
Bianca memantapkan hatinya. Hari ini ia harus bertemu dengan Alessandro. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore dan ia bermaksud menunggu Alessandro di apartemennya. Ia pun berangkat ke sana setelah berbohong pada Dad Raymond bahwa ia akan menginap di rumah Melanie, untuk mengerjakan tugas.
Lobby apartemen terasa begitu menyesakkan bagi Bianca, tidak … apartemen ini yang menyesakkan. Ini adalah tempat di mana ia belajar, belajar bagaimana menghancurkan perusahaan Dad Raymond.
Bianca melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, sudah pukul 7, tapi belum nampak tanda-tanda kedatangan Alessandro. Ia tahu Alessandro memang jarang pulang ke apartemen, hanya kalau ia banyak pekerjaan saja.
Ia memutar otaknya, membuka ponsel dan mulai melakukan pencarian di dunia maya dengan mbah serba tahu yang terkenal.
Tringgg ….
Ia menemukan alamat tempat tinggal Alessandro Romano yang sebenarnya. Ia segera menghentikan taksi yang berada di apartemen dan menuju ke kediaman keluarga Romano.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, ia sampai di sebuah rumah besar, sangat besar. Ia membayar taksi itu kemudian turun. Bianca menghampiri pos security yang berada persis di samping pagar besar dan tinggi.
“Permisi Pak, saya ingin bertemu dengan Tuan Alessandro Romano,” Bianca mengucapkan nama Al dengan lengkap agar tidak dikira salah alamat.
“Apa sudah ada janji?”
“Katakan saja, Bianca Costa ingin bertemu.”
Security itu melakukan panggilan ke dalam rumah karena jarak dari pintu pagar ke dalam cukup jauh. Tak lama, security itu akhirnya membukakan pintu kecil yang ada di pagar.
“Silakan nona, Tuan menunggu anda di dalam.”
Bianca sedikit bernafas lega karena Al masih mau menerika kedatangannya. Ia berjalan masuk menuju pintu utama rumah tersebut yang sudah dibukakan oleh seorang pelayan.
“Silakan masuk nona, Tuan ada di ruang kerjanya,” pelayan itu mengantarkan Bianca menuju ruang kerja yang terletak di lantai 2 rumah tersebut. Bianca melihat betapa mewah dan megahnya kediaman Romano, hanya saja terasa sepi dan kosong, sama seperti rumahnya saat ini.
Tokkk tokkk tokkk …
“Masuk,” Bianca sangat tahu bahwa itu adalah suara Alessandro. Sejak mengenal Alessandro, baru kali ini ia mendengar suara dingin dan ketus dari pria itu.
Dengan langkah pelan, Bianca memasuki ruang kerja itu. Tak ada tawaran untuk duduk ataupun segelas minuman untuknya, layaknya seorang tamu. Bianca bisa melihat wajah dingin dan tatapan tak menyenangkan dari Alessandro, tatapan yang seakan mengejeknya.
“Datang ke sini hanya untuk memintaku mengembalikan semua milik Raymond Costa,” Alessandro berkata-kata tanpa melihat ke arah Bianca yang masih berdiri tak jauh dari meja kerja Alessandro.
Ternyata ia tahu apa maksud dan tujuanku kemari … atau memang dia sudah merencanakan semua ini? - batin Bianca.
Bianca menarik nafasnya, ia harus kuat. Bukankah semua ini terjadi karena kesalahannya, maka ia harus melakukan sesuatu untuk mengembalikannya ke tempat semula.
“Apa kamu sengaja melakukan ini?” tanya Bianca.
“Gadis kecil sepertimu tak perlu tahu hal itu, sebaiknya kamu belajar saja,” Alessandro seakan mengejeknya, membuat hati Bianca memanas. Namun, ia berusaha menahannya karena apa yang ia lakukan kali ini adalah untuk Dad Raymond.
“Bisakah kamu mengembalikan perusahaan Dad Raymond?” pertanyaan Bianca langsung membuat Alessandro tertawa sinis dengan tatapan yang tetap dingin.
“Aku tak pernah meminjam perusahaan itu, jadi tak ada yang perlu kukembalikan. Pulanglah, karena aku tak akan pernah melakukan apapun.”
Bianca terdiam sesaat, tak mungkin ia pulang dengan tangan kosong. Melihat keadaan Dad Raymond yang begitu terpuruk, sangat menyakiti hatinya. Apalagi itu semua adalah kesalahannya, tanggung jawabnya.
“Aku akan melakukan apapun, tapi tolong kembalikan perusahaan Costa seperti semula. Ini kesalahanku, aku yang akan bertanggung jawab,” Bianca mengepalkan tangannya, menguatkan dirinya sendiri.
“Melakukan apapun? Memangnya apa yang bisa anak kecil sepertimu lakukan untukku?” Alessandro tersenyum sinis, seakan menganggap remeh dirinya.
“Aku akan bekerja untukmu, kamu tidak perlu menggajiku.”
Sekali lagi Alessandro tertawa dengan tatapan yang mengejeknya, “Bekerja? Kamu … bekerja untukku? Sebaiknya tidak, atau kamu sengaja bekerja untukku agar perusahaanku turut hancur?”
Bianca mengepalkan tangannya, kini ia benar benar menahan amarahnya. Apa pria di hadapannya ini tidak tahu bahwa apa yang terjadi semua adalah karena dirinya?
Bianca akhirnya ingin pulang, sepertinya tak akan ada gunanya jika ia berlama-lama di sana. Ia memutar tubuhnya dan ingin keluar.
“Apa kamu sudah menyerah? Memang putri seorang Raymond Costa sangat lembek,” Alessandro mengangkat salah satu sudut bibirnya.
Bianca menghentikan langkahnya, “Apa aku masih bisa melakukan sesuatu? Aku sudah mengatakan bahwa aku akan melakukan apapun untuk Dad Raymond.”
Brakkk ….
Alessandro meletakkan dengan kasar setumpuk map di atas meja, “ Ini semua adalah surat kepemilikan perusahaan Costa. Aku juga akan menandatangani surat bahwa aku menyerahkan kembali perusahaan itu, bahkan aku akan bertanggung jawab atas segala biaya dan denda dari Mr. Fujiwara, dengan satu syarat.”
“Katakan,” Bianca menarik nafasnya kemudian membuangnya perlahan.
“Aku ingin tubuhmu jadi bayaran atas Perusahaan Costa.”
Deggghh
“Aku bukan seorang pela cur!!” teriak Bianca.
“Apa kamu merasa dirimu berharga? Bukankah tadi kamu mengatakan akan melakukan apa saja,” Alessandro membalikkan kata-kata Bianca.
“Tapi aku tidak menjual diriku!” kata Bianca ketus.
“Berapa nilai harga dirimu? Apa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kebahagiaan Daddymu itu?” Alessandro mulai memancing emosi dan perasaan Bianca.
Bianca memejamkan matanya, ia tampak berpikir. Menukar miliknya agar Dad Raymond bisa kembali seperti dulu, apa itu sepadan?
“Baiklah, aku menerima tawaranmu,” Bianca menjawabnya dengan pelan.
“Katakan sekali lagi, aku tidak mendengarnya.”
“Aku menerima tawaranmu!” Bianca kembali mengepalkan tangannya.
Alessandro masih diam duduk di kursi di belakang meja kerjanya sambil melihat ke arah Bianca, “Lepas sendiri pakaianmu.”
“Kita akan melakukannya di sini?” tanya Bianca.
“Memangnya kamu kira kita akan melakukannya di mana? Apa kamu kira kamu pantas untuk berada di atas tempat tidurku?” Jawab Alessandro dingin.
Bianca kembali memejamkan matanya. Harga dirinya saat ini benar-benar terasa diinjak-injak. Ia ingin menangis tapi ia tak akan melakukannya. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan seorang Alessandro Romano.
“Cepat lepaskan pakaianmu, karena aku tak ingin melakukannya untukmu.”
Dengan cepat Bianca membuka kancing kemejanya juga celana panjangnya, hingga kini ia hanya mengenakan pakaian dalam saja. Ia masih membelakangi Alessandro karena jujur ia merasa malu saat ini.
“Semuanya!!” Sekali lagi Alessandro berteriak memerintah.
Bianca membuang rasa malunya saat ini, ia melepaskan semuanya tanpa sisa. Ia kini berdiri, masih dengan posisi membelakangi Alessandro, dengan tubuh yang benar-benar polos.
“Tidurkan dirimu di sana,” Alessandro menunjuk ke sebuah sofa.
Bianca sudah mulai membuang rasa malunya. Ia menganggap bahwa semua ini akan sepadan. Kebahagiaan Dad Raymond adalah segalanya. Bianca merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Bianca bisa merasakan ada pergerakan di sampingnya, dan ia tetap dengan pendiriannya untuk memejamkan matanya. Dengan kasar Alessandro membuka kedua kaki Bianca. Tanpa pemanasan pula, ia langsung mengarahkan senjata miliknya ke arah inti Bianca.
“Ahhhhh!!!” teriakan kesakitan Bianca sungguh menyayat hati, ketika Alessandro dengan tanpa kasihan memaksa memasukkan senjatanya ke inti milik Bianca. Senjata milik Alessandro sudah siap tempur sejak gadis itu masuk ke dalam ruang kerja. Ntah apa yang membuatnya seperti itu, tapi setiap kali berdekatan dengan Bianca, gairahnya selalu meningkat dan ingin membawa gadis itu ke atas tempat tidurnya.
Bianca mencengkeram pinggir sofa hanya dengan sebelah tangannya, ia berusaha menahan sakit yang teramat sangat di bagian inti miliknya. Ia menggigit bibir bawahnya untuk tidak mengeluarkan suara. Alessandro menghentakkan miliknya lebih dalam lagi ke inti milik Bianca, membuat gadis itu akhirnya tak kuasa menahan air matanya.
Alessandro menahan tubuhnya dengan sebelah tangannya di sebelah wajah Bianca, kemudian dengan sebelah tangannya ia mencengkeram pipi Bianca, “kamu memang tak berharga. Kamu sama saja seperti Raymond Costa, tak berharga sama sekali di mataku!”
Alessandro melakukan hingga dua kali pada Bianca. Sekali di atas sofa, dan sekali lagi ia melakukannya di atas lantai kayu. Ia benar-benar menganggap Bianca tak ada harganya.
Tak ada des*ahan ataupun era*ngan yang keluar dari mulut Bianca. Ia benar-benar menutup rapat bibirnya. Hanya sekali matanya terbuka, yakni saat Alessandro pertama kali menghentakkan miliknya masuk ke dalam inti miliknya.
Setelah selesai, ia langsung mengusir Bianca dari ruang kerjanya, “Seperti janjiku, kamu bisa membawa semua berkas-berkas itu.”
🌹🌹🌹