond bisa membawa Bianca secepatnya ke rumah sakit.
“Apa sebaiknya kita melaporkan wanita itu, Tuan?” tanya Gio.
“Apa kita punya bukti?” Gio menggelengkan kepalanya. Di gudang tersebut tak ada CCTV dan orang orang suruhan Aurora sampai saat ini tak mau berbicara.
“Biarkan saja dulu. Kita harus memikirkan keadaan Bianca terlebih dahulu,” ucap Raymond.
Seorang dokter keluar dari ruang ICU, “Kepalanya mengalami pukulan yang cukup keras. Kami harus melakukan sedikit operasi pada kepalanya untuk mengangkat penggumpalan darah yang terjadi. Anda bisa menandatangani surat surat ini jika mengijinkan kami melakukannya.”
“Lakukan yang terbaik, Dok,” pinta Raymond
Malam itu juga, operasi dilakukan. Raymond benar benar merasa khawatir akan keadaan Bianca. Ia berjalan mondar mandir di depan ruang operasi.
“Ini Tuan,” Gio menawarkan secangkir kopi yang ia beli melalui sebuah mesin minuman yang terdapat di koridor rumah sakit.
“Terima kasih, Gi.”
Sementara itu di tempat lain,
Alessandro merasa tidak tenang. Ia berada di atas tempat tidurnya, namun sulit sekali untuk terlelap. Pikirannya kembali mengingat keadaan Bianca saat bertemu dengannya.
Alessandro akhirnya memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya. Saat memasukinya, ia kembali teringat apa yang ia lakukan pada Bianca di ruangan ini.
Tidak, aku tidak melakukan hal yang salah. Raymond pantas mendapatkan itu dan putrinya sendiri yang ingin membayarnya. - Raymond berjalan ke arah sofa, tempat di mana ia mengambil mahkota Bianca.
Matanya melihat ke arah meja kerjanya, ia mengernyitkan dahinya saat melihat sesuatu yang tak biasa berada di sana.
Tas?
Ia membuka isi tas tersebut, menemukan ponsel dan dompet Bianca, juga sebuah buku kecil berwarna peach. Alessandro membuka buku itu perlahan dan membaca halaman pertama.
“Buku ini? Diary Amadea?” gumam Alessandro. ia kenal betul tulisan Amadea karena dulu ia dan Raymond sering sekali mengcopy catatan milik Dea.
Malam itu Alessandro membaca lembar demi lembar dari diary tersebut. Tangannya mengepal dan matanya terpejam setelah membacanya. Ia menarik nafasnya dalam, ia merasa telah melakukan kesalahan besar.
Ia membawa diary itu kembali ke kamar tidurnya dan sekali lagi ia membaca di bagian-bagian tertentu, terutama mengenai Aurora.
Ingin sekali aku mengatakan padamu, hai Alessandro Romano. Betapa sahabatmu sangat menyayangimu, hingga ia mengorbankan persahabatan kalian demi kebahagiaanmu. Ia rela dibenci olehmu, agar kamu tidak bersama dengan wanita bernama Aurora Frederica.
“Dan akulah yang menghancurkan persahabatan itu. Aku juga yang telah menghancurkan putrimu … tapi … sekarang … apa yang harus kulakukan sekarang?” gumamnya.
**
Bianca sudah dipindahkan ke ruang rawat, operasi berjalan dengan lancar. Raymond dengan sayang selalu menemani Bianca.
“Gi, kamu sebaiknya pulang. Aku tidak ingin orang tuamu khawatir,” kata Raymond.
“Baik, Tuan. Besok saya akan kembali ke mari. Apa ada yang ingin saya bawakan?”
“Tidak perlu, Gi. Tadi kamu sudah membawakanku pakaian ganti, itu sudah cukup. Sebaiknya kamu jalankan rencana kita, agar surat-surat yang kita perlukan segera selesai.”
“Baik, Tuan. Saya permisi,” Gio sedikit membungkukkan tubuhnya, kemudian keluar dari ruangan. Raymond kembali menatap ke arah Bianca.
“Kenapa kamu menemuinya lagi?” gumam Raymond. Ia tahu dari Gio bahwa terjadi pertemuan antara Alessandro dengan Bianca.
Raymond berpindah, duduk di sofa panjang yang ada di ruang rawat. Untuk sementara ini, Bianca harus tetap berada dalam ruang rawat intensif karena operasi yang dilakukan memerlukan pengawasan setelahnya.
Keesokan paginya,
“Kamu sudah bangun, Bi?” Raymond yang baru terlelap 2 jam yang lalu, kembali membuka matanya setelah mendengar Bianca tersadar.
“Apa yang terjadi denganku, Dad? Kenapa aku ada di sini?”
“Apa kamu tidak ingat?”
“Apa aku terjatuh di sekolah, Dad?” Raymond langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.
Tak lama, seorang dokter masuk ke dalam, bersama satu orang perawat. Ia memeriksa keadaan Bianca secara umum.
“Apa yang kamu rasakan?” tanya Dokter Liora.
“Kepalaku sakit,” jawab Bianca.
“Selain itu?”
“Tak ada,” Bianca tersenyum, yang membuat Dokter Lio heran. Pasalnya luka yang didapat Bianca cukup serius karena menyebabkan penggumpalan darah.
“Baiklah kalau begitu,” Dokter Lio mencatat semua di sebuah kertas, kemudian memberikannya kepada perawat.
“Apa aku sudah boleh pulang?” tanya Bianca lagi.
“Belum. Kamu baru dioperasi dan perlu beberapa hari perawatan,” Wajah Bianca memperlihatkan ketidaksukaan, kemudian ia menoleh ke arah Dad Raymond.
“Dad, katakan padaku, apa Lukas yang memukul kepalaku?” Raymond kini semakin bingung karena Lukas adalah teman SMA Bianca yang kini sudah pindah ke luar negeri. Mereka memang tidak akur dan sering bertengkar.
“Kamu diculik sayang, dan penculik itu yang memukul kepalamu.”
“Penculik? Aku diculik? Apa Dad membohongiku? Aku akan memukul mereka jika berani menculikku. 1 tahun lagi saja aku akan kuliah, aku sudah dewasa.”
“Bi … ,” Setelah perkataan itu, Dad Raymond meminta izin untuk menemui dokter sebentar.
Di dalam ruang dokter,
“Setelah mendengar apa yang anda katakan, sepertinya kecelakaan dan operasi pada Nona Bianca menyebabkan dirinya mengalami kehilangan memori jangka pendek. Hal ini mungkin terjadi karena adanya trauma kepala akibat pemukulan itu. Saya juga tak bisa mengatakan apakah ini bersifat sementara atau permanen. Kita harus melakukan bebeberapa pemeriksaan untuk mengetahuinya, yakni tes darah, CT scan atau MRI, juga tes kognitif.”
“Lakukan yang terbaik, Dok.”
**
Alessandro yang meminta Javer untuk kembali mengawasi keluarga Costa, mendapatkan kabar bahwa Bianca kembali masuk ke rumah sakit.
Ia tiba-tiba saja menjadi kalut dan tidak konsentrasi, langsung meninggalkan ruang meeting. Ia meminta Javer untuk menggantikannya. Alessandro pergi menuju rumah sakit tempat Bianca di rawat.
Tokkk tokkk tokk …
Tak ada suara sahutan dari dalam, Alessandro pun membuka pintu. Ia melihat Bianca sedang terlelap. Ia berjalan mendekati brankar dan melihat kepala Bianca yang diperban.
Alessandro mengusap kening Bianca, “Siapa yang melakukan ini?”
Alessandro mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca, kemudian mengecup keningnya. Sebuah suara langsung membuat Alessandro berhenti.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Apa masih belum cukup mengganggu keluargaku?” Raymond melihat Alessandro dengan tatapan kebencian. Hal yang terjadi pada putrinya ini adalah akibat Alessandro dan juga Aurora. Ia tidak akan membiarkan kedua orang ini berada di dekat Bianca.
Bianca yang terlelap pun terbangun karena mendengar suara Dad Raymond, “Dad … mengapa Daddy berteriak?” Bianca mengerjapkan matanya, kemudian melihat ke arah Alessandro.
“Siapa dia, Dad?”