Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#24



Bianca merasakan dingin yang amat menusuk kulitnya. Kepalanya terasa pusing. Hal terakhir yang diingatnya adalah ia sedang menunggu taksi online. Ia mengerjapkan matanya melihat ke sekeliling, hawa dingin masih terus menusuk tubuhnya.


Ia mengambil tas miliknya yang masih tersampir di tubuhnya, tapi ia sama sekali tak menemukan ponselnya. Bianca menatap ke sekeliling.


Lemari pendingin? - batin Bianca.


Bianca diam dan berpikir. Ia harus keluar dari sana, tapi cold storage tidak bisa dibuka dari dalam jika sudah terkunci.


30 menit berlalu, tubuh Bianca semakin terasa dingin dan dinginnya menusuk tulang. Bianca bisa melihat bahwa yang ada di dalam sana adalah berbagai jenis ikan dan makanan laut, itu berarti suhunya harus sangat rendah.


Ia mulai menggerakkan tubuhnya agar hawa panas tetap mengalir sehingga tubuhnya tidak terasa kaku. Namun, dingin dari cold storage tersebut semakin menyakiti dirinya.


“Dad, maafkan Bian. Apa ini sudah waktunya Bian untuk menyusul Mommy?” ucap Bianca pelan. ia duduk diam sambil merasakan dinginnya ruangan tersebut. Ia mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat jam, sudah berlalu 1,5 jam.


Kepala Bianca semakin lama semakin terasa pusing. Ia menggosok-gosokkan keduan tangannya, meniupnya, menggosoknya lagi, hingga berulang kali. Matanya menatap ke arah pintu, berharap segera terbuka. Namun, yang ada hanya pandangannya yang semakin lama semakin kabur.


**


“Apa kamu sudah menemukan titik pastinya, Gi?”


“Ada di sini,” Gio memperhatikan ponselnya dan mengarahkan pandangannya ke sebuah gudang dengan lampu menyala.


Raymond dan Gio mengintip dari balik dinding gudang yang rusak dan berlubang, “jumlah mereka hanya 3 orang. Kita bisa menghabisi mereka sekarang.”


“Jangan gegabah dulu, Tuan. Mereka tidak bergerak, sedangkan detektor di ponsel Nona Bianca bergerak. Itu tandanya ada orang lain selain mereka.”


“Tapi sebenarnya siapa mereka dan apa maksud mereka menculik Bian?” geram Raymond.


“Kita tunggu sebentar lagi, Tuan. Detektor di ponsel Nona Bianca bergerak ke ruangan mereka ini,” Raymond akhirnya menuruti perkataan Gio. Ia tak ingin salah langkah dan membuat putrinya berada dalam bahaya.


Suara langkah mulai terdengar dari balik dinding tempat Raymond dan Gio mengintip.


Prok prok prok …


“Kalian memang benar-benar hebat. Tidak salah aku memilih kalian untuk melakukan semua ini.”


Ara? - batin Raymond.


“Ini semua karena Al. Karena kedua orang itu, putriku tersakiti,” gumam Raymond sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Apa yang akan kita lakukan, Tuan?” tanya Gio.


“Kita akan melawan mereka. Tapi kita tunggu mereka mengatakan di mana posisi mereka menyembunyikan Bian. Aku tidak ingin kita membuang-buang waktu.”


“Baik, Tuan. Saya mengerti.”


Di dalam gudang,


“Di mana gadis kecil itu?” tanya Aurora.


“Dia aman Nona. Mungkin saat ini dia perlahan sudah mulai kehilangan kesadaran. Anda akan segera mendengar kabar mengenai kematiannya,” kata salah satu orang suruhan Aurora.


“Bagus, pekerjaan kalian sungguh sangat memuaskan. Aku akan segera mentransfer sisanya saat berita itu kudengar. Ingat, jangan sampai hal ini terkait denganku,” ujar Aurora.


“Siap, Nona. Hei kamu! Cepat periksa dia di lemari pendingin, aku yakin dia sudah mati beku sekarang,” tawa salah satu orang suruhan Aurora yang menjadi otak rencana ini.


Lemari pendingin? Sialannn!!! - batin Raymond.


“Aurora Frederica!!” teriakan Raymond seketika mengagetkan Aurora dan para orang suruhannya. Matanya seketika membulat melihat kehadiran Raymond.


“Kalian bereskan mereka!” perintah Aurora dan ia segera pergi dari sana.


Di dalam ruangan tersebut terdapat 7 orang suruhan Aurora. Mereka menggunakan pakaian berwarna hitam hitam.


“Gi, kamu segera cari dan bebaskan Bian. Aku akan menangani mereka di sini,” perintah Raymond.


“T-tapi Tuan, mereka banyak.”


“Sekarang kondisi Bian lebih penting, cepat lakukan!”


Dengan langkah berat, Gio terpaksa meninggalkan Raymond bersama 7 orang pria yang berbadan cukup besar. Ia langsung menghubungi salah satu sahabatnya untuk datang ke lokasi, kemudian ia membuka ponsel dan mengecek lokasi lemari pendingin dalam gudang tersebut.


Raymond menatap sekeliling. Ia bisa berkelahi, bahkan ia yang pertama kali mengajarkan ilmu bela diri kepada Bianca.


“Kamu kira bisa melawan kami dengan mudah? Sepertinya ada yang sok jagoan,” salah seorang pria tertawa melihat Raymond berdiri sendirian di sana. Ia memberi tanda pada salah seorang anak buahnya untuk pergi menuju lemari pendingin dan mengejar Gio.


Sialll!!! - gerutu Raymond.


**


Gio menemukan titik lokasi lemari pendingin tersebut dan ia langsung berlari dengan cepat ke sana. Tanpa banyak bicara ia langsung membuka pintu itu. Matanya melihat Bianca yang sudah tergeletak dengan tubuh yang hampir diselimuti butiran es.


Ia langsung masuk dan menarik Bianca keluar. Ia tak punya waktu untuk membuat Bianca sadar terlebih dahulu. Baru saja ia sampai di pintu, salah satu orang suruhan mendekat dan ingin menutup pintu kembali dan berencana mengunci mereka berdua di dalam. Gio langsung meletakkan Bianca dan mendorong orang tersebut.


“Aku tak akan membiarkanmu mengeluarkannya dari sana sebelum kami memastikannya mati … atau kamu mau ikut masuk ke dalam dan menikmati kematianmu juga?” Senyum sinis terukir di wajah pria itu.


Gio mulai bersiap. Ia bukanlah laki-laki lemah. Kalau hanya melawan 1 orang seperti ini, ia masih bisa. Gio melihat ke arah Bianca. Saat ini Bianca sudah berada di luar lemari pendingin. Ia sudah mengecek tadi Bianca masih bernafas. Ia berharap suhu tubuh Bianca bisa kembali naik, sementara dia mengatasi pria besar di hadapannya ini.


Gio tak ingin menghabiskan tenaganya, karena ia masih harus membantu atasannya yang tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini. Dengan tatapan bengis laki-laki itu mengarahkan bogem mentahnya pada Gio. Ia langsung mengelak ke arah kanan dan memutar tubuhnya ke belakang pria itu. Dengan cepat ia sedikit melompat dan memusatkan semua tenaga pada lengannya.


Brughhh!!!


Sebuah pukulan tepat di leher sebelah kiri langsung membuat pria itu terjatuh. Beberapa titik di leher memiliki pembuluh darah yang dinamakan carotid artery. Fungsinya adalah untuk mendistribusikan oksigen ke otak.


Awalnya Gio ingin langsung mengarahkan pukulannya pada bagian carotid sinus, yakni percabangan pembuluh darah di samping leher. Kerusakan bagian itu akan memicu kelumpuhan dan masalah saraf, bahkan kematian seketika.


Tanpa perlu banyak tenaga, pria itu terjatuh. Gio langsung mendekat ke arah Bianca, “Bi …. “


Mata Bianca mengerjap pelan, pandangannya masih kabur, tapi ia mengenal suara itu, “Kak Gio.”


“Sadarlah. Ayo, kita harus segera membantu Daddymu,” mendengar kata Daddy, Bianca menguatkan dirinya. Ia berjalan dengan dibantu oleh Gio menuju ruangan besar dalam gudang itu.


Bughhh brakkk bughhh !!


Mata Bianca langsung terbuka lebar saat melihat Dad Raymond seorang diri melawan 6 orang yang bertubuh besar. Wajah Raymond sudah mengalami lebam dan memar. Bianca langsung melihat ke arah Gio dan meminta bantuan asisten pribadi Daddynya itu.


Tubuh Bianca masih terasa lemah, tangan dan kakinya masih terasa sedikit kaku karena terlalu lama berada di dalam lemari pendingin. Ia mencoba menggerakkan tangan kaki serta tubuhnya agar suhu tubuhnya meningkat dan bisa membantu Dad Raymond.


Bughh!!!


Baru saja ia mau melangkah, ia merasakan sakit di kepalanya dan sesuatu yang hangat terasa mengalir. Ia menoleh ke belakang dan sekali lagi pukulan itu mengarah padanya.


🌹🌹🌹