
Bianca meminta izin pada Dad Raymond untuk beristirahat di resort kecil di pinggir pantai, milik keluarganya.
Selain rumah yang mereka tempati saat ini, Raymond memang masih mempertahankan resort kecil di tepi pantai yang menjadi tempat kenangannya bersama Amadea untuk terakhir kalinya.
Flashback on
“Dad, aku ingin pergi ke Acquafredda,” ungkap Bianca.
“Bukankah kamu sedang kuliah, Bi?” tanya Raymond.
“Bolehkan aku cuti sebentar, Dad. Ntah mengapa tubuhku terasa lelah sekali.”
Raymond mengerti bahwa tanpa sadar Bianca mengalami keletihan karena ia terus berusaha untuk mengingat memorinya yang hilang. Raymond sebenarnya lebih suka seperti itu, agar Bianca tak mengingat kenangan buruknya bersama Alessandro.
“Dad akan membereskan pekerjaan Dad dulu. Nanti kita akan sama-sama ke sana.”
“Bolehkah aku pergi lebih dulu? Kalau kulihat-lihat, pekerjaan Daddy akan memakan waktu yang lama,” Bianca mengerucutkan bibirnya melihat semua kertas di atas meja kerja Dad Raymond.
Raymond terkekeh dan mengelus kepala Bianca, “Baiklah. Tapi Dad akan meminta Gio mengantarmu. Dad tidak mau kamu pergi sendiri ke sana,” Bianca pun tersenyum dan mengangguk.
Flashback off
Garis pantai yang dikelilingi tebing terjal menjadi daya tarik utama dari pantai Acquafredda di Maratea. Dengan pasir berwarna abu-abu gelap serta hamparan laut biru yang memesona membuat tempat ini sering dijadikan sebagai lokasi pengambilan foto pernikahan banyak pasangan dari seluruh negara di Eropa.
Setelah memakan waktu hampir 2 jam perjalanan, Bianca sampai di resort milik keluarganya. Resort itu tidak terlalu besar, namun sangat nyaman. Terdapat hanya 3 kamar, yakni kamar Raymond, kamar Bianca dan kamar tamu, dengan kamar mandi pribadi. Dilengkapi dengan ruang tamu kecil, dapur, dan sebuah ruang keluarga yang langsung menghadap ke pantai.
“Istirahatlah Bi,” kata Gio sambil mengeluarkan koper milik Bianca dari bagasi.
“Biar aku saja, kak,” Bianca yang melihat Gio membawa kopernya pun segera mengambil alih. Bianca tahu Gio lelah menyetir. Ia sangat berterima kasih pada Gio karena telah mengantarnya ke resort tanpa mengeluh sama sekali, padahal saat ini pekerjaannya sedang banyak karena Dad Raymond sedang berusaha untuk merintis perusahaan yang baru.
“Kak, kakak menginap dulu ya. Besok baru kembali ke Milan,” pinta Bianca.
Gio tersenyum, “Baiklah,” Gio masuk ke dalam kamar tamu dan mengistirahatkan dirinya di sana. Sebelum Bianca ke sana, Raymond sudah memberitahu penjaga resort, yang merupakan penduduk setempat, untuk membersihkan villa tersebut sehingga mereka bisa langsung menggunakannya.
Bianca duduk di kursi teras belakang yang langsung menghadap ke arah pantai. Ia memandang lurus ke arah ombak yang bergulung dan angin yang bertiup cukup kencang. Ia sudah mengambil selembar selimut untuk menutupi bagian perut hingga ke kaki. Bianca memegang perutnya dan mulai mengelusnya.
“Mommy akan menjagamu sayang. Meskipun kamu adalah anaknya, tapi Mommy tak akan membencimu, ataupun menyakitimu. Ini salahnya, bukan salahmu, Mommy akan mencoba jujur pada Grandpa nanti, tapi tidak sekarang,” Bianca memejamkan matanya, san tanpa ia sadari ia tertidur.
“Bi, bangun. Kamu harus makan. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu,” Bianca mengerjapkan matanya kala mendengar suara Gio yang membangunkannya.
“jam berapa ini, Kak?” tanya Bianca.
“Jam 7 malam. Sebaiknya kamu masuk,” Bianca akhirnya masuk karena hawa dingin sudah mulai menusuk ke dalam kulitnya. Ia langsung berjalan ke arah meja makan dan menikmati makanan yang telah disiapkan oleh Gio.
**
Mata Aurora seketika berbinar sambil memandang testpack yang ada di tangannya. Ia tersenyum penuh arti sambil meletakkan testpack itu di atas wastafel.
Dengan testpack itu, ia akan kembali menjerat Alessandro. Ia segera membersihkan diri, kemudian menggunakan pakaian yang berkesan seksi dan anggun untuk menemui Alesaandro di perusahaan Romano.
Flashback on
“Kamu benar-benar luar biasa Juan.”
“Kamu juga, Ra,” Juan memiringkan tubuhnya menghadap Aurora dan mulai kembali memainkan jari-jarinya di atas tubuh Aurora.
“Hmmm … sepertinya kamu menginginkannya lagi,” ungkap Aurora.
“Aku tidak akan pernah puas. Aku akan selalu ingin lagi dan lagi,” dengan cepat Juan berdiri dan mengajak Aurora juga berdiri. Tubuh mereka sama-sama polos.
“Kita akan ke mana?” tanya Aurora.
“Aku akan memberikan sensasi yang berbeda dalam hubungan kita.”
Juan mengungkung Aurora di dinding. Ia kembali memberikan ciuman panas pada Aurora, kemudian mengangkat salah satu kaki Aurora dan mulai memasukkan kembali senjatanya ke dalam inti Aurora.
Juan menghentak perlahan, masih sambil melummat bibir Aurora. Dessahan dan errangan keluar dari bibir Aurora, membuat gairrah dan hassrat Juan semakin meninggi. Ia menggendong Aurora dan merebahkannya di sebuah sofa yang berada di balkon.
“Kamu akan melakukannya di sini?” tanya Aurora dan Juan menganggukkan kepala sekaligus berdehem.
“T-tapi ini akan terlihat orang lain,” Aurora merasa takut. Ia tidak ingin image nya sebagai public figure hancur karena Juan. Jika memang harus hancur, itu hanya boleh karena ia mengandung anak dari Alessandro Romano.
“Tak akan ada yang melihat kita. Nikmati saja permainanku, bukankah kamu belum pernah bermain seperti ini?” Juan kembali menghentakkan miliknya ke dalam milik Aurora. Semakin lama permainan mereka semakin panas, Juan menggerakkan pinggulnya semakin cepat hingga akhirnya mereka mencapai puncaknya bersamaan.
Aurora yang baru pertama kali merasakan permainan di area balkon seketika tersenyum. Ia benar-benar menyukai permainan Juan dan sangat di luar batas pikirannya.
Juan menarik tangan Aurora dan mengajaknya masuk ke dalam kamar. Mereka berbaring bersama karena kelelahan. Juan memeluk Aurora yang masih polos tanpa sehelai benang pun, “Sepertinya tubuhmu sudah menjadi candu bagiku.”
Keesokan paginya, tiba-tiba saja ia merasakan mual yang sangat hebat.
Hoekk hoekkk hoekkk …
Ia mengeluarkan isi perutnya di wastafel. Juan memijat tengkuk Aurora, “Kamu sakit? Wajahmu kelihatan sedikit pucat.”
“Aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya masuk angin karena kita bermain di luar semalam. Aku juga tidak makan malam,”
“Kalau begitu beristirahatlah. Aku harus pergi menemui managerku untuk membahas rencana kerjaku,” tanpa rasa malu, Juan berjalan ke arah shower dan membasuh tubuhnya. Setelah itu ia pergi meninggalkan Aurora yang tengah berbaring di tempat tidur.
Flashback off
Aurora masuk ke dalam perusahaan Romano dengan langkah yang sangat percaya diri. Di wajahnya terukir senyuman yang tiada henti karena merasa sebentar lagi ia akan menyandang gelar Nyonya Romano.
Semua mata melihat ke arah Aurora dengan tatapan kagum, membuat Aurora semakin merasa bangga atas dirinya.
“Aku ingin menemui Alessandro,” Aurora menyebut nama Alessandro seakan dirinya memiliki hubungan yang dekat.
Karena terlalu takjub dengan kecantikan san keanggunan Aurora, sang resepsionis langsung mempersilakan Aurora untuk naik ke atas, tempat ruangan Alessandro berada.
Aurora melewati Javer begitu saja saat ia keluar dari lift. Ia langsung berjalan menuju ruangan di mana Alessandro berada. Javer yang merasa akan ada sesuatu yang tidak beres, langsung berbalik dan menuju ruangan Alessandro.
“Al!”