Love My Enemy’S Daughter

Love My Enemy’S Daughter
#46



Kesehatan Aurora semakin hari semakin membaik. Riana selalu menjaganya dan tidak pernah pergi dari sisi Aurora kecuali jika ia harus pergi membeli makanan atau mengambil pakaian ganti di apartemennya. Riana hanya meninggalkan Aurora ketika wanita itu tertidur.


Juan tidak pernah terlihat datang mengunjungi Aurora, namun semua biaya perawatan Aurora selalu dibayarkan oleh pria itu. Bagaimanapun, Riana sangat berterima kasih pada Juan karena masih mau membantunya.


“Ri,” panggil Aurora yang kini sudah terlihat jauh lebih baik daripada saat ia pertama kali datang ke rumah sakit.


“Iya Ra, apa kamu membutuhkan sesuatu?” tanya Riana.


Aurora berusaha bangkit dari tidurnya. Riana membantu Aurora dan meletakkan beberapa bantal di belakang punggungnya.


“Kapan aku bisa keluar dari sini?” tanya Aurora.


“Aku belum tahu, tapi aku akan menanyakannya. Apa kamu sudah merasa lebih baik?” Aurora menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.


“Ri, bantu aku menjual apartemenku yang sekarang.”


“Lalu kamu mau tinggal di mana, ra?” tanya Riana.


“Carikan aku sebuah rumah di pedesaan Norwegia. Aku dengar di sana alamnya sangat cantik. Aku ingin tinggal di sana,” kata Aurora dengan pelan.


“Apa kamu yakin? Kamu akan meninggalkan dunia keartisanmu?” tanya Riana lagi. Ia harus bertanya dengan jelas pada Aurora agar Aurora tak menyesali pilihannya.


“Sangat yakin. Aku ingin segera. Tak perlu rumah yang terlalu besar.”


“Baiklah, aku akan melakukannya untukmu,” Yang pertama Riana lakukan adalah menemui dokter dan menanyakan kapan Aurora diperbolehkan untuk pulang. Setelahnya, ia menemui sebuah agent property untuk menitipkan penjualan apartemen milik Aurora.


Riana bekerja dengan cepat. Ia membereskan barang-barang milik Aurora dan memindahkannya ke apartemen miliknya. Aurora juga berpesan padanya untuk menjual semua tas, sepatu, serta pakaian branded miliknya.


**


Hari ini Alessandro sangat bersemangat karena ia akan menemani Bianca mengunjungi dokter kandungan. Bahkan, Raymond mengalah padanya sehingga ia bisa pergi hanya berdua dengan Bianca.


Mereka berdua kini tengah berada di ruang tunggu Dokter Gabby. Alessandro sengaja mengganti dokter kandungan Bianca dengan Dokter Gabby karena Alessandro sangat mempercayainya. Sementara Bianca tak menentangnya, ia berpikir semua dokter kandungan akan sama saja.


“Nyonya Romano,” wajah Bianca terasa memerah ketika seorang perawat memanggil dirinya dengan sebutan Nyonya Romano. Alessandro langsung meraih telapak tangannya dan mengandeng Bianca. Semua mata seperti tertuju padanya, membuatnya ingin menenggelamkan diri ke inti bumi yang terdalam.


Di dalam ruang periksa, Dokter Gabby mempersilakan Bianca untuk duduk.


“Nona Bianca Costa,” Dokter Gabby membaca catatan kesehatan pasien yang dimiliki oleh rumah sakit itu, kemudian memintanya untuk berbaring di tempat tidur.


Seorang perawat membantu Bianca dengan menyelimuti bagian kaki hingga pinggul Bianca, kemudian menaikkan pakaian atas Bianca.


“Apa tadi sudah minum air putih terlebih dahulu?” tanya Dokter Gabby dan dijawab dengan anggukan oleh Bianca.


Dokter Gabby tersenyum kemudian memberikan gel pada alat transducer dan mulai melakukan USG.


“Lihatlah ke layar yang ada di sana,” pinta Dokter Gabby pada Bianca dan juga Alessandro.


“Apa kalian ingin melihat jenis kelaminnya?” tanya Dokter Gabby.


Alessandro terdiam, ia melihat ke arah Bianca yang menggelengkan kepala ke arah Dokter Gabby. Sebenarnya Alessandro sangat penasaran, tapi ia tak mungkin memaksakan kehendaknya pada Bianca.


“Biarlah itu menjadi sebuah kejutan. Lagi pula, laki-laki ataupun perempuan, asalkan ia sehat, aku akan sangat bahagia,” kata Bianca.


“Kamu benar. Anak adalah anugerah Tuhan. Laki-laki ataupun perempuan sama saja. Tapi mungkin jika kalian mengetahuinya terlebih dahulu, kalian bisa mempersiapkan kebutuhan yang sesuai dengan jenis kelaminnya.”


Bianca tetap menggelengkan kepalanya, “Aku akan mencari sesuatu yang netral saja nanti.”


Dokter Gabby pun tidak memaksakan apapun lagi. Ia mencetak beberapa lembar hasil USG, kemudian memberikannya kepada Alessandro. Wajah Alessandro terlihat sangat amat bahagia saat melihatnya. Hal itu disadari oleh Bianca maupun Dokter Gabby.


Dokter Gabby meresepkan beberapa vitamin untuk Bianca dan memintanya kembali untuk pemeriksaan selanjutnya pada bulan depan.


**


Aurora kini telah siap. Ia sudah diizinkan untuk pulang oleh dokter. Riana membantunya mengemasi beberapa barang, dan membantu membawakannya.


“Terima kasih Ri atas semua bantuanmu selama ini. Aku berhutang banyak padamu,” ujar Aurora. Walau bagaimanapun, bagi Aurora, Riana adalah manager sekaligus temannya. Riana tak pernah meninggalkannya meskipun ia dalam keadaan yang terpuruk. Ia sangat bersyukur akan hal itu.


Agent property yang dititipi oleh Riana telah berhasil menjual apartemen milik Aurora. Aurora membagi sebagian hasil penjualan tersebut kepada Riana. Ia juga meminta pada Riana untuk mengembalikan uang Juan yang telah terpakai saat ia berada di rumah sakit.


Ia tak ingin bergantung pada siapa-siapa lagi. Kini, ia akan membuka lembaran baru dalam hidupnya, bersama dengan anak yang ada dalam kandungannya. Ia sudah tak memiliki keluarga lagi, tapi setidaknya ia memiliki anak ini.


“Aku akan menemanimu sampai ke bandara, Ra,” kata Riana sambil mendorong kursi roda Aurora.


Tanpa sengaja, Aurora berpapasan dengan Alessandro yang tengah berjalan bersama dengan Bianca. Aurora tersenyum dan merasa hidupnya begitu lucu dan mungkin mempermainkannya. Pria yang ada di hadapannya dulu begitu memujanya, bahkan sampai mudah dibodohi karena terlalu mencintainya. Namun kini, dirinyalah yang bodoh karena berharap pada pria yang tidak akan pernah menoleh padanya lagi.


“Bisakah aku berbicara sebentar denganmu?” tanya Aurora pada Alessandro.


Bianca merasa sedikit kaget ketika melihat Aurora. Meskipun bayi yang ada dalam kandungan Aurora sudah terbukti bukan anak dari Alessandro, tapi wanita dihadapannya ini adalah mantan kekasih Alessandro. Bianca tidak tahu apa yang pernah mereka lakukan dulu dan mungkin saja berita Alessandro yang berhubungan dengan Aurora adalah benar meskipun tidak menghasilkan seorang anak di antara mereka.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Alessandro.


“Aku tidak apa-apa. Berbicaralah dengannya, aku akan pulang terlebih dahulu.”


“Kamu tidak akan kemana-mana seorang diri. Tunggu aku sebentar, aku tidak akan lama,” kata Alessandro.


“Ri, tolong temani Nona Bianca sebentar. Aku akan berbicara dengan Alessandro,” pinta Aurora.


Setelah mereka berada sedikit lebih jauh dari Bianca dan Riana, Alessandro membuka percakapan, “Cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan, aku tak punya banyak waktu.”


Aurora tersenyum …


🌹🌹🌹