
“Aurora?!”
“Juan?” Aurora tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya ketika melihat Juan berada di rumah Isacc dan Diane.
“Apa kalian saling mengenal?” tanya Diane yang melihat bagaimana pertemuan keduanya.
“Juan adalah putraku,” lanjut Diane.
Setelah pertemuan yang tak terduga itu, kini mereka duduk bersama di sebuah meja makan yang terbuat dari kayu. Isacc berada di kursi utama, Diane dan Juan berhadapan, sementara Aurora duduk di sebelah Diane.
“Kamu tahu, sayang … ternyata mereka sudah saling mengenal,” cerita Diane pada suaminya.
“Ternyata dunia begitu sempit,” kata Isacc sambil tertawa.
Sementara itu Aurora menikmati santapan makan malamnya tanpa bersuara. Ia sadar sedari tadi Juan tak berhenti memperhatikannya. Jantung Aurora berdegup kencang kala melihat tatapan Juan saat pertama kali melihatnya, dan ia tak bisa mengartikan maksud tatapan itu.
“Aunty, Uncle, aku sudah selesai. Sebaiknya aku pulang sekarang. Aku tak ingin kemalaman,” Aurora berusaha menghindari Juan. Ia juga tak ingin Juan terbebani dengan kehadirannya.
“Juan akan mengantarkanmu, sayang.”
“Tidak perlu, Aunty. Terima kasih. Aku akan pulang sendiri.”
“Aku akan mengantarkannya, tidak baik seorang wanita pulang seorang diri saat langit sudah gelap,” ujar Juan.
Sebenarnya Aurora tak masalah jika harus pulang seorang diri karena di Desa Flam ia merasa sangat aman. Lagipula jarak dari kediaman Isacc dan Diane tidak terlalu jauh dengan rumahnya.
“Sampai besok, sayang,” Diane mengecup pipi kiri dan kanan Aurora, kemudian Aurora juga melambaikan tangan ke arah Isacc.
Tak ada pembicaraan di antara mereka berdua, hanya keheningan yang menjadi teman mereka.
“Terima kasih,” Aurora tersenyum kemudian berniat untuk masuk ke dalam rumah.
“Boleh aku mengelus perutmu?” tanya Juan tiba-tiba. Ia juga tak tahu mengapa ia ingin sekali mengelus perut wanita itu.
“Masuklah dulu, aku akan membuatkanmu secangkir kopi,” Aurora berjalan masuk dan membuka pintu rumahnya. Ia berjalan masuk ke dalam dapur untuk membuatkan Juan secangkir kopi.
Juan masuk ke dalam rumah yang tidak terlau besar itu, namun terasa nyaman. Ia duduk di sebuah kursi kayu dengan bantalan yang cukup empuk. Dari arah dapur, Aurora datang sambil membawakan Juan secangkir kopi hangat yang masih mengeluarkan asapnya, “minumlah.”
Juan menyesap kopi yang disuguhkan oleh Aurora, kemudian ia kembali berpaling melihat ke arah Aurora yang duduk di ujung yang lain dari kursi yang ia duduki, “Apa aku boleh menyentuhnya?”
Aurora menganggukkan kepalanya. Ia tak mungkin melarang Juan karena memang Juan-lah ayah dari bayi yang ada dalam kandungannya. Meskipun mereka tidak bisa bersatu, setidaknya ia tak ingin membenci Juan, karena semua ini memang kesalahannya.
Juan tersenyum ketika merasakan satu tendangan dari dalam perut Aurora. Hatinya terasa hangat dan bahagia hingga saat ini ia ingin sekali memeluk Aurora.
“Ia menendangku,” katanya sekali lagi dengan bahagia. Melihat binar di mata Juan, apakah Aurora boleh berharap bahwa Juan tak lagi membencinya?
**
“ehhmmm …,” Bianca menggeliatkan tubuhnya, dan sedikit meringis kala merasakan sesuatu yang nyeri di bagian perut bagian bawah.
“Bi, jangan terlalu banyak bergerak dulu. Kamu baru saja menyelesaikan operasi,” Raymond berusaha menjelaskan.
“Operasi? Mana bayiku, Dad?” Bianca seperti terserang panik tiba-tiba ketika merasakan perutnya sudah tidak terlalu besar, ada yang menghilang dari sana. Ada rasa ketakutan di dalam dirinya kalau ia sampai kehilangan bayinya.
“Tenanglah sayang, bayimu ada di sana,” perkataan Dad Raymond membuat Bianca bernafas dengan lega. Ia tak tahu bagaimana jika ia sampai kehilangan bayinya. Ia sudah berusaha menjaga bayinya, tapi kejadian siang ini ketika ia terpeleset benar-benar tak ia sangka karena ia bukan terjatuh di kamar mandi, melainkan karena salah menginjak posisi keset di depan kamar mandi.
Alessandro yang juga sudah berada di sebelahnya, langsung mencium kening Bianca, untuk menenangkan istrinya itu.
“Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk cucuku itu!” tanya Raymond. Ia sedikit merasa aneh saat menyebut kata cucu di usianya yang masih kepala 3.
“Cord Cullen Romano,” sebut Alessandro dengan tegas.
“Hei, mengapa kamu tidak memasukkan namaku di dalamnya?” tanya Raymond dengan kesal.
“Namamu bagian mana yang ingin dimasukkan?” tanya Alessandro sambil mencebik.
“Ray? mond? Costa?” Raymond menyebut semua suku kata dari namanya.
“Ishhh … aku sudah mengambil 1 huruf darimu, C!” terang Alessandro, padahal ia hanya menjawab asal. Ia menggunakan huruf C untuk nama putranya, untuk melanjutkan alphabet yang tercipta dalam keluarga mereka … A for Alessandro, B for Bianca, dan C for Cord.
“Baiklah, baiklah. Kali ini aku memaafkanmu. Tidak masalah kamu mengambil 1 huruf dari namaku. Tapi nanti untuk anak-anakmu selanjutnya, aku harus turut andil dalam pemberian nama,” ungkap Raymond sedikit kesal.
Bianca yang sedari tadi melihat perdebatan antara Dad Raymond dengan Alessandro, hanya bisa tersenyum. 2 pria yang sangat ia sayangi berada di sampingnya. Dan kini, ia memiliki 1 pria lagi yang akan ia sayangi dan tentu menyayanginya.
**
Keesokan pagi, Aurora seperti biasa akan bangun pagi-pagi dan langsung membersihkan diri. Kini ia terbiasa bangun pagi karena bayi di dalam kandungannya selalu membangunkannya dengan tendangan di pagi hari, membuatnya tak bisa berlama-lama berbaring.
“Apa yang ingin kamu makan hari ini, sayang?” tanya Aurora sambil mengelus perutnya. Aurora membuka kulkasnya dan melihat beberapa sayuran dan tomat.
“Bagaimana kalau kita membuat salad saja pagi ini ya. Setelah itu kita akan menghirup udara pagi yang begitu menyejukkan,” Aurora mengeluarkan semua bahan-bahan yang ia perlukan ke atas meja, kemudian dengan perlahan ia memasukkannya ke dalam sebuah mangkok transparan.
Setelah memberikan dressing pada saladnya, ia meletakkannya di atas meja, kemudian keluar menuju taman belakang. Ia mengambil alat penyiram tanaman, kemudian mengisinya dengan air. Ia menyirami satu persatu tanaman yang akan menjadi cikal bakal pohon buah-buahan miliknya.
“Selesai! Sekarang mari kita nikmati sarapan kita sambil duduk menikmati hijaunya taman kita,” Aurora mengambil mangkok dan langsung melahapnya di sebuah sofa di teras belakang rumahnya.
“Kamu tahu sayang, Mommy sangat menikmati kehidupan seperti ini. Mommy harap nanti kamu bisa mengerti kalau Mom mungkin tidak bisa menurutu semua permintaanmu, namun yang pasti kamu harus tahu bahwa Mom akan selalu menyayangimu dan berada di sisimu … tidak seperti orang tua Mom.”
Sementara itu, Juan saat ini sedang berdiri di depan rumah Aurora. Ia sangat berharap Aurora keluar dan melihatnya, kemudian mengajaknya masuk. Saat semalam ia merasakan bagaimana anaknya berinteraksi dengan dirinya, ada perasaan yang tidak bisa ia jabarkan.
“Juan, kamu di sini?”
🌹🌹🌹