Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#52



Setelah mengucapkan janji pernikahan di depan altar dan menyematkan cincin di jari manis mereka, Alessandro memberikan sebuah ciuman di kening Bianca. Ciuman yang sangat dalam yang menghangatkan dan penuh cinta. Bianca tersenyum pada Alessandro, dan begitu pula sebaliknya.


Di depan gereja, mereka melakukan ritual lempar bunga pengantin. Para single man dan single woman berdiri mengharapkan mereka mendapatkan bunga. Grandma Audrey mendorong Raymond dan mengarahkan tongkatnya ke atas, seakan memberi perintah bahwa Raymond harus ikut dalam acara tersebut.


“Aku tidak mau, Grandma. Aku hanya mencintai Dea dan tak akan pernah ada yang bisa menggantikannya,” kata Raymond.


“Dea juga pasti mengharapkan kebahagiaanmu. Ia tidak ingin kamu seorang diri. Kamu itu masih muda, masih tampan dan gagah. Kalau saja Grandma masih berusia sepertimu, maka Grandma akan langsung membawamu ke pelaminan.”


“Baiklah, baiklah. Aku akan berdiri di sana. Tapi aku melakukannya hanya untuk meramaikan acara. Sekarang sebaiknya Grandma menurunkan tongkat itu, ya … ya …,” Raymond pun melangkahkan kaki mendekati kerumunan, namun ia tetap berada jauh di samping.


Gio yang berada tak jauh menertawakan atasannya itu. Ia juga selalu berdoa agar Tuan Raymond akan mendapatkan kebahagiaan karena menurutnya Tuan Raymond adalah pria yang sangat baik.


Gio berdiri di dekat sebuah stand minuman dan makanan kecil yang berada di taman depan gereja tersebut. Ia sangat senang berada di sana karena kini perutnya sudah kenyang dan ia sama sekali tak akan kehausan.


Raymond menoleh ke arahnya dan menatapnya kesal. Asistennya yang satu itu malah menikmati kue kecil dan semua snack yang disediakan, sementara ia harus menghadapi Grandma Audrey. Bahkan saat ini mulutnya saja masih penuh.


Satu …. Dua …. Ti …. Tiga ….


Sebuah buket bunga melayang di udara. Semua mata seakan melihat ke arah mana bunga itu akan berlabuh.


Yeayyyy!!!!


Sorak sorai membahana di depan gereja yang beratapkan langit biru cerah. Semua tamu bertepuk tangan ketika melihat bunga itu telah jatuh di pelukan sesosok pria yang sangat tampan, yang tak akan tertutup meskipun ia menggunakan kacamatanya.


Gio menggigit bibirnya ketika semua mata mengarah padanya. Di hadapannya kini tengah ada sebuket bunga, sementara di tangan kanannya masih memegang sebuah kue yang tengah ia nikmati. Mata Gio langsung terarah pada atasannya yang sedang menertawakan dirinya.


Gio melahap habis kue yang berada di tangan kanannya. Mulutnya kini semakin penuh dan membuatnya tidak bisa berbicara sama sekali, padahal ia dipanggil untuk mendekat ke arah mempelai.


Setelah menghabiskan 1 gelas minum dan membersihkan tangannya dengan tissue, ia maju ke depan. Saat melewati Tuan Raymond, ia bisa mendengar bahwa atasannya itu tengah menggodanya.


Namun, ketika ia berada di antara kedua mempelai, senyumnya langsung kembali merekah ketika Alessandro memberikannya sebuah kunci sebagai hadiah dari buket bunga yang ia dapatkan. Sebuah mobil telah disiapkan untuk siapa saja yang berhasil menangkap bunga.


Gio kembali menoleh ke arah Tuan Raymond dan menaik turunkan alisnya seraya tersenyum, membuat Raymond kembali jengkel karena tak berhasil menggoda asistennya itu.


**


Sebuah acara jamuan makan malam disiapkan oleh Javer atas perintah dari Alessandro. Jamuan makan malam juga hanya dihadiri oleh keluarga dan sahabat dekat. Dari acara pemberkatan pernikahan hingga jamuan makan malam, tak ada satupun media yang meliput.


Sebuah hall disiapkan dengan suasana temaram dan klasik. Hanya disiapkan 5 buah meja besar dengan bagian tengah yang luas. Alunan musik mulai bermain dan Alessandro menengadahkan tangannya ke arah Bianca, mengajak wanita yang kini telah sah menjadi istrinya untuk berdansa.


Bianca tersenyum dan meletakkan tangannya di telapak tangan Alessandro. Mereka menuju bagian tengah hall dan mulai berayun ke kiri dan ke kanan. Alessandro meraih pinggang Bianca dan dengan perlahan mengajaknya kembali berayun.


“Aku mencintaimu,” bisik Alessandro di telinga Bianca, membuat wajah Bianca langsung memerah bagai tomat. Bianca langsung menyembunyikan wajahnya di bahu Alessandro, sehingga dengan mudahya Alessandro mengecup pucuk kepala Bianca.


Beberapa pasangan berdiri dan turut mengikuti alunan musik, termasuk Bruno dan Melanie. Mereka menikmati alunan musik, juga makanan mewah yang terhidang di atas meja.


**


Hari ini menjadi hari yang begitu spesial bagi Alessandro dan Bianca. Mereka bisa menikmati hari bahagia mereka bersama dengan keluarga dan sahabat. Senyum dan tawa seperti tak lepas dari wajah merek sejak pagi.


Hingga kini mereka sudah berada di sebuah penthouse mewah yang memang merupakan milik keluarga Romano. Sebuah penthouse yang terletak di lantai paling atas sebuah apartemen yang berada di pusat kota Roma.


Dengan jendela yang besar, mereka bisa memandang Kota Roma yang dihiasi dengan kerlap kerlip lampu, juga keindahan langit malam yang bertaburkan bintang.


Penthouse ini terasa begitu besar. Saat memasukinya, mereka akan mendapatkan sebuah ruang duduk dengan beberapa rak buku. Di bagian sayap kiri, terletak dapur dan area servis. Sementara di bagian sayap kanan merupakan ruang pribadi yang berisi beberapa kamar tidur, ruang kerja, serta ruang olahraga.


Alessandro menggenggam tangan Bianca dan membawa wanita yang kini telah menjadi istrinya itu ke kamar mereka. Nuansa putih dan cokelat, membuat ruangan terasa begitu hangat. Kamar tidur itu dilengkapi dengan sebuah jendela besar dan tinggi. Di bagian atap juga terdapat jendela kaca membuat kita seakan tidur langsung di bawah langit Roma.


Bianca memutar tubuhnya, melihat ke arah tenpat tidur. Tempat tidur itu telah dihias dengan beberapa boneka cantik dan hiasan berbentuk love. Malam ini, ia akan tidur bersama dengan Alessandro.


Apa kamu kira kamu pantas untuk berada di atas tempat tidurku?


Tiba-tiba saja kalimat itu kembali muncul di pikiran Bianca, membuat dadanya terasa sesak. Tanpa sadar ia memukul dadanya sendiri.


“Sayang, kamu tidak apa-apa?” Alessandro langsung menghampiri Bianca dan memeluknya dari belakang. Alessandro seperti tahu apa yang ada dalam pikiran Bianca dan ia benar-benar menyesali semua perkataan dan perbuatannya dulu pada Bianca. Jika ia bisa mengulang semuanya, maka ia akan menjadikan malam pertama mereka menjadi malam yang indah.


“Maaf, maafkan aku. Aku tahu aku pernah mengatakan hal yang sangat bodoh padamu. Tapi sungguh, aku benar-benar menyesalinya.”


Bianca berbalik dan menangkup wajah Alessandro, “Apa saat ini aku sudah pantas berada di atas tempat tidurmu?”


🌹🌹🌹